Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kalla Sulam 10.000 Bibit Mangrove

Kalla sulam 10.000 bibit mangrove hingga awal tahun 2024 dalam upaya untuk menjaga dan memastikan bibit mangrove tumbuh dengan baik.

Penulis: Rudi Salam | Editor: Sakinah Sudin
Kalla Group
Kalla melakukan penyulaman 10.000 bibit mangrove hingga awal tahun 2024. Program ini dilakukan sebagai upaya menjaga keberlangsungan program corporate social responsibility (CSR) penanaman mangrove. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Kalla sulam 10.000 bibit mangrove hingga awal tahun 2024 dalam upaya untuk menjaga dan memastikan bibit mangrove tumbuh dengan baik.

Program ini juga dilakukan sebagai upaya menjaga keberlangsungan program corporate social responsibility (CSR) penanaman mangrove.

Pada tahun 2022 lalu, CSR Kalla sukses menggelar penanaman 32.000 mangrove di Kepiting Tambak Kelurahan Tekolabbua, Kecamatan Pangkaje’e, Kabupaten Pangkep.

Program CSR ini sepenuhnya melibatkan masyarakat di Kelurahan Tekolabbua melalui kelompok tani nelayan sejahtera sebagai pelaksana program, mulai dari kegiatan pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman mangrove.

Corporate Social Responsibility Department Haed Kalla, Rafiquah Djamil menjelaskan, selain penyulaman 10.000 bibit, Kalla juga melakukan pembangunan pondok kerja pembibitan serta perbaikan lokasi pembibitan mangrove.

“Dengan program ini diharapkan anggota kelompok tani lebih nyaman dalam bekerja dan fungi pembibitan menjadi maksimal yaitu produksi bibit mangrove mencapai 100.000 bibit per tahun,” kata Rafiquah Djamil, dalam keterangan resminya kepada Tribun-Timur.com, Senin (22/1/2024).

Rafiquah menyebut, setelah memasuki tahun ke-5 program pada periode 2027, hasil penanaman dari tahun ke-1 sampai ke-3 tanaman mangrove telah mampu survive dan bertahan hidup dari kondisi iklim.

Hal ini pun diharapkan berkontribusi pada perlindungan ekosistem pantai dari abrasi dan tentunya mendukung mata pencaharian warga berupa tambak udang dan kerang.

Menurutnya, tanaman mangrove ini sangat bermanfaat bagi ekosistem karena dapat menyerap karbon lima kali lebih besar dari tanaman lain memiliki keterkaitan erat terhadap perubahan iklim.

Keberadaan mangrove yang sehat di kawasan pesisir juga dinilai dapat meningkatkan resiliensi masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim dan meminimalisir dampak bencana alam, seperti tsunami, badai dan gelombang (fungsi adaptasi).

Mangrove juga turut serta dalam mengendalikan perubahan iklim dengan berperan sebagai paru-paru dunia melalui penyerapan dan penyimpanan karbon biru (fungsi mitigasi).

Hutan mangrove juga berpotensi menjadi aset penting dalam penurunan emisi gas rumah kaca.

Sehingga upaya perlindungan mangrove sebagai ekosistem blue carbon tidak hanya dikaitkan dengan pengurangan emisi dan peningkatan simpanan karbon (carbon benefit).

Tetapi juga pelestarian mangrove yang sehat yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat (non carbon benefit).

Rafiquah menuturkan bahwa Kalla senantiasa memberikan kontribusi dalam membangun ekosistem mangrove yang akan memberikan banyak dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved