Hasil Survei SABI
Anak Muda di Sulawesi Lebih Galaukan Karier dan Pekerjaan Dibanding Jodoh
Anak muda ( generasi milenial dan generasi Z ) di Pulau Sulawesi pada saat ini sedang galau karena berbagai persoalan hidup dihadapi.
TRIBUN-TIMUR.COM - Anak muda ( generasi milenial dan generasi Z ) di Pulau Sulawesi pada saat ini sedang galau karena berbagai persoalan hidup dihadapi.
Persoalan tersebut mulai dari bagaimana mendapatkan pekerjaan dan ketersediaan lapangan kerja, karier, keuangan, pendidikan, kerusakan lingkungan, infrastruktur jalan dan jembatan, kesehatan.
Selain persoalan dihadapi, juga kecenderungannya dalam menjalani aktivitas keseharian, bagaimana bersosialisasi, dan di mana selalu nongkrong.
Namun, persoalan tersebut rupanya tak hanya dihadapi anak muda di Sulawesi, pulau yang terdiri 6 provinsi.
Di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, dan Papua pun demikian, tapi persentase kecenderungannya berbeda-beda.
Di Sulawesi, mendapatkan pekerjaan menjadi masalah terbesar anak muda, namun tak demikian dengan di Sumatera.
Masalah finansial (keuangan) justru jadi masalah terbesar.
Di Bali, masalah quarter life crisis jadi masalah terbesar, tapi di Kalimantan, masalah terbesar adalah karier dan pekerjaan.
Demikian yang terpotret dari hasil survei Research dan Analytics KG Media dengan Litbang Kompas bertajuk “Aspirasi Anak Muda Indonesia”.
Survei ini digelar pada periode 5 Januari 2022 hingga 9 Februari 2022 dengan melibatkan 3.224 responden yang berusia 17 tahun ke atas.
Para responden tersebar di 8 pulau besar di Indonesia, termasuk di Sulawesi.
Survei ini dilakukan dengan metode random sampling dan polling.
Hasil survei dipaparkan Manajer Riset & Analitik KG Media, Bagas Adi P di hadapan sejumlah pemimpin redaksi di internal KG Media, Jumat (8/4/2022) kemarin.
Masalah ekonomi
Ada dua kesulitan besar yang menjadi kegalauan anak muda, yaitu masalah ekonomi dan non-ekonomi.
Secara umum, mayoritas anak muda di Sulawesi menghadapi isu yang pertama dengan persentase 46 persen.
Masalah ekonomi yang paling bikin galau terdiri masalah bagaimana mendapatkan pekerjaan (22 persen) dan finansial (20 persen).
Sedangkan anak muda yang lebih galau dengan kesulitan non-ekonomi sebesar 35 persen.
Masalah non-ekonomi yang dicemaskan terdiri karier dan pekerjaan (20 persen), quarter life crisis (jati diri, self development); kemampuan bersosialisasi, adaptasi, membangun relasi, pergaulan, dll; persoalan akadaemik (tugas, perkuliahan, skripsi, belajar, dll) (masing-masing 5 persen).
Masalah percintaan (jodoh dan asmara) rupanya tak menjadi soal yang bikin galau bagi anak muda di Sulawesi sebab hanya 1 persen responden yang menghadapinya.
Masalah keuangan
Bentuk kesulitan finansial yang dihadapi oleh anak muda, antara lain ialah pendapatan yang tidak menentu, penghasilan menurun, besaran gaji yang kurang, pemborosan, dan kehabisan uang jajan.
Berdasarkan hasil survei, diduga setidaknya ada empat penyebab kesulitan tersebut, yaitu sindrom Fear of Missing Out , fenomena You Only Live Once, rendahnya literasi keuangan, dan menurunnya pendapatan kami karena pandemi.
Keterbukaan dan kecepatan arus informasi melalui berbagai platform media digital membuat sebagian anak muda terjerat sindrom Fear of Missing Out (FOMO), atau khawatir tertinggal sesuatu.
Bukan hanya tertinggal informasi, tetapi juga tren terbaru tentang apa yang dilakukan dan dimiliki orang lain.
FOMO ditandai dengan keinginan untuk selalu merasa menang dan tidak tertinggal dari orang lain.
Ketertinggalan dari orang lain akan membuat orang-orang dengan sindrom ini mengalami kecemasan.
FOMO bisa membuat seseorang merasa kesepian, memiliki self-esteem rendah, dan kurang mengasihi diri sendiri.
Orang-orang dengan sindrom ini rela menghabiskan uangnya, bahkan nekat berutang, untuk hal-hal yang cenderung tidak penting demi tetap up to date.
Jadi, FOMO bukan hanya merugikan kesehatan mental, tetapi juga berdampak buruk pada kondisi finansial anak muda.
Beralih ke penyebab berikutnya, fenomena You Only Live Once (YOLO).
YOLO merupakan gaya menikmati hidup yang berfokus pada apa yang dialami hari ini tanpa memikirkan risiko atau kemungkinan di masa depan.
Anak muda yang mengikuti fenomena ini sering sekali menghabiskan uangnya sekaligus untuk menikmati hidup tanpa menyisihkannya untuk ditabung.
YOLO memiliki prinsip “bagaimana nanti”, bukan “nanti harus bagaimana”.
Selanjutnya adalah faktor rendahnya literasi keuangan.
Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis pada 2019 lalu, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia hanya 38,03 persen.
Berbanding terbalik dengan indeks literasi keuangan, survei yang sama menunjukkan indeks inklusi keuangan justru mencapai 76,19 persen.
Artinya, ada banyak masyarakat yang telah menggunakan produk atau jasa keuangan formal, meskipun pemahaman literasi keuangan mereka masih rendah.
Penyebab terakhir kesulitan finansial generasi kami adalah menurunnya pendapatan karena pandemi Covid-19.
Seperti diketahui, pagebluk tidak hanya menjadi bencana non-alam global yang mengguncang sektor kesehatan.
Sektor perekonomian masyarakat pun terpukul hebat.
Masa depan ditakutkan
Masalah finansial dan mendapat pekerjaan ternyata menjadi ketakutan dominan bagi generasi muda di seluruh wilayah Indonesia dalam 5 hingga 10 tahun mendatang.
Persepsi ketakutan terhadap keduanya lebih tinggi dibandingkan masalah lain, termasuk yang terkait variabel non-ekonomi.
Namun, jika melihat persentase secara keseluruhan, berbagai topik yang terkait variabel non-ekonomi justru mendominasi ketakutan di masa depan bagi generasi muda.
Perbandingannya di Sulawesi, variabel ekonomi 21 persen dan non-ekonomi 42 persen.
Ketakutan anak muda di Sulawesi mengenai masa depan lebih didominasi oleh masalah karier dan pekerjaan (12 persen), dibanding finansial (9 persen).(*)