Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Jaga Inflasi Jelang Lebaran

Ummat muslim didunia telah melewati lebih dari setengah perjalanan di bulan Ramadhan, kurang lebih sepekan lagi, seluruh ummat muslim

Editor: Sudirman
Arya Yahya
Arya Yahya, S.ST, M.Ec.Dev, Statistisi Ahli pada Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan 

Oleh: Arya Yahya, S.ST, M.Ec.Dev

Statistisi Ahli pada Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan

Ummat muslim didunia telah melewati lebih dari setengah perjalanan di bulan Ramadhan, kurang lebih sepekan lagi, seluruh ummat muslim akan merayakan hari besar idul fitri, tidak terkecuali di Indonesia.

Sukacita menjalani bulan puasa dan menyambut idul fitri diekspresikan oleh ummat muslim dengan penuh kebahagian, salah satu yang istimewa adalah meningkatnya pemenuhan kebutuhan baik pangan maupun non pangan.

Oleh karena itu, para ekonom biasanya menyebut bulan ramadhan dan idul fitri sebagai bulan akselerasi ekonomi.

Selama bulan ramadhan, terlebih lagi menjelang idul fitri, permintaan akan barang atau jasa umumnya mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain.

Permintaan barang dan jasa atau demand yang mengalami kenaikan terutama menjelang idul fitri pada akhirnya akan mendongkrak harga ke level yang lebih tinggi.

Harga-harga yang mengalami kenaikan hampir terjadi di semua kelompok pengeluaran, mulai dari makan minum, pakaian dan alas kaki, perlengkapan dan pemeliharan rumah tangga, hingga transportasi.

Dari historis data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), paling tidak dalam 5 tahun terakhir, inflasi yang terjadi di bulan-bulan dimana ramadhan dan idul fitri berlangsung, nilainya pada umumnya selalu lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain.

Misalnya di bulan Juni tahun 2017 (0,69 persen), bulan Juni tahun 2018 (0,59 persen), bulan Mei tahun 2019 (0,68 persen), dan bulan Mei tahun 2021 (0,32 persen).

Kenaikan harga yang relatif rendah saat bulan Ramadhan dan Idul Fitri berlangsung, hanya terjadi di tahun 2020, inflasi pada bulan tersebut hanya 0,07 persen.

Pada tahun tersebut pandemik Covid-19 sedang merebak, sehingga pembatasan sosial terjadi dimana-mana, akibatnya aktivitas ekonomi juga ikut menurun termasuk demand dan supply yang juga bersama-sama mengalami penurunan.

Kenaikan harga utamanya jelang lebaran sebenarnya dapat diterima jika naik dalam rentang harga yang wajar, tetapi kadangkala untuk beberapa komoditas tertentu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, harga naik dengan gejolak yang cukup besar.

Faktor demand yang tinggi bukan menjadi penyebab satu-satunya gejolak harga terjadi karena meskipun demand tinggi, supply barang dan jasa juga sebenarnya tersedia dalam jumlah yang besar.

Seharusnya dengan supply yang banyak, gejolak harga tidak terjadi, jikapun terjadi kenaikan harga, naiknya masih dalam tahap yang wajar.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved