Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Prakiraan Cuaca

Prakiraan Cuaca di Sinjai Hari Ini, Hujan Mengguyur Siang dan Malam

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca di Sulsel pada Selasa (6/2/2024).

Penulis: Muh Ainun Taqwa | Editor: Ansar
Tribun-Timur.com
Hujan lebat di Jl Persatuan Raya, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai 27 Agustus 2021 

TRIBUNSINJAI.COM, SINJAI UTARA— Curah hujan tinggi mengguyur Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam sebulan belakangan.

Hujan mengguyur siang dan malam hari disejumlah  wilayah di Kabupaten Sinjai.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca di Sulsel pada Selasa (6/2/2024).

Siang pukul 11:00 Wita berawan kelembapan udara 80 persen, kecepatan angin 20 Km/jam.

Pukul 14:00 akan terjadi hujan sedang kelembapan udara 70 % , dengan kecepatan angin 20 Km/jam.

Pada pukul 17:00 Wita berawan kelembapan udara 75 % , dengan kecepatan angin 20 Km/jam.

Sementara pukul 20:00 Wita berawan kelembapan udara 80 % , dengan kecepatan angin 20 Km/jam.

Pada pukul 23:00 Wita berawan kelembapan udara 85 % , dengan kecepatan angin 20 Km/jam.

Memasuki puncak musim hujan, beberapa daerah di Indonesia mengalami hujan ekstrem hingga menyebabkan banjir.

Hujan terkadang turun membasahi Bumi dengan damai, lembut, dan santai tanpa membuat orang takut.

Namun, fenomena alam ini juga bisa turun dengan intensitas tinggi atau biasa disebut sebagai hujan deras atau hujan lebat.

Hujan lebat hingga badai ini kerap menghujam Bumi dalam jangka waktu tertentu dan menyebabkan beberapa kerusakan.

Lantas, mengapa bisa terjadi dua hujan, ringan dan deras?

Terjadinya hujan Semua hujan berasal dari kombinasi dua hal, yakni kelembapan di udara dan arus udara yang bergerak ke atas atau angin.

Dikutip dari Kompas.com, hujan merupakan bentuk presipitasi atau proses pengembunan di atmosfer berbentuk cairan yang turun ke Bumi.

Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah dari awan jatuh ke Bumi.

Sebelum terjadi hujan, pasti ada awan sebagai tempat penampungan uap air dari permukaan Bumi.

Air di Bumi, baik laut, sungai, maupun danau akan menguap karena panas sinar matahari.

Uap selanjutnya akan naik dan mengalami proses kondensasi.

Melalui proses ini, uap air berubah menjadi embun. Karena suhu sekitar awan lebih rendah dari panas matahari, maka akan terbentuk titik embun air.

Suhu udara yang semakin tinggi membuat titik-titik embun semakin banyak dan memadat, kemudian membentuk awan.

Di langit, ada perbedaan tekanan udara dan pergerakan udara yang dikenal dengan angin.

Angin kemudian membawa awan yang berisi butir-butir air menuju lokasi yang suhunya lebih rendah.

Awan-awan yang mengandung titik embun air ini selanjutnya berkumpul dan membentuk awan besar, sehingga warnanya menjadi kelabu.

Awan kelabu yang sudah terlalu berat dan tidak lagi bisa menahan air, akhirnya turun menjadi hujan.

Dilansir dari laman University of Maryland, Baltimore County (UMBC), udara dingin dapat menahan kelembapan jauh lebih sedikit daripada udara hangat.

Oleh karena itu, awan saat udara dingin cenderung lebih tipis dan berlapis, serta tidak memiliki banyak air di dalamnya.

Di sisi lain, angin dengan kecepatan lambat mulai menyapu awan tipis yang tidak memiliki banyak kelembaban, sehingga terbentuklah tetesan hujan kecil.

Berat awan yang jauh lebih ringan juga membuat gravitasi dengan mudah menariknya ke bawah untuk melawan arus angin, sebelum hujan berubah semakin besar.

Saat itulah, Bumi akan diguyur hujan lebih tenang dan tidak menakutkan.

Sebaliknya, hujan badai atau hujan deras terjadi saat banyak uap air di udara dan angin yang bergerak dengan sangat cepat.

Udara hangat akan menciptakan awan tinggi dan tebal, serta mengandung banyak uap air.

Akibatnya, tetesan air terbentuk dengan cepat saat udara bergerak naik melalui awan.

Namun, lantaran angin bertiup ke atas dengan sangat cepat, tetesannya bisa menjadi sangat besar sebelum gravitasi sempat menyeretnya ke Bumi.

Ketika uap air menjadi terlalu berat untuk dibawa angin, semua tetesan air dalam awan pun runtuh dan menghujani Bumi.

Meski deras, hujan jenis ini biasanya tidak berlangsung lama.

Begitu hujan turun dari awan dan menekan aliran udara ke atas, awan akan menghilang dan hujan pun mereda.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved