Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Bulog: Banyak Jagung Berjamur di Bone Sulsel

Badan Urusan Logistik (Bulog) Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel)  menemukan banyak stok jagung terjangkit jamur. 

Penulis: Wahdaniar | Editor: Sukmawati Ibrahim
tribun-timur.com
Kepala Kantor Cabang Bulog Bone, Maysius Patintingan 

TRIBUNBONE.COM, BONE- Badan Urusan Logistik (Bulog) Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel)  menemukan banyak stok jagung terjangkit jamur. 

Kondisi tersebut dinilai membuat para petani kesulitan menjual hasil panen ke Bulog.

Diketahui, Bulog mendapatkan instruksi Kementerian Pertanian untuk menyerap hasil panen jagung di Kabupaten Bone dengan harga Rp 5 ribu per kilogram. 

Sayangnya, kualitas jagung di lapangan dilaporkan masih buruk. Banyak ditemukan jagung yang telah menjamur, hingga kandungan air tak sesuai standar.

Demikian kata Kepala Kantor Cabang Bulog Bone, Maysius Patintingan saat dikonfirmasi Tribun-Timur.com, Minggu (16/6/2024). 

“Jadi rata-rata yang kami temukan di lapangan itu adalah jamur, itu khusus di Bone, belum lagi kasar air, sampai butir rusak,” jelasnya.

Ia mengungkapkan kandungan air dalam jagung masih di kisaran 20-an persen. Dimana ini tak sesuai standar yang ditetapkan Bulog yakni 12 atau maksimal 15 persen.

Menurutnya, masih banyak petani memanen tak sesuai standar. Ada pula yang menyimpan lama menunggu harga naik baru dijual. Alhasil, jagung-jagung tersebut jadi berjamur. 

Penyebab lainnya, banyak petani langsung menjual setelah panen tanpa proses pengeringan terlebih dulu. 

Agar bisa dijual di Bulog, standar kualitas harus terpenuhi. Pasalnya, kata dia,  jagung yang diserap dari petani dipersiapkan untuk disimpan 

“Jadi seumpama dia lewat dari yang dipersyaratkan, butir rusak, berjamur, kandungan air itu akan cepat rusak,” jelasnya.

Dia menambahkan, pihaknya sempat menyerap jagung dengan kadar air tinggi dan rusak menghitam hanya dalam waktu tiga bulan saja.

Ia berharap, ke depannya ada perbaikan kualitas jagung dari para petani di Kabupaten Bone ini. 

Salah seorang petani di Kecamatan Amali, Ahmad mengaku terlambat panen, karena kurang tenaga.

Petani biasanya menggunakan jasa buruh (Paseppe) untuk membantu kala panen, sayangnya saat ini cukup sulit lantaran banyak yang menggunakan jasa mereka. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved