Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Hadiri Haul AGH Muhsin Umar, Arief Rosyid Refleksikan Kekuatan Sejarah Budaya dan Religi Sulsel

Mantan Ketua Umum PB HMI periode 2013-2015, Muhammad Arief Rosyid Hasan, kembali menghidupkan pengalaman religi yang berpadu dengan kekayaan budaya

Editor: Edi Sumardi
DOK TIM M ARIEF ROSYID HASAN
Haul ulama besar AGH Muhsin Umar di Jampue, Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Senin hingga Selasa (13-14/1/2025). 

TRIBUN-TIMUR.COM - Mantan Ketua Umum PB HMI periode 2013-2015, Muhammad Arief Rosyid Hasan, kembali menghidupkan pengalaman religi yang berpadu dengan kekayaan budaya di Jampue, Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Senin hingga Selasa (13-14/1/2025).

 Dalam siaran persnya, Kamis (16/1/2025), Arief berbagi cerita tentang keikutsertaannya dalam haul ulama besar AGH Muhsin Umar, yang diadakan di tanah leluhurnya.

Arief sebelumnya telah mengunjungi Jampue pada September 2024 bersama KH Helmi Ali Yafie, putra dari KH Ali Yafie, seorang akademisi ahli manuskrip, jurnalis, dan aktivis muda peduli budaya.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari roadshow ke lima kabupaten di Sulawesi Selatan, yang didorong oleh rasa penasaran Arief terhadap garis keturunan ibundanya.

Selama perjalanan itu, Arief mendapatkan wawasan berharga berkat bacaan Prof Oman Fathurahman.

“Prof Oman membaca manuskrip yang dimiliki keturunan Syekh Muhammad bin Abdullah Affandi. Manuskrip ini mencatat kebiasaan mangngaji tudang, sebuah tradisi dakwah intelektual pada masa lampau,” kata Arief.

Pada kunjungan terbarunya, Arief turut serta dalam Haul Pertama AGH Muhsin Umar Affandi, keturunan Syekh Muhammad bin Abdullah Affandi. Bertempat di Masjid Jami At-Taqwa, Jampue, acara ini berlangsung khidmat pada Senin (13/1/2025) malam.

Arief bersama para ulama dan masyarakat setempat berbaur, mendoakan mendiang ulama besar tersebut.

“AGH Muhsin Umar adalah seorang ahli fiqh dari Sulawesi Selatan dan keturunan keempat dari Syekh Muhammad Abdullah Affandi, seorang ulama asal Hejaz kelahiran Ismhir, Turki, yang wafat pada abad ke-18,” tutur Arief. S

yekh Muhammad Abdullah Affandi dikenal sebagai murid Syekh As-Syarqawi, mufti Syafi’iyah di Mesir. Setelah tiba di Sulawesi Selatan, ia memperdalam ilmu ruhaniyah di bawah bimbingan Guru Lolo, murid Syekh Zainal Abidin.

Dengan keilmuannya, Syekh Muhammad Abdullah Affandi diangkat menjadi penasihat raja pada masa Fatimah, bergelar Petta Lerang Arung Jampue.

Dari keturunannya lahir ulama-ulama yang menjadi Qadi (hakim agama Islam) secara turun-temurun di Jampue.

Arief berharap tradisi religi dan kekayaan budaya dari Jampue bisa menginspirasi generasi muda.

“Inspirasi hadir ketika kita mengenal sejarah. Saya pribadi awalnya penasaran, bertanya kepada ibu, om, dan kerabat-kerabat, hingga akhirnya sampai di sini. Masya Allah, semoga kita, generasi muda, mampu menjadikan para syekh, kiai, dan anre gurutta sebagai teladan. Teladan dalam intelektualitas dan keteguhan dalam menegakkan ajaran-Nya,” kata Arief.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved