Opini
Memuliakan Perempuan
Dimana dalam budaya patriarki, perempuan dianggap sebagai makhluk kelas dua (the second class).
Oleh: Fahriady Zein
Anggota SANAD Tafsir Hadis Khusus Makassar dan Kader GP Ansor Kota Makassar
Sejarah merekam bahwa perempuan sering mengalami perlakuan yang tidak adil di banding kaum laki-laki pada umumnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan maupun dalam lingkup sosial.
Sejatinya perlakuan yang tidak adil yang diterima perempuan salah satu penyebabnya adalah karena kuatnya klaim budaya patriarki di tengah-tengah masyarakat.
Dimana dalam budaya patriarki, perempuan dianggap sebagai makhluk kelas dua (the second class).
Dalam artian bahwa perempuan hanyalah pelengkap bagi laki-laki.
Perempuan tidak memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri.
Perempuan harus patuh dan tunduk atas norma dan hukum yang di buat oleh laki-laki meskipun norma dan hukum tersebut merugikan kaum perempuan.
Begitulah potret kondisi perempuan dalam rekaman sejarah yang begitu panjang dari satu peradaban ke peradaban lainnya dan dari satu budaya ke budaya yang lain.
Menurut hemat penulis, warisan budaya patriarki yang masih sering menimpa kaum perempuan akhir-akhir ini adalah maraknya terjadi pelecehan seksual yang sangat-sangat merugikan kaum perempuan yang kemudian meninggallkan trauma dan ketakutan yang mendalam bagi perempuan.
Beberapa hari yang lalu ini, jagad maya kembali dihebohkan atas kejadian pelecehan seksual yang di alami oleh istri salah satu pasien di Rumah Sakit Palembang Sumatera Selatan.
Dalam pemberitaannya, pelaku tiba-tiba memberikan suntikan kepada istri pasien tersebut sehingga tidak sadarkan diri dan saat itulah pelaku kemudian melakukan aksi tidak senonoh kepada korban yang bersangkutan.
Sejatinya jika kita mau jujur, kejadian ini adalah satu diantara banyak kejadian pelecehan seksual yang jamak kita saksikan akhir-akhir ini.
Bahkan hampir setiap tahun lewat media sosial kita sering disuguhkan berita-berita miris yang menimpa kaum perempuan, mulai dari pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pernikahan perempuan di bawah umur.
Dalam hal ini perempuan belum merdeka terhadap dirinya sendiri.
Potret kejadian dewasa ini yang menimpa kaum perempuan diatas, sejatinya memberikan alarm kesadaran bagi kita bahwa sebahagian dari kita belum sepenuhnya memuliakan dan menghormati kaum perempuan sebagaimana mestinya.
Kita masih saja menganggap perempuan sebagai makhluk Tuhan yang menarik, memikat, dan menganggu ketenangan.
Bahkan dalam teks keagamaan perempuan dipersepsikan sebagai sumber fitnah.
Maka tidaklah mengherangkan ketika terjadi pelecehan seksual, dimana perempuan yang seharusnya di bela justru berbalik
disalahkan sebab dirinya sendirilah yang mengundang seseorang untuk berbuat hal-hal yang melanggar moral, etika ataupun akhlak.
Pandangan seperti ini masih saja menghinggapi sebahagian saudara-saudara kita yang mau tidak mau harus dibuang jauh-jauh sebab hal tersebut tidak sejalan dengan prinsip-prinsip keislaman yang kita peluk selama ini.
Islam sendiri memandang perempuan sebagai makhluk Tuhan yang mulia dan dimuliakan.
Kemuliaan perempuan terekam jelas dalam literatur-literatur keagamaan kita, baik melalui informasi al-Qur’an maupun hadis.
Salah satu diantara banyaknya ayat yang memuliakan perempuan itu sebagaimana terekam dalam QS. al-Isra/17: 70. “dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam”
Ayat di atas memberikan kejelasan bahwa manusia (laki-laki dan perempuan) telah Allah muliakan melebihi makhluk ciptaan Allah yang lainnya.
Al-Zamakhsyari seorang pakar tafsirterkemuka pada zaman klasik memberikan pemaknaan yang sangat indah, beliau menyatakan bahwa kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia dalam ayat tersebut itu terletak pada pemberian akal yang digunakan untuk berpikir, berkreasi sekaligus membedakan mana yang baik dan buruk.
Sebagai manusia, perempuan memiliki potensi kemanusiaan sebagaimana apa yang dimiliki oleh laki-laki, yang kemudian menuntunnya menjadi mulia dan dimuliakan.
Perempuan memiliki kekuatan fisik, akal pikiran, kecerdasan intelektual, kepekaan spritual dan sebagainya.
Melalui potensi itu pulalah perempuan juga mampu menyelesaikan berbagai problem sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya yang terkait dengan kehidupan manusia.
Secara lebih khusus, Allah SWT juga memberikan tempat istimewa bagi perempuan sebagai ibu.
Beberapa kali dalam al-Qur’an kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, saling kasih-mengasihi kepada mereka, memuliakan mereka dan sebagainya.
Hal ini misalnya terungkap dalam QS An-Nisa/4: 36, QS. al-An’am/6:151 dan QS. al-Ahqaf/46: 15.
Belajar dari Umar Ra.
Penghayatan kepada teks-teks keagamaan tentang pentingnnya memuliakan perempuan itu juga dipraktekkan oleh para sahabat Nabi dalam kehidupannya.
Salah satu kisah yang sangat menarik adalah apa yang datang dari Umar Ra.
Dikisahkan bahwa pernah suatu ketika ada seorang sahabat ingin mengadu kepada Umar tentang perlakuan istrinya yang suka marah-marah.
Namun sahabat tersebut mengurungkan niatnya karena apa yang yang dialami olehnya itupun juga dialami oleh Umar Ra.
Hingga singkat cerita sahabat tersebut bertanya ketika Umar menemuinya langsung dan berkata apa yang membuatmu diam wahai Umar ketika istrimu marah kepadamu.
Dengan tenang Umar kemudian memberikan jawaban bahwa aku menahan diri untuk tidak mengeluarkan sepatah kata karena istriku punya tanggung jawab besar untukku, dialah yang membantuku.
Dia memasak makanan untukku, menyusui dan merawat anak-anakku, mencuci bajuku, padahal itu tidak wajib baginya, itu merupakan kewajibanku.
Betapa indah jawaban yang keluar dari lisan Umar yang mencerminkan betapa beliau menghormati dan memuliakan
perempuan yang dalam sejarahnya Umar dikenal sebagai pribadi yang kuat dan tegas.
Olehnya itu, sudah menjadi kewajiban kita menghormati dan memuliakan perempuan sebab mereka adalah calon ibu dari anak-anak kita.
Darinyalah awal kehidupan dan peradaban dimulai.
Maka tidak sepantasnyalah mereka-mereka yang akan melahirkan peradaban itu dilecehkan.
Bukankah majunya dan rusaknya suatu negara itu tergantung bagaimana sikap dan perlakuan kita kepada perempuan. Wallahu A’lam Bissawab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Fahriady-Zein-Anggota-SANAD-Tafsir-Hadis-Khusus-Makassar.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.