Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sinopsis Film

Sinopsis Film: Pembantaian Dukun Santet, Teror Berdarah Tanpa Arah

Men eritakan santri di pesantren yang terjebak dalam konflik masyarakat yang menuduh para dukun santet sebagai penyebab berbagai bencana.

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Player film Pembantaian Dukun Santet. Film ini disutradarai oAzhar Kinoi Lubis, yang mengisahkan santri di pesantren terjebak dalam konflik masyarakat yang menuduh para dukun santet sebagai penyebab berbagai bencana. 

Oleh:  Jeri Wongiyanto 

Pengamat Film Assl Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Rumah produksi Pichouse Films kembali merilis film horor  berjudul "Pembantaian Dukun Santet" yang disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis

"Pembantaian Dukun Santet" mengisahkan Annisa ( Aurora Ribero ) dan Satrio ( Kevin Ardilova ), keduanya santri di pesantren yang terjebak dalam konflik masyarakat yang menuduh para dukun santet sebagai penyebab berbagai bencana.

Tanpa proses hukum yang jelas, mereka dibunuh secara brutal dan mengerikan. Di tengah kekacauan tersebut, pesantren tempat mereka belajar menjadi sasaran teror. Satrio berusaha menyelamatkan diri dan orang tuanya sambil mengungkap siapa dalang di balik teror tersebut.

Terfokus pada  sekelompok anak muda yang menapaki jalan keimanan justru terseret ke kegelapan psikologis. Para tokoh agama difitnah lalu dibantai dengan sadis, memicu kengerian supranatural. Penonton akan merasakan ketegangan mencekam dan teror mendadak yang menghentak jantung!

Sutradara Azhar sebenarnya sudah sukses dengan teror  tempo cepat melalui jumpscare. Momentum kemunculan makhluk tak kasat mata, diatur dengan baik. Bisa  muncul di saat yang tak terduga dan sukses membuat penonton terkejut serta merinding. Sayangnya kesuksesan ini tidak cukup menutupi banyak kelemahan yang sebenarnya sangat mendasar untuk sebuah film.

Walau pun banyak adegan sadis yang disajikan plus elemen kekerasan yang terasa berlebihan, tak membuat film ini menjadi kuat. Justru terkesan hanya menjual visual horor, jumpscare dan darah  semata, tanpa peduli 

narasi dalam bercerita. Skenarionya lemah, banyak pertanyaan yang tidak terjawab akan dibawa pulang penonton. 

Yang patut dipuja adalah akting Aurora yang tampil maksimal. Penghayatan dan kharismanya sangat kuat, tapi karena alur cerita yang lemah dan tidak jelas, sebagai tokoh penyelamat dari semua masalah, karakternya  jadi terasa janggal dan mentah.

Sementara Kevin Ardilova sebagai lawan mainnya, sebenarnya memiliki potensi untuk tampil lebih menonjol. Tetapi  chemistry-nya dengan Aurora Ribero tidak terbangun. Hampir semua karakter terasa tidak punya jiwa. Para santri tidak ada jalinan rasa sebagai sahabat, juga para pengajar antara para  uztad yang menjadi tokoh konflik, tidak ada penggalian hubungan antar tokoh. Semuanya lemah, yang akhirnya tidak membuat penonton bersimpati.

Skenario yang lemah membuat latar belakang kisah dan karakter tokohnya sangat dangkal. Tidak ada informasi yang cukup membuat penonton memahami bagaimana konflik bermula, mengapa fan bagaimana. Film ini seakan berdiri tanpa pondasi yang kuat. 

Dari judulnya penonton akan tertarik, tentang para dukun santet yang dibantai. Tapi justru menyaksikan film ini akan timbul pertanyaan mengapa justru para tokoh agama yang dibantai? mengapa begitu banyak korban yang jadi tergeletak di sana-sini? Judul yang menipu tentunya. Entah apa maksudnya. Cerita yang dibangun berantakan tanpa arah, plot twist mudah ditebak dan sangat klise.

Bagi penggemar horor yang ingin nonton film ini, bolehlah sebagai hiburan teror horor semata, tanpa mutu dan kualitas yang diharapkan.***

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved