Pemerintah Berupaya Dorong Pertumbuhan Ekonomi dengan Komitmen Capai Net-Zero Emissions di 2060
Airlangga Hartarto mengikuti kegiatan The Cooler Earth Sustainability Summit 2022 yang diadakan oleh CIMB Niaga, Rabu (21/9/2020).
MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengikuti kegiatan The Cooler Earth Sustainability Summit 2022 yang diadakan oleh CIMB Niaga, Rabu (21/9/2020).
Dalam kegiatan ini dibahas pula berbagai strategi pemerintah yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan telah diwujudkan.
Diantaranya, pemerintah komitmen mencapai net-zero emissions di tahun 2060 atau lebih cepat.
Lewat hal tersebut, ekonomi hijau diharap dapat tumbuh menjadi mainstream dari kebijakan Pemerintah.
Menko Airlangga menekankan bahwa energi alternatif atau renewable energy memiliki cost competitive yang setara.
Juga dapat menjaga baseload yang diperlukan dalam pertumbuhan ekonomi.

Sementara, pembiayaan hijau juga memiliki peran penting mendukung transformasi ekonomi hijau di Indonesia.
Mengenai pembiayaan hijau tersebut, Menko Airlangga telah menjelaskan bahwa Pemerintah mendorong berbagai instrumen, seperti Green Sukuk dan beberapa pemanfaatan dari refinancing Green Sukuk.
Lewat pengembangan pembangunan fasilitas dan infrastruktur energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya, mikrohidro dan minihidro.
“Instrumen alternatif seperti blended finance juga disiapkan, terutama skema pembiayaan dengan menampung dana dari filantropi atau swasta serta dari berbagai lembaga pengelola dana multinasional maupun perencanaan seperti ADB atau World Bank," jelas Airlangga.
Sementara, Badan Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup juga telah didirikan untuk membantu pembiayaan pada program ekonomi hijau.
Baca juga: Airlangga Hartarto Sambut Baik Kunjungan Menhan Prabowo, Bahas Isu Global dan Permasalahan Nasional
Menko Airlangga melanjutkan bahwa beberapa program EBT di Indonesia dibantu dari pembiayaan sejumlah lembaga yang berbentuk Development Finance Institution (DFI) dan Export Credit Agency (ECA).
"Indonesia sendiri diperkirakan memerlukan investasi hingga tahun 2060 sebesar 77.000 triliun rupiah," terangnya.
Besaran investasi tersebut untuk mencapai berbagai target net-zero emmissions di tahun 2060.
Koordinasi dan integrasi menjadi penting dalam melakukan transformasi ekonomi hijau.
Dikarenakan transformasi tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah, tetapi seluruh stakeholder.
“Negara lain tengah berlomba untuk mempercepat transisi menuju ekonomi hijau, termasuk Indonesia. Ke depan, pangsa bahan bakar fosil akan berkurang dan energi bersih akan meningkat,” tutupnya.(adv/rerifaabdurahman).