Opini
Menjadi Perindu Ramadan
Namun sayang, mereka tidak mempersiapkan diri menyambutnya, sehingga Ramadan datang dan pergi begitu saja.
Oleh: Azwar Iskandar
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar
Hari-hari yang indah dan didambakan itu kini akan kembali datang kepada kita.
Dia adalah hari-hari bulan Ramadan, bulan yang mengundang kerinduan para hamba padanya, demi melewati malam-malamnya yang syahdu dan hari-harinya yang mengantarkan doa-doa para hamba menembus langit pada tiap lapisannya.
Banyak yang mengatakan rindu pada bulan Ramadan.
Namun sayang, mereka tidak mempersiapkan diri menyambutnya, sehingga Ramadan datang dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan makna yang berarti dalam hati dan jiwanya.
Itulah sebabnya, persiapan dalam menyambut kedatangan Ramadan menjadi teramat penting, sehingga kita tidak “dihukum” dengan ketidakberdayaan dalam melakukan kebaikan dan kehinaan karena ketidakmampuan untuk menambah ketaatan.
Karenanya, bersiaplah dengan banyak berpuasa di hari-hari sebelumnya, lakukanlah salat malam, perbanyaklah membaca Al-Qur'an, lazimkanlah zikir kepada Allah, dan ringankan tangan untuk banyak bersedekah menanti hari-hari keberkahannya.
Semua ini menjadi latihan dan pembiasaan, agar tubuh dan jiwa kelak terbiasa untuk beribadah di hari-hari Ramadan.
Sebagian ulama mengatakan bahwa Rajab adalah bulan persemaian, Syakban adalah bulan pengairan.
Sedangkan Ramadan adalah bulan memetik buah.
Agar buah dapat dipetik di bulan Ramadan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi sampai menghasilkan buah yang rimbun.
Begitulah persiapan yang mestinya diupayakan.
Bersyukur dan Bergembira
Bersyukur dan memuji Allah Sub ānahu wa Ta’ālā atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada kita adalah sebuah adab yang mesti dilakukan.
Setelah bersyukur, kita pun wajib bergembira dengan kedatangan bulan Ramadan.
Para ulama terdahulu di kalangan sahabat, tabiin, dan generasi setelahnya, sangat gembira dengan kedatangannya.
Ibnu Rajab al-Hambali berkata, “Bagaimana tidak gembira, seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga, tertutupnya pintu-pintu neraka.
Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu.
Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadan).”(La ā’if al-Ma’ārif, 148)
Banyak Bertobat dan Beristigfar
Menyambut tamu agung ini, hendaknya kita bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta bertobat dengan sungguh-sungguh dari seluruh dosa, berhenti melakukannya serta tidak mengulanginya lagi.
Mengapa? Karena bulan Ramadan adalah bulan tobat. Barangsiapa yang tidak bertobat di dalamnya, maka kapan lagi ia akan bertobat?
Syekh Mu ammad bin Mu ammad Mukhtār al-Syinqī ī pernah ditanya, “Dengan amalan apa Anda menasehati saya dalam menyongsong datangnya musim ketaatan (Ramadan)?”
Syekh menjawab (diantaranya), “Berbahagialah bagi orang yang menyambut bulan ini dengan bertobat kepada Allah dan kembali kepada Allah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat, dan Allah gembira dengan pertobatan hamba-Nya, maka sambutlah bulan Ramadhan, dengan hati yang tunduk, bertobat kepada Allah.” (Syar Zād al-Mustaqni’, 123, 23).
Mengapa taubat menjadi penting? Jawabannya adalah karena ibadah dan amal saleh hanya mampu dikerjakan dengan hati yang bersih dan kuat, atas rahmat dari Allah, sementara dosa-dosa membuat hati kita kotor dan jiwa menjadi lemah.
Hati yang bersih dengan tobat akan menuntut jiwa dan raga untuk taat kepada Sang Pencipta.
Syekh Mu ammad bin Mu ammad Mukhtār al-Syinqī ī berkata, “Alasan mengapa (kita mesti) menyambut Ramadan dengan pertobatan dan kembali kepada Allah adalah bahwa sesungguhnya rahmat Allah dapat terhalang bagi seorang hamba karena dosa.” (Syar Zād al-Mustaqni’, 123/23)
Tuntut Ilmu Ramadan
Di antara poin yang tak kalah pentingnya adalah mengerti dan memahami hukum-hukum Ramadan.
Wajib bagi setiap mukmin untuk melandasi ibadahnya kepada Allah Ta’ālā dengan ilmu yang benar.
Tidak ada alasan bagi setiap mukmin untuk tidak mengetahui ilmu yang berkenaan dengan hal-hal yang telah diwajibkan kepadanya.
“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”, demikian pesan Nabi kita, Muhammad allallāhu ‘alaihi wa sallam (Sunan Ibnu Mājah, 1: 81/224).
Bekal ini amat penting agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Azīz ra imahullāh berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (al-Amru bi al-Ma’rūf wa al-Nahyi ‘an al-Munkar, 19).
Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak.
Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak.
Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saat puasa.
Merancang Agenda Ibadah
Sebelum kedatangannya, hendaknya kita merancang berbagai program agar memperoleh kebaikan yang banyak di bulan Ramadan.
Tidak selayaknya, bulan yang penuh kemuliaan ini diisi dan dijalani dengan gaya hidup biasa yang mungkin masih belum tertata rapi dalam upaya peningkatan iman dan takwa.
Apabila tidak memiliki perencanaan Ramadan, boleh jadi Ramadan akan dilalui tanpa makna.
Tentu ini adalah satu kerugian besar. Setelah rancangan ukhrawi tersebut telah tersusun rapi dan matang, hendaknya kita bertekad kuat untuk mengaplikasikannya.
Tekadkan dalam sanubari kita untuk memaksimalkan setiap waktu di dalamnya, karena bisa jadi Ramadan kali ini adalah yang terakhir bagi kita.
Akhirnya, semoga Allah Sub ānahu wa Ta’ālā menunjuki kita kepada sikap terbaik dalam menyambut bulan berkah ini.
Dengan curahan taufik-Nya, semoga kita mampu memakmurkan Ramadan dengan semestinya, sehingga saat keluar darinya, terampuni pula semua dosa-dosa kita.
Mari bersegera untuk mempersiapkan diri! Jika dengan bulan Ramadan saja kita masih tidak tergerak untuk bersegera dalam kebaikan, nikmat besar mana lagi yang akan mampu mengubah keadaan kita? Wallāhu a’lam.
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulsel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Azwar-Iskandar-Dosen-Sekolah-Tinggi-Ilmu-Islam-dan-Bahasa-Arab-STIBA-Makassar-67.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.