Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

BP2MI dan IOM Sosialisasi Kesepakatan Global Mengenai Migrasi

Suratmi menyebut, Pekerja Migran Indonesia (PMI) merupakan penyumbang devisa negara.

Penulis: Rudi Salam | Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
Lokakarya sosialisasi Kesepakatan Global mengenai Migrasi (KGM) dan Agenda 2030, secara online melalui Zoom, Senin (12/6/2023).  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) bersama International Organization For Migration (IOM), dan berbagai pihak menggelar lokakarya sosialisasi Kesepakatan Global mengenai Migrasi (KGM) dan Agenda 2030, secara online melalui Zoom, Senin (12/6/2023).

Acara tersebut dihadiri puluhan peserta dari pemangku kepentingan daerah, masyarakat sipil, asosiasi migran, akademisi, media, diaspora dan pemangku kepentingan terkait lainnya.

Sosialisasi ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang Kementerian Luar Negeri RI Penny Herasati, Kepala BP3MI Sulsel Suratmi Hamida, dan Diah Zahara dari IOM.

Materi yang dihadirkan meliputi gambaran umum KGM dan implementasinya di Indonesia, praktik terbaik dan keberhasilan implementasi KGM di tingkat daerah.

Ada juga pertimbangan utama, panduan, dan saran proses langkah untuk mendukung pemerintah daerah dalam menerapkan KGM.

Kepala BP3MI Sulsel, Suratmi Hamida menjelaskan, migrasi bagi warga Sulawesi Selatan merupakan budaya turun temurun. Pola migrasinya, mengikuti migrasi Keluarga.

“Bekerja ke luar negeri merupakan suatu pilihan buat warga Sulawesi Selatan untuk meningkatkan ekonomi keluarganya,” jelasnya.

Suratmi menyebut, Pekerja Migran Indonesia (PMI) merupakan penyumbang devisa negara.

Ini dlihat dari angka remittance PMI Sulawesi Selatan yang cukup besar, Rp4,6 miliar.

“Tentu remittance ini sangat berkontribusi besar bagi pembangunan di Sulawesi Selatan,” sebutnya.

Kendati demikian, terdapat berbagai masalah penempatan ke luar negeri secara non prosedural, khususnya ke negara Malaysia.

Menurutnya, penyebab itama adalah karena kurangnya akses informasi migrasi mman, kualitas SDM, dan modus operan sindikat atau calo.

Karena itu, kata Suratmi, momentum kali ini di forum bersama IOM, bertekad agar menekan laju perjalanan non prosedural pekerja migran asal Sulawesi Selatan.

Pihaknya mengaku optimis, dengan sinergi, semua persoalan yang terjadi terkait migrasi di Sulawesi Selatan bisa diatasi bersama.

“Kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi. Mari kita sama-sama bergandengan tangan untuk sampaikan kepada calon pekerja migran kita untuk bermigrasi secara aman,” katanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved