Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Demonstrasi 11 April 2022, Pesan Sejarah Gerakan Mahasiswa

Ribuan pahlawan yang telah gugur menumpahkan darah dan nyawa. HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Jenderal Soedirman, Muhammad

Editor: Edi Sumardi
DOK PRIBADI
drg Rustan Ambo Asse 

drg Rustan Ambo Asse

Alumnus Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin

DALAM sejarah perjuangan bangsa ini ada ribuan pahlawan yang telah gugur menumpahkan darah dan nyawa.

Para tokoh-tokoh pendiri bangsa adalah mereka yang memiliki gagasan yang dibalut semangat kesadaran ingin lepas dari penjajahan.

HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Jenderal Soedirman, Muhammad Natsir dan masih banyak lagi di antaranya yang menjalani masa perjuangan yang begitu perih sebagai anak bangsa.

Di antara mereka bahkan harus meringkuk dan hidup di penjara dalam pembuangan, menghadapi ganasnya malaria di Boven Digoel atau terasingnya kehidupan di Pulau Banda.

Mereka adalah penanda sejarah yang mestinya hadir dalam setiap gagasan untuk membangun Nasionalisme ke-Indonesiaan.

Para pemimpin negeri ini patut melakukan sebuah refleksi sejarah, merenungkan kembali jalan perjuangan para pendahulu kita agar demokrasi dapat berjalan lurus dan bermartabat, semata-mata untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Demokrasi Pancasila di Indonesia tumbuh dari hasil perenungan, buah dari pergulatan gagasan tokoh-tokoh pendiri bangsa itu jangan sampai mengalami fase kemunduran dan hanya menjadi simbol dan dongeng semata.

Betapa naif dan tragis bangsa ini,ketika jalan demokrasi tidak menuntun anak negeri untuk saling bahu membahu.

Yang terjadi justru sebaliknya terjadi perebutan kekuasaan oligarki, memelihara politik identitas yang saling membuat luka, dan pada akhirnya melupakan tujuan dari sebuah bangsa yang lahir untuk bebas dari segala bentuk penjajahan.

Kekuasaan oligarki hanya menjadikan Negara sebagai instrumen kapital yang serakah dan jika demikian negara tak lagi hadir memperjuangkan keadilan buat rakyatnya, bahkan yang muncul adalah tirani dan korupsi.

Moral force

Demonstrasi mahasiswa selalu hadir dalam kondisi tertentu.

Ada suatu romantika kemahasiswaan yang hanya akan tumbuh pada setiap zaman.

Bagaimanapun paradoksnya sebuah gerakan mahasiswa dan kemungkinanya untuk dimanfaatkan oleh kepentingan kuasa tertentu.

Tapi yang pasti suara-suara keadilan yang mereka perjuangkan disadari atau tidak telah mewakili sebuah gagasan untuk kembali kepada keberpihakan terhadap keadilan.

Keadilan tidak bisa dijawab oleh data statistik keberhasilan pemerintah, rencana dan kampanye serta ambisi pembangunan.

Tapi keadilan hadir dalam intuisi publik ketika harga bahan pokok terjangkau, rakyat hidup secara tenteram dan damai, tidak ada diskriminasi hukum dan HAM, para koruptor ditangkap semu dan para pemimpin di negeri menjadi contoh dan panutan masyarakat.

Ketika terjadi konflik dan perbedaan gagasan termasuk menguatnya politik identitas yang mencabik rasa Nasionalisme selama ini, maka para tokoh bangsa ini hadir sebagai pemersatu secara menyejukkan.

Demonstrasi pada 11 April 2022 kemarin adalah sebuah pertanda bahwa sejarah pergerakan mahasiswa akan senantiasa abadi sebagai "moral force".

Bahkan dalam era sekarang perlawanan dapat menjelma dalam berbagai bentuk.

Inspirasi sebuah gerakan massa seperti Arab Spring adalah fenomena yang tak dapat diprediksi.

Bahkan jatuhnya sebuah rezim dapat terjadi hanya karena hal-hal yang dianggap sepele.

Gagasan haus kuasa tiga periode presiden adalah sebuah pengkhianatan kepada rakyat.

Mereka lupa bahwa mahasiswa dan rakyat terus mengawasi, mereka akan mencatat lapor merah dan prestasi para anggota DPR, partai politik, menteri, dan pemimpin yang mereka pilih.

Pesan untuk mantan aktivis

Di media sosial, respon terhadap demonstrasi mahasiswa juga berbeda-beda.

Ada yang mendukung ada juga yang tidak.

Tapi konon bagi mahasiswa itu lumrah dalam sebuah gerakan.

Namun yang menarik adalah munculnya aksi diam dari tokoh-tokoh Reformasi 98.

Ke mana mereka yang dulu menyuarakan hal yang sama.

Ke mana mereka yang telah mengisi pengkaderan mahasiswa dengan idealisme, antitirani, pro demokrasi.

Ke mana mereka yang seharusnya memiliki titisan sejarah dan sikap terhadap agenda-agenda Reformasi 98.

Sudah sangat sulit menemukan tokoh seperti Bung Hatta yang memiliki integritas dan idealisme untuk bangsa ini.

Hatta telah memberikan tauladan yang baik. Ketika telah mundur dan pensiun dari jabatan wakil presiden dan menerima tawaran menjadi komisaris perusahaan, maka dengan tegas dia menolak.

Bahkan dalam masa-masa setelah itu seorang Hatta menjalani hidup sangat sederhana.

Namun, kini yang sering kita saksikan adalah sebagian di antara mereka yang katanya sedang mengisi kemerdekaan sejatinya hanya bagi-bagi kekuasaan, korupsi dan merampok uang negara, melupakan rasa keadilan bagi rakyat yang seharusnya mereka perjuangkan.

Bahkan beberapa diantara mereka yang sangat idealis dan garang pada saat mahasiswa terkesan "nyinyir",

Hal seperti ini tentu akan diuji oleh sejarah, untuk mereka yang mantan aktivis sejauh mana integritas itu melekat dalam dirinya, dan juga sekaligus pesan untuk mereka para mahasiswa bahwa kelak di kemudian hari anda semua akan diuji oleh godaan yang sama.

Kesadaran dan pemihakan terhadap kebenaran yang anda tanamkan ketika mahasiswa akan diuji oleh waktu.

Apakah suatu saat ketika anda berada dilingkar kuasa tetap seperti dulu atau mengikuti jejak sebagian di antara mereka sebagai mantan aktivis yang mengkhianati bangsanya sendiri.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved