Langit Ramadhan
2 Tokoh NU Tentang Israel
Kalau kita cuma menolak Israel, ‘Jangan datang!’, habis itu tidur, apa gunanya buat Palestina?
Oleh:
M Qasim Mathar
Cendekiawan Muslim
TRIBUN-TIMUR.COM - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), KH Yahya Cholil Staquf tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren.
Di antara guru yang mendidiknya di bidang agama adalah ayah dan pamannya sendiri.
Pesantren Roudlotul Tholibin, Rembang, yang kelak, dia menjadi pengasuh pondok tersebut, adalah pengalaman masa kanak dan remajanya.
Pesantren Al-Munawwir di bawah asuhan KH. Ali Maksum, adalah juga tempat belajarnya ketika masa mudanya.
Gus Yahya pernah kuliah di Jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogyakarta.
Ketua Umum PB NU, Gus Yahya, mendapatkan gelar doktor honoris causa (HC) dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dia juga pernah menjadi ketua HMI Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM Jogjakarta.
Dibesarkan dari kultur Nahdilyin yang kuat dan kehidupan pesantren, KH. Yahya Cholil Staquf pun pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang, Jawa Tengah.
Inilah tokoh, pemimpin NU, saat ini tidak setuju tim sepak bola Israel ditolak masuk ke Indonesia.
"Kalau kita cuma menolak Israel, ‘Jangan datang!’, habis itu tidur, apa gunanya buat Palestina? Enggak ada gunanya juga,” kata Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (24/3).
Lebih tua dari segi usia dan digantikan oleh Gus Yahya sebagai ketua umum PB NU, KH. Said Aqil Siradj, atau Gus Siradj, sejak kecil tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren.
Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman dari ayahnya yaitu, putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan.
Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.
Saat remaja, tokoh NU yang satu ini, belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH. Abdul Karim (Mbah Manaf).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/prof-m-qasim-mathar-21082018_20180821_235633.jpg)