Kilas Tokyo

Semua Tidak Instan

Di era bubble economy Jepang tahun 1970-1990, ada dua penyebab kematian di Jepang yang sangat mengkhawatirkan yaitu kecelakaan dan bunuh diri.

Editor: Sudirman
DOK PRIBADI
Muh Zulkifli Mochtar 

Oleh: Muh Zulkifli Mochtar

Doktor alumni Jepang, bermukim di Tokyo

Di era bubble economy Jepang tahun 1970-1990, ada dua penyebab kematian di Jepang yang sangat mengkhawatirkan; kecelakaan lalu lintas dan kasus bunuh diri. Dua issue sosial yang sangat krusial.

Traffic Fatality akibat kecelakaan mencapai puncaknya lebih dari 16 ribu jiwa korban tahun 1970.

Salah satu penyebabnya adalah jumlah kendaraan bermotor signifikan meningkat. Demikian juga suicide cases bunuh diri, mencapai puncaknya tahun 1998 mencapai lebih 30 ribu lebih kematian.

Banyak kalangan menilai jam kerja terlalu panjang sebagai salah satu penyebab.

Pemerintah Jepang pun mengeluaran amandemen ketat tentang pengaturan jam kerja. Diikuti berbagai program pencegahan berkolaborasi dengan organisasi kesehatan Jepang.

Semenjak itu jumlah bunuh diri berhasil ditekan, turun menjadi 15,8 per 100 ribu populasi. Atau sekitar 20.202 kasus ditahun 2020. Jepang kini bukan lagi negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi dunia.

Kolom kali ini tidak membahas tentang bunuh diri. Tapi tentang traffic fatality accident. Bagaimana kini kondisinya?

Ternyata jumlahnya turun secara konstan dan signifikan, jauh sekali meninggalkan angka bunuh diri.

Jepang mencatat tinggal 3.416 fatality road accident tahun 2020, mengindikasikan penurunan 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya 2019.

Sangat menurun signifikan dibanding hampir 16 ribu kasus tahun 1970. Kini traffic fatality berkisar 2,7 per 100 ribu penduduk.

Bersama Norwegia, Irlandia, Swedia dan Swiss, Jepang menjadi salah satu terendah diantara keseluruhan negara OECD.

Bagaimana bisa turun sesignifikan itu? Menurut Road Safety Report 2021 oleh ITF – OECD, titik kulminasi terjadi di bulan Juni 1970 ketika pemerintah Jepang mulai memberlakukan Undang-Undang Kebijakan Keselamatan Lalu Lintas untuk mempromosikan langkah-langkah keselamatan lalu lintas secara nasional secara sistematis di pusat dan provinsi.

Perhatian sangat besar diarahkan ke pengetatan penggunaan sabuk pengaman dan perbaikan lingkungan lalu lintas yang berkelanjutan.

Tidak puas di situ saja. Genderang perang terhadap kecelakaan lalulintas justru makin ditabuh. Program Keselamatan Lalu Lintas ke-11 diluncurkan pada Maret 2021.

Tahun 2021 lalu jumlah fatality turun lagi hingga 2.636 kematian. Tujuan akhir program ingin menjadikan Road Traffic Jepang teraman didunia. Targetnya; no more than 2000 death, and no more than 22.000 serious injuries.

Strateginya beragam, mulai dari pemeliharan road environment, rule enforcement, vehicle safety dan banyak lagi.

Penggunaan mobile phone disaat mengemudi juga mendapat perhatian besar. Karena sekitar 0,3 persen dari traffic crashes disebabkan oleh penggunaan alat ini.

Juga penegakan peraturan penggunaan seat belt. Penyediaan jalan yang lebih aman bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda juga menjadi fokus, karena keduanya memang adalah kategori terbesar kematian akibat kecelakaan. Masing masing 35 persen dan 17 persen dari total korban.

Jalan yang aman buat anak-anak juga menjadi fokus penting. Kita sering mendengar bahwa anak kecil di Jepang berjalan kaki sendiri ditengah lalu lintas ramai menuju sekolah.

Situasi itu tidak dibangun instan, bukan sulap menyulap. Tetapi melalui berbagai proses traffic measurement dan road safety education yg berkelanjutan.

Tanggung jawab Road Safety di Jepang ada pada institusi Polisi. Kementerian Infrastruktur dan Transportasi bertanggung jawab pada struktur dan lingkungan jalan yang aman.

Lalu Kementerian Pendidikan punya tanggung jawab atas edukasi keselamatan lalu lintas di sekolah. Semuanya bersinergi. Menghasilkan kondisi jalan yang semakin aman dari hari ke hari.

Bagaimana dengan kita? Sayang sekali, Data Korlantas Polri menunjukkan lebih dari 25 ribu jumlah traffic fatality tahun lalu. Salah satu yang tertinggi didunia.

Belajar dari experiences Jepang, mereka berhasil menekan traffic fatality melalui kerja keras dari generasi ke generasi berikutnya, program berkelanjutan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya. Semuanya bukan kerja instan.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved