Lewat BRI Peduli, Limbah Masker yang Terurai dalam 300 Tahun Diolah Jadi Pot Tanaman

BRI menggelar kegiatan pengumpulan limbah masker non infeksius yang diolah menjadi pot tanaman.

DOK. Humas BRI
BRI menginisiasi kegiatan BRI Peduli Penanganan Limbah Masker Non Infeksius dengan menyediakan fasilitas pengumpulan limbah masker (drop box) dan peralatan sterilisasi awal yang dapat memudahkan proses pengumpulan. 

TRIBUNTIMUR.COM – Masker menjadi tameng pengaman masyarakat agar tidak tertular virus Covid-19. Tak heran, pandemi Covid-19 meningkatkan penggunaan masker sekali pakai di seluruh dunia.

Di sisi lain, penggunaan masker juga menimbulkan masalah baru, yaitu penumpukan limbah dari masker yang sudah dipakai masyarakat.

Berawal dari menumpuknya limbah masker non-infeksius tersebut, BRI menginisiasi kegiatan BRI Peduli Penanganan Limbah Masker Non-Infeksius.

Kegiatan itu melibatkan pekerja BRI di lingkungan kantor BRI, seperti penyediaan fasilitas pengumpulan dan peralatan sterilisasi awal yang dapat memudahkan proses pengumpulan.

Tempat pengumpulan masker (drop box) diletakkan di area terbuka. Untuk kegiatan monitoring, ada petugas yang secara berkala mengecek drop box pengumpul masker.

Lalu, limbah masker tersebut dikirim ke tempat pengolahan bijih plastik yang menjadi lokasi pengolahan masker.

Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengungkapkan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian BRI terhadap lingkungan.

Sama seperti halnya sampah plastik lainnya, kata dia, apabila tidak dikelola dengan benar, limbah masker juga dapat mencemari lingkungan.

“Kami mengajak pekerja BRI untuk peduli terhadap lingkungan dan menjaga keseimbangan alam”, ungkapnya dalam siaran pers, Rabu (9/11/2022).

Dalam pengolahan limbah masker, BRI menggandeng Yayasan Upakara Bhuvana Nusantara (UBN). Yayasan yang berdiri pada 2021 dan berlokasi di Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.

Pendiri Yayasan UBN Sugeng Waluyo mengungkapkan bahwa yayasan ini pada awalnya bergerak di sektor pelestarian lingkungan. Namun, khusus pada masa pandemi Covid-19 beralih haluan untuk mengolah limbah masker non infeksius.

“Kalau limbah plastik lainnya kan orang sudah mulai mendaur ulang, tapi khusus masker ini belum, tidak ada yang berani mengolahnya, sedangkan masker itu terbuat dari plastik polypropylene,” kata Sugeng.

Berdasarkan aturan pemerintah, limbah masker terbagi menjadi dua. Pertama, limbah masker infeksius, yaitu masker yang berasal dari layanan fasilitas kesehatan dari rumah sakit.

Sesuai prosedur dari pemerintah, limbah dari kelompok masker tersebut harus dimusnahkan karena termasuk dalam limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved