Opini Anwar Arifin AndiPate

Opini Anwar Arifin AndiPate; Ekonomi Syariah

“Ekonomi syariah bisa mendorong sumber-sumber ekonomi baru, khususnya dibidang rantai nilai halal, sekaligus mendukung pengendalian harga pangan."

INFOGRAFIS TRIBUN TIMUR
Anwar Arifin AndiPate 

TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa hari lalu (3/9/22) diselenggarakan “Digital & Shariah Economic Festival (Digisef)” di Kota Bandung.

Pada pembukaan, Deputi Guberbur Bank Indonesia, Juda Agung menyatakan, “Ekonomi syariah bisa mendorong sumber-sumber ekonomi baru, khususnya dibidang rantai nilai halal, sekaligus mendukung pengendalian harga pangan.

Menurut Juda ekonomi syariah yang Islami, meliputi peenyediaan makan halal, busana, hingga pariwisata ramah Muslim.

Festival tersebut bertujuan mengembangkan ekonomi syariah (ekonomi Islami) berbasis digital, sehingga bisa menikmati manfaat ekonomi Islami yang beromzet 2 triliun dollar AS pertahun. Apakalagi ekonomi dan keuangan syariah (ekonomi Islami), menunjukkan perkembangan menggembirakan.

Tahun 2021 Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan pengembangam ekosistem ekonomi keuangan syariah di dunia.

Baca juga: Opini A Yahyatullah: Gerakan Mahasiswa, Hotel atau Jalanan

Bangsa kita telah punya “Bank Syariah Indonesia”, dengan menghimpun unit syariah pada semua bank konvensional. yang sudah lama ada seperti di Malaysiah dan Berunai.

Tak salah jika sebuah riset (2003) menyebut di Asia Selatan dan Tenggara, syariah atau “syariat Islam” sangat menonjol. Sedangkan di Timur Tengah yang diutamakan “aqidah Islam” (misalnya, tak boleh ada patung dll) dan yang menonjol di Eropa adalah“ ahlak Mulia”.

Sangat ironis karena hasil riset tersebut sejalan hasil studi tahun 2019, tentang“ekonomi Islami”, yang menunjukkan bahwa negara-negara Non-Muslim lebih berhasil menerapkan prinsip dasar ekonomi berdasarkana ajaran Alquran, daripada negara-negara Muslim.

Prinsip itu antara lain: (1).Keadilan, kesetaraan, kemakmuran, kebahagian, penghematan. kebijakan ekonomi dan bisnis, (2) .Standar moral, kejujuran, dan kepercayaan yang lebih tinggi dalam semua interaksi ekonomi (Quran 13:11, 17:16) dan (3) .

Keadilan semua aspek manajemen ekonomi, yaitu hak milik dan kesucian kontrak (Quran 2:188 dan 4:29). Riset bertajuk Indeks Ekonomi Islam itu, menempatkan Indonesia yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, pada peringkat ke-61 dari 151 negara. Sedangan Emirate Aeab yang terbaik dalam penerapan prinsip Islam, hanya berada diperingkat ke-44,

Sedangkan negara-negara Non-Muslim, seperti: Selandia Baru menempati posisi pertama. Disusul: Swedia, Islandia, Belanda, Swiss, Denmark, Irlandia, Norwegia, Australia, Finlandia, Kanada, Jerman, Austria, Hong Kong, Jepang, dan Inggris, Bahkan Israel memperlihatkan komitmen pada prinsip-prinsip Islami dalam menangani “Ekonomi Islami” dan bisnis,daripada negara-negara Muslim.

Tampaknya indeks itu memiliki korelasi pringkat negara di Eropa,dengan “minat baca” tertinggi didunia (2016): seperti:: Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, Amerika Serikat, Jerman, Latvia, dan Belanda.Indonesia hanya diperingkat ke-60 dari 61 negara (2016).

Hasil-hasil studi tersebut sejalan penyataan Mohammad Abduh (1862-1905) dari Mesir, “Saya menemukan Islam di Eropa, tetapi tidak menemukan Muslim, dan saya menemukan Muslim di Mesir, tapi tak menemukan Islam”.

Sikap positif Mohammad Abduh pada perdaban Barat itu, berdasar pengamatannya selama berada di Eropa, yang menerapkan nilai universal Islam, yang tumbuh dari tradisi membaca “(Iqra)” sesuai perintahTuhan yang pertama kepada Nabi Muhammad saw.

Studi eknomi Islami tersebut merupakan bagian proyek riset tentang perkembangan Indeks Ekonomi Islam yang diakukan dua peneliti dari George Washington University. Mereka adalah Profesor Scheherazade S.Rehman (Pakar Keuangan Internasional) dan Profesor Hossein Askari (Pakar Bisnis Internasiona). (*) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved