Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Selamatkan Anak Kita!

Perkembangan infrastruktur telekomunikasi dan layanan internet memang diakui sangat pesat 1 dekade lebih terakhir.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/shaela
Shaela Mayasari Statistisi Muda di BPS Kabupaten Enrekang. Shaela Mayasari penulis Rubrik Opini Tribun Timur berjudul 'Selamatkan Anak Kita!' 

Oleh:
Shaela Mayasari
Statistisi Muda di BPS Kabupaten Enrekang

TRIBUN-TIMUR.COM - Penculikan dan pembunuhan anak di bawah umur yang terjadi di Makassar baru-baru ini, membuat publik terkejut.

Alasan dibalik pembunuhan korban sungguh miris. Para pelaku yang masih di bawah umur, tergiur cuan berlebih akibat mengkonsumsi konten negatif.

Para pelaku yang masih remaja (AD 17 tahun dan AMF 14 tahun), dibuat terlena oleh situs online yang diyakini bisa membuat mereka secepat kilat menjadi kaya raya.

Pelaku berambisi demikian, setelah mengikuti situs di internet yang memperdagangkan praktik jual beli organ tubuh manusia dengan harga fantastis.

Ironisnya, satu dari dua pelaku tersebut telah mengincar-incar praktik ini setahun terakhir. Dan meraba-raba siapa gerangan korban yang bisa dieksploitasi organ dalamnya tersebut.

Niat busuk ini diungkap oleh pihak kepolisian setelah mengamankan dan melakukan introgasi kepada pelaku.

Sementara korban FS (11 tahun) yang masih duduk di kelas V Sekolah Dasar ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di bawah jembatan setelah dianiaya, dicekik, dan dipukul hingga tewas.

Kedua pelaku bingung, karena surat elektronik yang dikirimkannya kepada situs penjualan organ tubuh manusia tersebut, tak kunjung dibalas.

Hingga mereka mencuci tangan dengan mengikat dan membuang jenazah di bawah jembatan sekitar waduk.

Fakta ini membuat kita syok dan tersentak. Kejadian ini bisa saja terjadi kepada anak-anak kita.

Baik itu sebagai pelaku, maupun korban. Informasi yang bertebaran di jagad maya membuat ruang gerak pikiran anak maupun remaja bebas ke mana-mana.

Memang program literasi digital saat ini telah digalakkan pemerintah untuk semua lapisan masyarakat.

Wabah global telah menjadikan transformasi digital berlangsung lebih cepat dan mengharuskan pemerataan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di seluruh wilayah Indonesia.

Masyarakat diharuskan untuk beradaptasi dengan pola kebiasaan baru, seperti melakukan hampir seluruh aktivitas melalui daring.

Pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu mengharuskan anak-anak kita mengikuti kegiatan belajar secara daring.

Mengerjakan dan mengumpulkan tugas secara daring. Sehingga intensitas penggunaan internet terhadap anak-anak semakin masif.

Jika tidak dikontrol dan didampingi dengan baik, maka dikhawatirkan informasi sesat dalam konten-konten negatif bisa diakses dengan mudah dan diterima anak kita mentah-mentah.

Kasus pembunuhan FS di atas menjadi pelajaran berharga. Agar kita tidak melepas dengan mudah anak-anak kita bersibuk-sibuk dengan hpnya sekalipun alasannya untuk keperluan sekolah. Di luar sana, predator dunia internet mengintai.

Perkembangan infrastruktur telekomunikasi dan layanan internet memang diakui sangat pesat 1 dekade lebih terakhir.

Menurut data Podes BPS Sulsel, pada tahun 2011 hanya sebanyak 1.934 desa/kelurahan di Sulsel sebagai daerah dengan sinyal kuat telepon seluler, kemudian pada tahun 2021 menjadi 2.393 desa/kelurahan (76,86 persen) yang teridentifikasi sebagai daerah yang menerima sinyal kuat telepon selular.

Dan jika dilihat dari sebaran tempat tinggal, ketimpangan penduduk yang mengakses internet di daerah perkotaan dan pedesaan gapnya semakin tipis.

Di tahun 2019, selisih pencapaian persentase penduduk yang mengakses internet di perkotaan dan perdesaan sebesar 24,48 poin, sedangkan di tahun 2022 menjadi 18,65 poin.

Artinya apa? Aksesabilitas internet kini semakin merata.

Semua orang, termasuk anak-anak kita memiliki daya dan kesempatan sama untuk mengakses internet.

Susenas 2022 BPS menyebut, persentase penduduk Sulsel lima tahun ke atas yang mengakses internet selama tiga bulan terakhir sebesar 64,14 persen.

Baik itu melalui ponsel, komputer, dan perangkat lainnya maupun dimiliki sendiri atau tidak.

Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 2/3 penduduk telah mengakses internet. Dan tujuan akses internet sebagian besar ialah mendapatkan informasi, hiburan, dan media sosial.

Sebanyak 17,67 persen tujuan penggunaan intenet untuk pembelajaran online.

Sementara menurut alat yang digunakan untuk mengakses internet adalah 98,17 persen menggunakanhp/ponsel.

Pemberian hp sedari dini kepada anak, ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi sebagai sarana untuk menunjang proses belajar anak, namun di sisi lain ada ancaman tersembunyi mengintainya.

Jika tidak diantisipasi dengan baik, ditakutkan anak akan terjerumus dalam konten negatif yang membuat anak berani dan tak segan mengambil risiko besar.

Lingkungan keluarga memegang andil yang sangat besar, untuk mengawasi tindak tanduk anak-anak.

Agama sebagai fondasi hidup harus ditanamkan sedari dini kepada anak-anak sebagai cerminan moral dan adab mereka, begitupan sosok orangtua/ wali hadir sebagai tauladan.

Bangun lingkungan positif dan komunikasi yang baik dengan anak. Kita bisa mengidentifikasi kegemaran dan passion anak.

Sehingga ia sibuk dengan kegiatan positif yang disukainya dibanding mencari yang tidak dimilikinya.

Sekolah sebagai rumah kedua anak, harus siap juga dengan perubahan-perubahan dinamis yang ada.

Perketat penjagaan di sekolah, dan mengintensifkan komunikasi dengan wali anak.

Harus ada keterbukaan antar kedua belah pihak, terkait perkembangan akademik maupun non akademik anak. Sekecil apapun itu.

Kemajuan TIK memang sebagai faktor pendorong kemajuan ekonomi suatu daerah, namun sisi gelapnya tidak boleh dikesampingkan. Anak adalah investasi bangsa.

Menyelamatkannya, berarti menyelamatkan investasi bangsa.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved