Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Musda Golkar Sulsel

Pengamat Politik Unhas Khawatir Musda Golkar Sulsel Diwarnai Konflik Terbuka

Musda Golkar seharusnya menjadi momentum evaluasi dan konsolidasi, bukan sebagai ajang konflik berkepanjangan yang bisa memperlemah partai.

Penulis: Erlan Saputra | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM/Erlan Saputra
MUSDA GOLKAR SULSEL - (kiri ke kanan) Taufan Pawe, Munafri Arifuddin, Kadir Halid, Ilham Arief Sirajuddin, Syamsuddin A Hamid mencuat di bursa pencalonan Musda Golkar Sulsel 2025. Pengamat soroti dinamika internal Partai Golkar Sulsel  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel 2025 diprediksi bakal menjadi ajang pertarungan sengit di internal partai berlambang pohon beringin.

Sejumlah figur kuat disebut-sebut siap bertarung memperebutkan kursi Ketua DPD I Golkar Sulsel

Di tengah persaingan ini, pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Adi Suryadi Culla, memberikan peringatan keras.

Ia menegaskan, Musda Golkar seharusnya menjadi momentum evaluasi dan konsolidasi, bukan sebagai ajang konflik berkepanjangan yang bisa memperlemah partai.

"Inilah yang selama ini melemahkan Golkar, terutama menghadapi konflik internal," kata Adi Suryadi kepada Tribun-Timur, Selasa (11/3/2025).

Baca juga: Musda Golkar Sulsel Diundur Hingga Agustus 2025, Taufan Pawe Beri Ruang Kader Maju

Konflik internal yang terus membayangi Golkar Sulsel dianggap bermula sejak era pasca-reformasi.

Sejarah mencatat, Musda Golkar Sulsel selalu diwarnai ketegangan.

Bahkan tak jarang berujung pada aksi protes dan perpecahan antar faksi.

"Masalah utama Golkar Sulsel bukan hanya persaingan dengan partai lain, tetapi juga kelemahan dalam tata kelola partai. Konflik internal yang tak kunjung selesai justru menjadi faktor yang paling melemahkan partai ini," tegasnya.

Ia menilai bahwa tanpa manajemen organisasi yang kuat, Golkar akan terus terjebak dalam siklus konflik yang berulang. 

Hal ini berdampak langsung pada stabilitas partai di tingkat bawah.

Sebab, perseteruan di level elite selalu menjalar hingga ke pengurus daerah.

"Tidak mungkin partai bisa membangun kekuatan proporsional jika mesin politiknya sendiri lemah akibat konflik," tambahnya.

Menurut Adi Suryadi, salah satu tantangan besar yang harus dihadapi Golkar Sulsel dalam Musda kali ini adalah melakukan evaluasi mendalam terhadap hasil Pemilu 2024 lalu.

Ia menilai, Golkar Sulsel mengalami tekanan besar dari partai-partai papan atas.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved