Pemkab Sleman Dorong Gerakan Lumbung Pangan Kedua untuk Atasi Inflasi Melalui Ketahanan Pangan

Pemkab Sleman membuat gerakan penyediaan lumbung pangan kedua dan penghematan energi, melalui SE Bupati Sleman Nomor 059 Tahun 2022.

Editor: Content Writer
DOK PEMKAB SLEMAN
Bupati Sleman, Hj. Kustini Sri Purnomo sedang memanen cabai kualitas unggulan. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Untuk mengantisipasi inflasi yang terjadi akibat kenaikan BBM di Kabupaten Sleman mendorong Pemerintah Kabupaten Sleman membuat gerakan penyediaan lumbung pangan kedua dan penghematan energi, melalui SE Bupati Sleman Nomor 059 Tahun 2022.

Pada Hari Pangan Sedunia Oktober lalu, Pemkab Sleman memberikan bantuan berupa bibitĀ  tanaman sayuran sebanyak 23.900 bibit (bibit kacang panjang, cabai, timun, terong, tomat, kobis, brokoli, dan kembang kol), polybag 76 kg, benih cabai, benih caisin dan benih tomat sebanyak 42 pack, kepada 45 kelompok wanita tani dari 17 kapanewon.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Suparmono mengatakan gerakan mengembangkan lahan pekarangan untuk menanam sumber pangan sudah digaungkan sejak lama.

Meski Kabupaten Sleman memiliki lahan sawah yang dilindungi seluas 14ribu hektare dan lebih dari 18ribu hektare lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B), namun pemanfaatan pekarangan harus tetap digaungkan.

"Kita dorong masyarakat untuk mengembangkan lahan pekarangan rumahnya untuk sumber pangan, bisa pertanian buah sayur, peternakan, perikanan.Ya paling tidak untuk kebutuhan gizi keluarga, "katanya, (23/11/2022).

Agar gerakan lumbung pangan kedua tersebut berjalan baik, pihaknya mengoptimalkan peran penyuluh danĀ  Kelompok Wanita Tani (KWT).

Ia menyebut di setiap kalurahan ada seorang penyuluh yang bertugas untuk membina dan mendampingi masyarakat yang akan mengelola pertanian, peternakan, maupun perikanan.

Selain itu, KWT yang juga merupakan binaan DP3 Sleman tersebut juga menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam menyukseskan program lumbung pangan kedua.

"Sampai saat ini ada 348 KWT yang teregistrasi di Sleman. Di semua kapanewon ada, tetapi tidak mesti ada di kalurahan. Kami dorong terus agar KWT ini juga berkembang. Memang minimalnya satu dusun punya satu KWT, jadi pemanfaatan pekarangan lebih optimal,"terangnya.

Selain memanfaatkan pekarangan untuk kebutuhan gizi keluarga, KWT juga merupakan bagian dari pemberdayaan perempuan.

Ditambah lagi kegiatan pertanian,perikanan, maupun peternakan yang dilakukan dapat menambah nilai ekonomi. Tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi ada KWT yang mulai membuat produk olahan.

"Kebanyakan masih menanam sayur, tetapi ada juga yang kami dampingi untuk ternak ayam petelur dan lele. Jadi selain gizi keluarga terjaga, ada tambahan ekonomi, karena bisa dijual. Nah saat ini juga mulai ke produk olahan, ya mulai ke UMK (Usaha Mikro Kecil). Ada beberapa kelompok yang setiap pekan menggelar pasar untuk komoditas dan olahan dari KWT juga,"lanjutnya.

Suparmono mendorong agar masyarakat bisa memanfaatkan pekarangan untuk sumber pangan. Pihaknya pun bersedia memberikan bibit tanaman, baik sayur maupun buah.

Masyarakat hanya perlu membuat surat permohonan yang diketahui oleh penyuluh dan lurah.

"Biasanya yang mengajukan PKK, dasawisma, sekolah juga ada, malah bisa untuk edukasi anak-anak. Tetapi masyarakat juga boleh mengajukan, silahkan. Nanti penyuluh akan membantu mendampingi, sehingga nanti bisa sesuai dan berkembang. Paling tidak gizi keluarga tercukupi,"imbuhnya.(adv\reskyamaliah).

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved