Kasus Rudapaksa

Dinas PPPA Enrekang Berjanji Dampingi Korban Rudapaksa Ayah Kandung

tindakan keji yang dilakukan T (40) sangat keterlaluan lantaran tega rudapaksa anaknya sendiri.

Penulis: Erlan Saputra | Editor: Hasriyani Latif
thenewsminute.com
Ilustrasi korban rudapaksa - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan berjanji melakukan pendampingan terhadap seorang anak yang jadi korban rudapaksa oleh ayah kandungnya. 

TRIBUN-TIMUR.COM, ENREKANG - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan berjanji melakukan pendampingan terhadap seorang anak yang jadi korban rudapaksa oleh ayah kandungnya.

Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas PPPA Kabupaten Enrekang, Burhanuddin, kepada TribunEnrekang.com, Sabtu (3/12/2022).

"Sementara ini masih dalam proses kepolisian. Tapi kami akan mendampingi ini korban. Itu anak (korban) saat ini sudah masuk usia dewasa, namun kejadiannya masih anak. Jadi sekarang umurnya sekarang sudah 19 tahun," kata Burhanuddin saat dikonfirmasi.

Menurut Burhanuddin, tindakan keji yang dilakukan T (40) sangat keterlaluan lantaran tega rudapaksa anak kandung sendiri.

Hal itu masuk juga dalam kategori penyimpangan kekerasan seksual kepada anak.

T diketahui duda yang sudah lama pisah ranjang dengan istrinya.

Karena sudah hidup menduda, T akhirnya melampiaskan nafsunya kepada anak bungsu dari dua bersaudara itu.

"Sekarang itu korban sudah ada sama mama kandungnya. Disamping kita melakukan pendampingan karena ibunya sedang sakit. Jadi InsyaAllah Minggu ini kami akan ke sana ambil keterangan," ujar dia.

Dikatakan Burhanuddin, kasus rudapaksa ayah terhadap anak kandung baru pertama kali terjadi di Kabupaten Enrekang

"Banyak kasus lain kami temukan di Enrekang, seperti kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur. Tetapi itu dilakukan di luar orang tua. Ini barusan ada kasus ayah terhadap anak kandung," katanya.

Burhanuddin juga menuturkan, ibu korban diketahui merupakan perempuan yang mengalami gangguan jiwa atau ODGJ. 

"Perbuatan pelaku sudah dilakukan sejak tahun 2019 dan terakhir terungkap tahun 2022. Jadi kecurigaan saya, perbuatan (pelaku ke korban) dilakukan lebih dari satu kali," katanya.

Diketahui, kasus ini mulai terungkap pada awal November 2022 lalu.

Ketika itu, pihak keluarga melaporkan pelaku ke kepolisian.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved