Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kebakaran di Laoni Bone

Mengenal Desa Laoni Bone Sulsel, Kampung Tanpa Akses Darat dan Sulit Air Bersih

Tak ada akses darat ke desa paling ujung Kecamatan Cenrana, Bone ini sebab terpotong oleh aliran Sungai Walangnae. 

Tayang:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Alfian
ist
Potret alat transportasi sehari-hari warga Desa Laoni Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, Sulsel menggunakan katinting 

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Salah satu faktor penunjang ekonomi di suatu daerah adalah akses jalan.

 Sayangnya untuk Kabupaten Bone sendiri, tidak semua desa bisa merasakannya.

Salah satunya, Desa Laoni, desa ini menjadi yang terujung di Kecamatan Cenrana.

Tak ada akses darat ke desa terpencil ini sebab terpotong oleh aliran Sungai Walangnae. 

Satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah dengan menggunakan katinting (perahu khas suku Bugis) saat air sungai sedang pasang. 

Namun, saat surut, desa benar-benar terisolasi dari luar.

Untuk mengakses desa ini biasanya masyarakat menggunakan pos-pos penyeberangan yang banyak terdapat di sepanjang Sungai Walangnae. 

Mereka akan memilih waktu di pagi hari karena waktu itulah saat air sedang pasang. 

Sedangkan menjelang sore sampai malam hari, air akan kembali surut. 

Di samping itu, katinting juga membutuhkan ketelitian dalam mengendalikan sampan ini, karena model yang cukup ramping yang membuat sampan mudah kehilangan keseimbangan. 

Satu katinting setidaknya bisa memuat paling banyak empat sampai lima orang secara berjejer.

Kepala Dusun 1 Desa Laoni, Abdul Halik saat dikonfirmasi tribun-timur, via telfon, Selasa (3/12/2024) bercerira bagaimana desa yang begitu terpencil tersebut hidup dengan caranya sendiri. 

Air bersih bahkan tak bisa ditemukan di manapun di tanah desa tersebut.

Masyarakat yang menggali ke bawah hanya akan menemukan air yang tak layak minum. Saat kemarau rasanya akan sangat asin dan saat musim hujan akan payau.

"Jadi kita hanya gunakan air tada hujan saja (untuk minum). Karena air di sini itu tidak bisa dikonsumsi, dia asin saat kemarau dan payau saat musim hujan," tuturnya.

"Kadang juga beliki air galon di ibu Kota Kecamatan untuk dibawa ke desa kalau musim kemarau i," sambungnya. 

Selain itu desa ini juga cukup kesulitan dalam mendapatkan akses jaringan. 

Meski telah dialiri listrik oleh PLN, kebanyakan penerangan jalan mengandalkan Panel Surya yang lebih terjamin alirannya saat gelap tiba.

Halik mengatakan, selain keluhan-keluhan itu, akses hampir menjadi keluhan rutin yang kerap disampaikan ke pemerintah.

Masyarakat Laoni begitu mengharapkan adanya akses darat. 

Sejak desa berdiri, sekalipun akses jalan darat tak pernah dibangun.

Yang menurut Halik akan efisien jika ini bisa dibangun untuk desa dengan menghubungkan desa Lamuru, Kecamatan Tellu Siattingge yang berada tepat di Barat Daya Desa Latonro.

 Akses ke desa tersebut lebih dekat dibanding harus memutar menyusuri sungai Welangnae. 

"Mungkin sekitar 20 km ke sana, itu sudah bisa terhubung, kami sangat harapkan adanya akses darat ini," jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan warga Dusun Latonro Risna, mengatakan masyarakat Desa Latonro hampir semuanya berprofesi sebagai nelayan tambak. 

Yang mana dibuat di sekitar aliran-aliran sungai Walangnae. 

"Mereka memelihara udang, kepiting dan ikan, jadi penghasilannya dari sana," ujarnya. 

Menurutnya distribusi hasil tambak ini akan lebih optimal jika akses darat ke desa bisa dibenahi. Sehingga dirinya mengharapkan adanya pembangunan ini.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved