Opini Anwar Arifin AndiPate
Kualitas Manusia
Beberapa hari lalu (10 Dzulhijjah 1443.H atau 9 dan 10 Juli 2022,M) berlangsung Hari Raya Idul Adha di Indonesia yang berkaitan ibadah haji.
Kualitas Manusia
Oleh: Anwar Arifin AndiPate
TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa hari lalu (10 Dzulhijjah 1443.H atau 9 dan 10 Juli 2022,M) berlangsung Hari Raya Idul Adha di Indonesia yang berkaitan ibadah haji di Arab Saudi.
Selesai salat Idul Adha, kaum muslimim mulai memotong hewan qurban (hari Yaumum Nahar 10 Dzulhijjah) dan dilanjutkan dihari Tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah).
Kemudian daging hewan qurban itu sebagian dibagi kepada sesama manusia sesuai syariat Islam.
Kita patut bersyukur kepada Allah,SWT dan berselawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Syariat Islam itu telah melahirkan “tradisi berbagi” yang kemudian diserap dalam sila pertama, Ketuhanan YME, dalam Pancasila.
Tradisi berbagi dalam Islam telah membentuk peradaban Islami masyarakat.
Dalam ajaran Islam dikenal adanya kewajiban mengeluarkan zakat, sedekah, dan wakaf sebagai ciri orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.
Takwa merupakan implikasi iman dan Islam. Takwa sebagai apresiasi ketuhanan mendalam, akan memacar keluar dalam bentuk AKHLAK MULIA dan AMAL SALEH yaitu tindakan dan karya manusia yang bermanfaat bagi orang lain, dalam meningkatkan martabatnya.
Hal itu akan melahirkan KESALEHAN SOSIAL bagi seseorang, baik sebagai makluk individu maupun sebagai makhluk sosial.
Rasulullah Muhammad s.a.w, bersabda, “Sebaik-sebaik manusia, adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama manusia” (Hadis, Tabrani & Ad-Daruquni). Allah juga berfirman, “Barang siapa yang melakukan kesalehan sosial, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang beriman, maka mereka itu masuk kedalam surga, dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun (QS.Syrat An Nisa (4) ayat 124).
Daging hewan qurban yang dibagikan kepada sesama manusia, yang jarang mengonsumsi daging, agar daging itu dapat meningkatkan gi zi, kesehatan, keserdasan dan KUALITAS MANUSIA.
Rakyat kita masih memerlukan banyak daging, karena meskipun konsumsi daging rakyat telah 10,3 kg/kapita/tahun, namun target pemerintah 35 kg belum tercapai.
Indonesia masih jauh di bawah Malaysia, 48 kg dan Filipina. Padahal ada sekitar 88 persen penduduk Indonesia Bergama Islam, mestinya banyak yang berqurban.
Selain rakyat Indonesia kurang mengonsumsi daging, juga sekitar 90 persen tidak minum susu.
Sebaliknya 90 persen penduduk India minum susu.
Konsumsi susu kita hanya 6,50 liter/kapita/tahun, jauh lebih rendah dari India, 60 liter, Benggalades, 31,55 liter, dan Kamboja, 12, 97 liter.
Juga rakyat kurang mengonsumsi ikan, (hanya 35 kg/kapita/tahun. Pemerintah menargetkan 40 kg.
Berarti Indonesia masih jauh dibawah Malaysia, 45 kg, padahal Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km dan wilayah lautan skitar 580 juta hektar (75,32 persen).
Juga rakyat hanya mengonsumsi 11 kg telur perkapita pertahun, padahal Pemerintah menargetkan 40 kg.
Kondisi tersebut menggambarkan rendahnya kesehatan mayoritas rakyat, banyak sakit-sakitan, kurang cerdas, dan miskin. Bahkan masih ada sekitar 27,67 persen anak balita yang bertubuh pendek (stunting) akibat kurang gizi kronis atau gagal tumbuh yang berdampak buruk juga pada kecerdasan anak.
Tak salah jika KUALITAS MANUSIA Indonesia masih terhitung rendah yang membuat ‘modal manusia’ Indonesia juga rendah (peringkat ke-87 dari 188 negara).
Tingkat kecerdasan kita, rata-rata IQ-nya 82, jauh dibawah Singapura (108), Jepang (105) dan Cina (105). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/anwar-arifin-andipate-1-2432022.jpg)