Rekam Jejak Erwin Aksa, Pengusaha Nasional yang Lahir dan Dibesarkan di Keluarga NU
Pengusaha nasional Erwin Aksa lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama, pernah menjabat
TRIBUN-TIMUR.COM -- Pengusaha nasional Erwin Aksa lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama.
Erwin Aksa adalah mantan Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia atau HIPMI periode 2008-2011.
Ia adalah ponakan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 HM Jusuf Kalla.
Erwin Aksa adalah generasi ketiga dari Hadji Kalla pengusaha sukses dari Kabupaten Bone.
Rekam jejak tidak bisa dibohongi. Bila ditengok silsilah dan segi pengalaman, dalam diri Erwin Aksa (EA) sebenarnya mengalir “darah biru” Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan.
Ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan tradisi NU.
Mulai dari nenek, paman dan ayahnya.
Suasana hidup yang religius dan kedekatan dengan para ulama sudah dijalani dan dirasakan Erwin sejak usia muda.
“Saya masih ingat Pak Kyai Sanusi Baco dan ulama lainnya sering silaturahmi ke rumah. Saya biasa disuruh Bapak untuk melayani Pak Kyai yang juga Ketua MUI Sulsel itu,” kenang Erwin.
Kisah “kedekatan” Erwin denga NU berawal dari neneknya, Haji Kalla (alm).
Di Sulawesi Selatan, sebutan “nenek” tidak hanya untuk ibunya ibu atau ibunya bapak.
Tapi berlaku juga untuk kakek, yaitu bapaknya ibu atau bapaknya bapak.
Dulu, nenek Erwin tersebut, seperti dikutip dari buku “Nalar Politik NU-Muhammadiyah” karya Suaidi Asyari, adalah tokoh Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Pernah menjadi bendahara Masjid Raya Makassar yang letaknya di sebelah rumahnya.
Ia juga menjadi bendahara Pengurus Wilayah NU (PWNU) Sulsel sepanjang hidupnya.
Tak tergantikan. Karena tak ada yang mau menggantikanya.
Sementara nenek perempuan Erwin, Athirah (isteri Haji Kalla) aktivis Aisyiah/Muhammadiyah) namanya diabadikan menjadi nama lembaga pendidikan.
Mulai dari TK hingga sekolah menengah.
Disitu pula Erwin sekolah sejak SD-SMA. Termasuk adik-adiknya.
Kemudian paman atau om Erwin, Jusuf Kalla (JK) meneruskan jabatan bendahara masjid itu.
Bahkan JK pernah menjadi Mustasyar (Penasihat) PWNU Sulawesi Selatan tahun 2009.
Selain itu, JK pernah menjadi Mukhtasar Pengurs Besar (PBNU) periode 2015-2020.
Saat itu, JK masih menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres).
Bersama Jenderal M Jusuf (mantan panglima ABRI), paman Erwin tersebut ikut membangun masjid baru yang lebih megah bernama Al Markaz Al Islami.
Di lahan bekas kampus Universitas Hasanuddin (Unhas).
Sedangkan ayah Erwin, Aksa Mahmud, selain fungsionaris NU juga sebagai pengasuh pondok pesantren DDI Mangkoso, di kabupaten Barru, Sulsel.
Dekat dari Parepare.
Di Makassar, ayahnya diberi amanah sebagai Pemegang kuasa Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar.
Yayasan tersebut melahirkan berdirinya Universitas NU pertama di Sulsel.
Namanya Universitas Islam Makassar (UIM) di Jalan Perintis Kemerdekaan.
Dekat dan hanya sekitar 1 km dari kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) di Tamalanrea.
Kiprah dan peran ke-NU-an keluarga Erwin diungkapkan pula oleh Prof.Dr. K.H. Hasyim Aidid. Terutama saat perjuangan meghadapi PKI di wilayah Sulsel.
Guru Besar Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (dulu bernama IAIN Alauddin) Prof Aidid menceritakan, perlawanan terhadap PKI dan komunis sudah gencar di Makassar.
Ketika itu, awal April 1965, PWNU Sulsel mengadakan pengkaderan (Training Center) seluruh jajaran NU yang diikuti kaum bapak, ibu dan pemuda NU Sulsel.
Pengkaderan ini disebut “TC Banting Stir”.
Dilaksanakan selama seminggu di Gedung PHI Jalan Laiya Makassar.
Lokasinya tak jauh dari Pasar Sentral.
“Saya salah satu pesertanya,” kenang Prof.Aidid.
Disebutkan, beberapa tokoh NU Sulsel, yang terlibat aktif dalam pengkaderan tersebut. Sebut saja, Abd Hafid Yusuf, Haji Kalla, Tanitting Syamsuddin, Andi Patiwiri, Abdullah Daud, M. Shaleh Bustami dan istri yang juga Ketua Fatayat NU Sulsel, KH. Ya’la Thahir, KH.Shaleh Thaha, Drs.H. Muhyiddin Zain, Dahlan Saleh SH, Abdurahman Bola Dunia, Abdurahman K, Ibu Datu Pattojo (Ketua Muslimat NU Sulsel), Ibu Aminah Tanitting (pemilik Hotel Amanah Jl.Haji Bau Makassar).
“Pangkaderan NU “TC Banting Stir” ini sangat ramai hingga melecut semangat peserta yang berhasil membuat bangkit kekuatan NU di seluruh pelosok kota Makassar dan menjalar ke seluruh kabupaten di Sulsel, terutama GP Ansor, Muslimat dan Fatayat,” kata Prof Aidid.
Kalau ditingkat pusat perlawanan dipelopori tokoh PBNU, Muh Subhan ZE yang membentuk memimpin “Front Pancasila” untuk menghimpun kekuatan bangsa untuk melawan G30S/PKI.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, cendekiawan muslim dan mantan Menteri Agama di era Presiden Soeharto.
Ayah Najwa Shihab itu mengenal baik dan mengenang kisah persahabatannya dengan Haji Kalla.
"Saya dan Haji Kalla bersahabat, anak saya dan Jusuf Kalla juga bersahabat, cucu kami juga satu sekolah," ujar Quraish.
Ketua Umum PBNU periode 2010-2021, K.H. Said Aqil Siradj dalam suatu kesempatan, mengaku mengenal almarhum Haji Kalla sebagai tokoh NU di Sulsel yang baik dan sosok sangat sederhana.
Pernah suatu ketika, kenang Said, ketika memon berangkat ke masjid hendak menunaikan shalat Jumat.
Anaknya JK naik mobil dan ayahandanya jalan kaki.
Lalu, ada yang bilang kepada almarhum, “Bapak ini kok jalan kaki, anak-anaknya pakai mobil?”
Lalu, beliau hanya menjawab santai.
“Biarlah saja kan mereka anaknya orang kaya, kalau saya anaknya orang miskin,” tutur Said, menceritakan pengalamannya bersama Haji Kalla.
Erwin mengaku waktu kecil sering diajak keliling oleh ayahnya berkunjung dan silaturahmi ke beberapa pondok pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sampai-sampai ayahnya kerap dipanggail dengan sebutan “Gus AM” (singkatan Aksa Mahmud,red).
“Saya masih ingat, pertama kali saya bicara di depan umum atau pidato pada saat dibawa bapak ke pesantren di Mangkoso. Waktu itu saya masih SD,” kenang Erwin saat silaturahmi dengan pengurus cabang (PCNU) Jakarta Barat, beberapa waktu lalu, sekaligus penyerahan kartu anggota NU pemasangan jaket NU kepadanya.
Sosok Irfan Yusuf Politisi Gerindra Calon Kuat Menteri Haji dan Umrah, Kader NU Cucu Hasyim Asyari |
![]() |
---|
Profil Mochamad Irfan Yusuf Calon Kuat Menteri Haji dan Umrah, Wakil Ketua LPNU |
![]() |
---|
Resmikan Kampus Baru Paramadina, JK Tekankan Pentingnya Idealisme Perguruan Tinggi |
![]() |
---|
Reaksi Jusuf Kalla Soal Silfester Matutina Belum Dieksekusi |
![]() |
---|
Hadji Kalla Lapor GMTD ke Polisi |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.