Serangan Pagar
Pengamat Politik Unhas: Serangan Fajar itu Jadul, Kini Serangan Pagar
Menurut Dosen Fisipol Unhas itu, sekarang ada kecenderungan masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan aturan, dengan rambu-rambu atau pagar demokrasi.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Serangan fajar sudah bukan model lagi di jaman now. Sekarang yang mengemuka jelang Pemilu 2024 adalah serangan agar.
“Dulu itu, biasanya di minggu tenang, menjelang hari H atau hari pencoblosan, akan ada orang-orang gerilya membagi-bagikan sesuatu pada calon pemilih,” jelas Dr Adi Suryadi Culla dalam ngobrol virtual Pemilu 2024 di Studio Tribun Timur, Makassar, Rabu (31/1/2024) sore.
Kegiatan itulah yang biasanya disebut serangan fajar. Karena mereka melakukan itu di penghujung waktu atau menjelang waktu hari H atau menjelang waktu pencoblosan.
“Jadi serangan fajar itu jadul. Yang terjadi sekarang justeru serangan pagar,” tegas Dr Adi Suryadi Culla.
Menurut Dosen Fisipol Unhas itu, sekarang ada kecenderungan masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan aturan, dengan rambu-rambu atau pagar demokrasi.
“Itu dilanggar semua. Sehingga yang yang terjadi sebenarnya serangan pagar. Bahkan lompat pagar. Aturan itu dilompati semua,” kata Dr Adi Suryadi Culla yang juga Koordinator Forum Dosen.
Adi Suryadi Culla menjelaskan, rambu-rambu atau pagar kita berkaitan dengan aturan dan norma demokrasi sudah dilabrak semua.
“Bahkan etika pun sudah diabaikan,” tegas Adi Suryadi Culla.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Adi-Suryadi-Culla-Dosen-Fisip-Unhas-32.jpg)