Bunuh Diri

Tanda-tanda Orang Mau Bunuh Diri Diungkap Dosen Psikolog UKI Toraja

Ada banyak alasan orang kemudian memutuskan dirinya untuk bunuh diri, faktor utamanya adalah tidak mampu untuk menahan masalahnya. 

Penulis: Kristiani Tandi Rani | Editor: Muh. Irham
Tribun Toraja/Kristiani Tandi Rani
Dosen psikologi UKI Toraja, Iindarda Sakkung Panggalo saat foto bersama dengan Kristian HP Lambe di acara peluncuran buku Mentuyo 

TORAJA, TRIBUN-TIMUR.COM - Setiap tahun puluhan warga Toraja meninggal karena bunuh diri. Seperti kasus yang diteliti oleh Kristian HP Lambe pada tahun 2020, terdapat 30 kasus bunuh diri di Toraja. Hal ini menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat.

Dosen Psikologi Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja, Iindarda Sakkung Panggalo mengatakan bunuh diri sebenarnya bukan keinginan orang untuk mati tapi secara psikolog orang itu sudah tidak sanggup. 

"Bunuh diri itu sebenarnya adalah hal yang kita hindari semua. Tapi memang banyak sekali yang terjadi dan sebenarnya orang melakukannya bukan karena mau mati tapi memang secara psikologi dia sudah merasa tidak sanggup," katanya pada Tribun Timur. 

Ada banyak alasan orang kemudian memutuskan dirinya untuk bunuh diri, faktor utamanya adalah tidak mampu untuk menahan masalahnya. 

"Tidak sanggup lagi untuk menahan kesakitannya, penderitaannya dan lain-lain," ujarnya. Rabu (9/11/2022).  

Bunuh diri sebenarnya dapat dicegah dengan dimulai dari orang terdekat, karena seorang yang bunuh diri biasanya akan memberikan tanda tertentu. 

"Untuk mencegah itu sebenarnya bisa dimulai dari orang terdekat, jadi kalau orang mau bunuh diri itu pasti menimbulkan tanda-tanda, gejala-gejala tertentu," jelas dosen Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja ini. 

Tanda pertama yang diberikan orang ketika hendak bunuh diri adalah bersikap aneh dari biasanya. 

"Jadi kalau saya melihat orang di sekitar sudah menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya itu orang sekitar sudah harus lebih peka," imbuhnya. 

Meskipun bunuh diri dapat dicegah oleh orang terdekatnya, namun untuk beberapa kasus yang sudah tidak sanggup untuk mendampingi sebaiknya dibawa ke pihak yang lebih memahami, seperti tokoh agama atau psikog

"Tapi kalau memang sudah tidak sanggup untuk mendampingi bisa dirujuk begitu ke orang yang berhak, bisa tokoh agama, kalau masih sekolah bisa ke guru BKnya, tapi yang paling penting keluarga sih dan bisa ke psikolog atau ke psikiater," jelasnya. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved