Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

SMA 24 Makassar

Rahman Pina Usul SMA 24 Makassar Dipindahkan ke Bangunan SMK di Landak, Akomodir Warga Veteran

DPRD Sulsel bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel bersepakat akan menambah jumlah sekolah di Makassar.

|
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Saldy Irawan
ist
Legislator Golkar Rahman Pina. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Lokasi SMA 24 Makassar kini masih jadi pembahasan. 

DPRD Sulsel bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel bersepakat akan menambah jumlah sekolah di Makassar.

Pasalnya, masih banyak siswa yang belum mendapat akses pendidikan.

Ketua Komisi E DPRD Sulsel Rahman Pina menyebut selama ini warga sekitar Jl AP Pettarani dan Jl Veteran masih kurang terakomodir SMA.

Sehingga ada usulan bagunan SMK di Jl Landak bisa diubah menjadi SMA.

"Selama ini kan warga di sekitar Pettarani, Veteran ini kan tidak ada sekolah SMA, kebetulan ada SMK di jalan landak, itu memungkinkan untuk kita ubah menjadi sekolah SMA," jelas Rahman Pina.

"Karena kan jumlah siswa selama ini juga tidak terlalu maksimal oleh karena itu tadi kita sudah sepakati untuk membangun SMA 24," lanjutnya.

Rahman Pina menyebut ada penggabungan di tingkat SMK.

SMK 10, SMK 2 dan SMK 3 Makassar akan diproyeksikan jadi dua SMK saja.

Sehingga satu bangunan bisa dijadikan SMA 24 Makassar.

Sehingga tidak ada bangunan baru yang dibangun, hanya memanfaatkan bangunan lama.

"Tidak ada bangunan baru yang ada itu menyatukan, dulunya SMK sekarang diubah jadi SMA," jelas Rahman Pina.

"Peminatnya SMK disana juga kurang karena bertumpuk-tumpuk, ada SMK 10, SMK 2, dan SMK 3. Ada 3 SMK disana, makanya yang 3 SMK kita lebur menjadi dua kemudian satunya kita jadikan SMA," sambungnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan SMA Disdik Sulsel Muhammad Nur Kusuma menjelaskan sekolah baru ini nantinya bisa menampung 10 rombongan belajar (Rombel).

Sesuai aturan, satu rombel bisa maksimal diisi 36 siswa.

Artinya ada 360 siswa yang bisa ditampung dalam satu angkatan.

"Per angkatan minimal kita ambil 10 rombel berarti 360 siswa," jelas Muhammad Nur Kusuma.

Rencananya, siswa terdekat dari titik sekolah akan didahulukan.

"Kita coba zonasi, apabila masih ada belum sekolah, untuk hindari anak putus sekolah kami akan lakukan pemetaan," lanjutnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved