Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Setahun Terendam Banjir, Warga Malangke dan Malbar Lutra Tuntut Bupati Indah Putri

Kecamatan Malangke dan Malangke Barat (Malbar), Luwu Utara harus terus merasakan terendam banjir selama setahun terakhir.

Penulis: Andi Bunayya Nandini | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM/ANDI BUNAYA
BANJIR LUTRA - Warga terpaksa mendorong kendaraannya yang mogok akibat melintas di Jalan Pattimang, Desa Pattimang, Kecamatan Malangke, Luwu Utara yang terendam banjir pada Jumat (31/1/2025). Mereka terpaksa melintasi jalan yang terendam banjir karena jalan alternatif lain yang sangat jauh.   

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU UTARA - Sudah setahun warga di dua kecamatan di Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan terendam banjir.

Kecamatan Malangke dan Malangke Barat (Malbar), Luwu Utara harus terus merasakan terendam banjir selama setahun terakhir.

Hal itu dikarenakan meluapnya dua sungai yakni Sungai Masamba dan Sungai Baliase Luwu Utara.

Demikian disampaikan Suhardi Dg Pagiling yang merupakan warga Patimang, Kecamatan Malangke, Luwu Utara kepada Tribun-Timur.com saat ditemui, Jumat (31/1/2025).

“Ada dua yang terendam, Desa Pattimang Kecamatan Malangke dan Desa Arusu Kecamatan Malangke Barat. Airnya ini dari dua sungai, Masamba dan Baliase,” kata Suhardi, Jumat (31/1/2025).

Suhardi juga menyampaikan banjir tersebut sudah merendam jalan dan pemukiman warga sejak setahun yang lalu.

“Disini kurang lebih satu tahun (terendam banjir). Anehnya biar tidak hujan disini, (tetap banjir) karena ini kan banjir kiriman,” tambahnya.

Akibatnya, masyarakat yang ingin melintas di Jalan Pattimang atau Jalan Poros Malangke - Masamba yang kini terendam banjir harus menggunakan jasa kendaraan rakitan warga.

Warga menyebutnya Dompeng. Untuk menyeberangi banjir membawa kendaraan roda dua, masyarakat harus membayar jasa dompeng sebesar Rp 30 ribu untuk sebuah motor.

Sementara masyarakat tanpa kendaraan tidak dikenakan biaya atau gratis.

Meski terdapat jalan alternatif lain untuk menuju Masamba, menurut Suhardi jalan tersebut sangat jauh dan salah satu jalan lainnya juga sudah terendam banjir.

Pantauan Tribun-Timur.com, sejumlah warga bahkan nekat melalui banjir tersebut dan mengakibatkan kendaraan mereka mogok.

Hal itu dikarenakan kedalaman air yang bervariasi mulai dari setinggi betis orang dewasa hingga 1 meter.

Namun sekitar setahun, bantuan yang diterima warga dari Pemerintah sangat minim.

“Tidak ada (bantuan), waktu pertama (banjir) ji ada seperti mie dan gula,” ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved