Opini Tribun Timur
Ramadan dalam Puasaran Konsumerisme
Beberapa waktu kedepan menjadi momentum yang tepat dalam merefleksikan diri sekaligus menimba berbagai amalan yang berlipat ganda.
Oleh Muh Akbar
Mahasiswa Sosiologi Universitas Hasanuddin
Bulan ramadhan telah menghampiri umat muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Beberapa waktu kedepan menjadi momentum yang tepat dalam merefleksikan diri sekaligus menimba berbagai amalan yang berlipat ganda.
Selain itu, di bulan penuh berkah ini solidaritas antar umat akan menemukan arenanya dalam usaha merakit sedikit demi sedikit apa yang telah di luluh-lantahkan pandemi selama kurun waktu dua tahun.
Namun, dalam semarak yang penuh syukur dan sukacita ini, ada satu problema umat yang tidak pernah sekalipun absen dalam agenda bulan suci Ramadan.
Problema ini telah diwacanakan berkali-kali oleh berbagai kalangan, yang paling anyar adalah pernyataan Ulama dus Wakil Presiden, KH. Ma’ruf Amin beberapa hari lalu.
Beliau dalam sambutan panjangnya memperingatkan keberadaan bulan ramadhan janganlah dijadikan sebagai bulan yang konsumtif, melainkan kita harus memaknainya sebagai bulan keprihatinan.
Meski pesan yang disampaikan melalui akun medsos (Instagram) beliau cukup substansial.
Agaknya ini semacam pesan normatif yang terus saja diproduksi dari ramadhan ke ramadhan, tanpa menelisik akar dari masalah, mengapa masyarakat terpengaruh gaya hidup konsumerisme selama bulan Ramadan?
Konsumerisme Dalam Data
Untuk mendedahkan seberapa urgennya praktik konsumerisme selama bulan Ramadan pada umat Indonesia, penulis akan mengutip data dari laman meta-search Iprice.co.id yang menunjukkan pola konsumsi masyarakat tetap meningkat, meski dan masih dilanda pandemi.
Begini rinciannya:
Pada tahun 2021 produk dalam kategori fashion menduduki peringkat pertama dengan total minat belinya meningkat hingga lebih dari 8000 % untuk kaftan dalam periode 2 minggu pertama di bulan Ramadhan.
iPrice membandingkan impression pada Google Analytics di periode 2 minggu awal Ramadan pada tahun 2021 dan 2020.
3 dari 5 top produk yang paling meningkat minat belinya berada dalam kategori fashion yaitu gamis pada posisi ketiga meningkat hingga 2800
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muh-Akbar-Mahasiswa-Sosiologi-Universitas-Hasanuddin.jpg)