Catatan Bola Willy Kumurur
Tarian Terakhir
Lawan Argentina, adalahjuarabertahanbermentaljuara, Prancis, yang tengahdiperkuatgenerasiemasnya.
oleh: Willy Kumurur
penikmat bola
TRIBUN-TIMUR.COM - Pada akhirnya adalah final! Dan Sang Final itu sudah datang. Ia telah tiba di Lusail Iconic Stadium! Ia hanya menyapa dan menjemput dua tim untuk memainkan laga akhir: Argentina dan Prancis.
Di rerumputan hijau stadion itu, akan terjadi “pengadilan”; dan Sang Final akan memberi kesempatan kepada masing-masing tim untuk menyampaikan “pembelaan” nya sebelum ia menjatuhkan keputusannya atas siapa dari antara kedua tim yang boleh masuk ke dalam kebahagiaan puncak.
Sebuah situasi psikologis yang akan mewarnai historikal Lusail Iconic Stadium.
Dua belas tahun lalu, tatkalapasukan Barcelona sedang berlatih di Ciutat Esportiva Joan Gamper, Lionel Messi bertanya kepada Xavi Hernandez, Andres Iniestadan Gerard Pique, yang baru saja memenangkan Piala Dunia 2010, bagaimanarasanyamengangkattrofi?
"Kami tak bisa menjelaskankebahagiaanpuncaktatkalamenciumtrofiitu,” jawab Xavi, Iniesta dan Pique.
Banyak trofi yang telah dikoleksi oleh Messi: 7 trofiBallon d’Or, 4 trofi Liga Champions, Piala Dunia antarklub, trofijuaraOlimpiade, trofiPiala Dunia U-20, Copa America, Finalissima, Piala Liga dan trofibergengsilainnya.
Namun trofiPiala Dunia belumpernahdiraihnyasekalipun.
“Sebagaipemain,memenangkanPiala Duniaadalahsegalanya. Sesuatu yang diimpikan oleh siapapun, termasuk aku sejak masih kanak-kanak; dan impian itu tak pernah hilang,” ujarMessi menjelang Argentina memainkanlaga final melawanJerman di Estadio Maracana – Brazil pada 2014. “Kamiakanmelakukansegalanyauntukmewujudkan impianini.
Bermain di final Piala Duniadenganatmosfir yang luar biasa di Maracanaadalahsesuatuyangdiimpikan oleh setiap pemain.”
Sejarah mencatat, Messi dan Argentina menangiskala ituditaklukkanJerman 0-1.
Memenangkan Piala Dunia adalah impian tertinggi dari setiap pemain bola; dan bagi The Messiah, mengangkat trofi itu tak hanya untuk membungkam kritik banyak pihak yang mengatakan apa artinya kesuksesannya bersama Barcelona, jika ia tak berkutik di ajang Piala Dunia.
Apalagi, panggungPiala Dunia ini adalahtempatpementasantarianterakhir Messi.
Lawan Argentina, adalahjuarabertahanbermentaljuara, Prancis, yang tengahdiperkuatgenerasiemasnya.
Didier Deschamps, sang pelatihLes Bleusberada di ambangsejarahuntukmeraihPiala Dunia berturut-turut.Bos timnasionalPrancisitumenyatakanbahwaLes BleusakanmelakukansegaladayauntukmengakhiridongengPiala Dunia Lionel Messi.
Lionel Messi dkk serta KylianMbappe dkk telah dijemput Sang Final untuk berjumpa di Stadion Losail Iconic.
Sebelum sampai ke puncak, kedua tim melintasi rintangan yang beda. Jika Prancis dengan mantap dan meyakinkanmembenamkanlawan-lawannya, kecualisewaktutakluklawan Tunisia, Argentina mesti merangkak tertatih-tatih diawalakibatdipermalukan oleh Arab Saudi 1-2, kemudian merayap naik dan hanya menang lewat adu penalti dengan Tim Bunga Tulip-Belanda; dan di semifinal menghancurkanharapanKroasia 3-0. Andai waktu adalah sebuah lingkaran yang mengitari dirinya, dunia akan mengulang dirinya sendiri. Demikian tulis Allan Lightman dalam bukunya Einstein’s Dream.
Argentina kembali tampil di final, namun apakah untuk kembali kalah?
Esokmalam, para dewa dan seniman bola dunia berjumpa di gelanggang menghadapi forum “pengadilan” terakhir. Mereka telah mencapai tingkat pemenuhan kebutuhan yang tak dapat digapai oleh semua orang.
Puncak tertinggi hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow, adalah aktualisasi diri. Bagi para dewa bola, puncak itu tercapai ketika memenangkan pertempuran di gelanggang.
Kebahagiaan puncak yang hanya dapat dirasakan namun tak dapat dijelaskan.
Tak akanada semantik atau sintaksis bahasa yang dapat mengungkapkan ekstase itu. Stadion Lusail Iconic akan menjadi saksinya, sambil mencatat senyum, tawa ria dan linangan air mata dari para pelakunya.****