Ilham Arief Sirajuddin, dari Nominasi Wali Kota Terbaik Dunia hingga Berhasil Terima 168 Penghargaan
Arief Sirajuddin atau Aco membagikan pengalamannya selama memimpin dan membangun Kota Makassar.
Penulis: Inang Jalaludin Shofihara | Editor: AMALIA PURNAMA SARI
TRIBUN-TIMUR.COM – Nama Ilham Arief Sirajuddin atau Aco atau Ias bukan nama asing bagi masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya Kota Makassar.
Pasalnya, Aco pernah menjabat sebagai Wali Kota Makassar selama dua periode, yakni 2004–2009 dan 2009–2014. Dia juga pernah menjabat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel periode 1999–2004.
Politisi senior dari partai Golongan Karya (Golkar) ini pun menjadi salah satu pejabat daerah yang paling berprestasi di Indonesia. Sebab, ketika memimpin Kota Makassar, Aco mendapatkan 168 penghargaan.
Salah satu penghargaan yang menurutnya paling luar biasa adalah ketika mendapatkan nominasi Wali Kota Terbaik Dunia (World Mayor Prize) 2012.
Aco mengatakan, semua penghargaan yang didapat bukanlah by design karena dia bekerja nothing to lose. Dia pun bersyukur jika pekerjaannya mendapatkan apresiasi dari pihak lain.
Baca juga: Nurdin Halid Pimpin Konsolidasi Kader Golkar di Bone, Sinyal Maju Pilgub atau Pemilu 2024?
“Ada dua prinsip yang harus saya urus. Pertama, menyenangkan hati rakyat. Apa pun yang mereka tidak suka kami perbaiki, seperti jalanan rusak kami perbaiki, layanan umum kurang bagus kami perbaiki,” ujarnya melansir kanal YouTube G24 Channel, Sabtu (3/9/2022).
Kedua, lanjut Aco, adalah membantu pangan rakyat. Menurutnya, memperbaiki hal ini sama dengan memperbaiki ekonomi Kota Makassar.
“Pada 2013, pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan bangga dengan Kota Makassar yang pertumbuhan ekonominya bisa dua digit atau di atas China dan Singapura,” ungkapnya.
Salah satu cara yang dilakukan Aco untuk meningkatkan ekonomi Kota Makassar adalah meyakinkan dan memperlancar investor supaya menanamkan modal dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Kalau dipersulit bisa, tapi saya butuh mereka untuk nanam duit di Makassar. Investasi ini otomatis menggerakkan ekonomi saya, masyarakat kecil kena dapat duitnya,” katanya.
Baca juga: Nurdin Halid Serukan Kader Golkar Bone Massifkan Konsolidasi Demi Kemenangan Partai
Kemudian, Aco juga aktif jalan-jalan atau bersepeda dari gang ke gang untuk menyapa masyarakat sehabis salat subuh. Dengan cara ini, sebutnya, dia bisa berolahraga sekaligus bersilaturahmi dengan masyarakat.
“Kalau diingatkan ‘ini kalau saya datang lagi nggak boleh lagi ada sampah’, ini langsung diumumkan ke warga lain. Warga kan bangga diajak ngobrol sama Wali Kota. Makanya saya keliling,” jelasnya.
Cita-cita Aco
Aco mengatakan, dirinya punya satu cita-cita ketika hendak mencalonkan diri menjadi Wali Kota Makassar, yaitu mengulang keberhasilan yang dilakukan wali kota terdahulu dengan memberikan legasi atau peninggalan yang dapat dikenang masyarakat.
Dia menjelaskan, Wali Kota Makassar pada 1968 adalah Patompo. Pada masa kepemimpinannya, ada satu wilayah yang menjadi bantaran sungai dan selalu kebanjiran saat musim hujan.
“Akhirnya, Patompo membuat tanggul di situ. Selamatlah dua kecamatan di situ dari banjir. Meski tanggulnya biasa saja, orang mengenal tanggul itu sebagai Tanggul Patompo karena itu warisan dia,” ungkapnya.
Baca juga: Lantik 141 Pengurus DPD II Golkar Bone, Taufan Pawe Minta Kader Menangkan Airlangga Hartarto
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ilham-arief-sirajuddin-atau-akrab-disapa-aco-dalam-acara-local-leader.jpg)