PSM Makassar

Sistem Bubble Rugikan PSM, Tavares Sebut Ancaman untuk Skuad Juku Eja

Operator Liga 1 PT Liga Indonesia Baru (LIB) akan menerapkan sistem bubble di sisa putaran pertama Liga 1 musim ini.

Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
Pelatih PSM, Bernardo Tavares   

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -  Pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares menanggapi skema pertandingan Liga 1 2022-2023.

Operator Liga 1 PT Liga Indonesia Baru (LIB) akan menerapkan sistem bubble di sisa putaran pertama Liga 1 musim ini.

Pertandingan dipusatkan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ada lima venue telah disiapkan.

Bernardo Tavares menilai, skema bubble diterapkan merugikan timnya.

Pasalnya, tim besutannya memiliki rekam jejak dengan skema home and away. 

Utamanya ketika bermain di kandang, Stadion BJ Habibie, Parepare.

Skuad Laskar Pinisi tidak pernah terkalahkan di markasnya. Lawan yang datang tidak ada yang bawa poin penuh pulang.

Lima pertandingan kandang telah dilakoni, bukukan empat kemenangan dan hanya sekali imbang.

Tiga poin diraih dari Bali United, Arema FC, Persib Bandung dan Persebaya. Hanya, Persija Jakarta yang berhasil curi satu poin.

"Saya kira ini bukan menjadi suatu keuntungan buat kita. Kita lihat saja track record kita bermain di Parepare (Stadion BJ Habibie). Kita mendulang tiga poin di setiap pertandingan, kecuali satu pertandingan draw didapatkan," katanya pada Rabu (30/11/2022).

Sambungnya, dengan sistem bubble euforia suporter seperti di Stadion BJ Habibie tidak akan ditemui.

Setiap kali PSM bermain di Stadion BJ Habibie, ada sekira 15 ribu-18 ribu suporter yang hadir beri dukungan.

Suporter bernyanyi dan melakukan koreografi sebagai dukungan kepada pemain selama pertandingan berlangsung.

"Tentu saja, kita harus sadar, lingkungan, atmosfer, suasana dalam Stadion BJ Habibie, Parepare tidak akan kita dapatkan di mana pun. Hanya di Parepare. Jadi ini bukan suatu keuntungan buat kita," lanjut pelatih berlisensi UEFA Pro ini.

Tavares menyebut, dengan sistem bubble akan berdampak pada keuangan tim.

Hal ini bisa berimbas pembayaran gaji pemain, staf, ofisial dan biaya operasional tim.

"Kita bermain bubble aka memberi dampak pada kekuatan finansial, pada pendapatan. Tentu ini akan berbeda pada saat kita bermain di kandang kita sendiri. Berimbas kepada apa yang bisa kita gunakan untuk bayar pemain, staf, operasional dan lain-lain," ungkapnya. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved