Breaking News:

Curhat Nelayan di Maros, Tangkapan Sepi Biaya Operasional Meningkat

Para nelayan mengatakan kenaikan harga BBM terbaru sangat tidak seimbang dengan pemasukan mereka setiap kali melaut.

Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Waode Nurmin
TribunMaros.com/Nurul Hidayah
Nelayan di Desa Tupa'biring,Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Minggu (4/9/2022) 

TRIBUNMAROS.COM, MAROS - Para nelayan di Dusun Campagayya, Desa Tupa'biring, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, mulai mengeluhkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar dan Pertalite.

Salah satu Nelayan, Ambo tuo mengaku semakin tingginya harga BBM ini akan sangat berdampak ke biaya operasional setiap kali mereka turun melaut.

Dalam sekali melaut nelayan menggunakan BBM jenis solar.

"Kami selaku nelayan kecil sebenarnya tidak setuju, sebelum naik, kita sudah meradang, apalagi sulit untuk mendapatkannya di SPBU dan dibatasi, pengambilannya," katanya, Minggu (4/9/2022).

Ia pun mengatakan kenaikan harga BBM terbaru sangat tidak seimbang dengan pemasukan mereka setiap kali melaut.

Untuk sekali melaut, nelayan membutuhkan sekitar 30 liter.

Biasanya mereka memperoleh solar dari pengecer dengan harga Rp 7 ribu perliternya.

"Sekarang setiap kali turun melaut kita menggunakan 30 liter solar, jika harga solarnya naik seperti sekarang maka otomatis kami akan mengeluarkan uang lebih, karena kami biasanya mengambil di tempat eceran, dan itu belum termasuk biaya makan dan minum," keluhnya.

Nelayan pun berharap agar Pemerintah bisa menurunkan kembali harga BBM jenis solar dan pertalite.

"Sekarang itu hasil tangkapan menurun, kadang kita merugi kadang pula kembali modal, kami berharap Pemerintah bisa mendengarkan keluhan kami agar rencana kenaikan bbm ditunda dulu," katanya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved