Mengenal Masjid Muhammad Cheng Hoo di Makassar, Dirancang dengan Arsitektur Chinese
Bangunan masjid tersebut tampak unik dan berbeda dengan masjid lain di Makassar.
Penulis: Wahyudin Tamrin | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Masjid Muhammad Cheng Hoo. Sebuah masjid bernuansa Chinese berdiri di Jl Danau Tanjung Bunga, Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
Bangunan masjid tersebut tampak unik dan berbeda dengan masjid lain di Makassar.
Bagian atas masjid tidak berbentuk kubah seperti pada umumnya, melainkan berbentuk pagoda.
Warna bangunan juga didominasi warna merah. Beberapa warna lain mencampuri yakni putih dan kuning.
Di bagian depan terdapat taman, tempat duduk, serta prasasti yang bertuliskan Masjid Muhammad Cheng Hoo. Di bawah nama Muhammad Cheng Hoo, juga terdapat tulisan huruf China
Masjid tersebut terdiri dari dua lantai. Saat salat, perempuan menempati lantai 1, dan laki-laki di lantai 2.
Pengurus Masjid sekaligus sebagai Imam, Agus Ramdani mengatakan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 2012.
Masjid ini menjadi salah satu harapan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Mereka menginginkan setiap daerah memiliki masjid dengan nuansa China.
"Di Sulsel baru tiga. Ada di Gowa dan juga di Bantaeng," katanya saat ditemui di lantai 2 masjid tersebut usai salat Asar, Sabtu (2/4/2022).
"Semuanya bernama Muhammad Cheng Hoo," lanjutnya.
Agus Ramdani menjelaskan bahwa nama tersebut merupakan laksamana asal China yang datang ke Indonesia pada abad ke-15.
Ia adalah orang Tionghoa yang turut andil menyebarkan agama Islam di Nusantara.
"Jadi beliau mengembara ke Indonesia. Selain membawa misi sebagai prajurit, beliau juga seorang da'i yang menyebarkan agama di nusantara ini," katanya.
"Itulah sebabnya digunakan nama itu," tambahnya.
Masjid ini, kata Agus Ramdani bisa dibangun karena bantuan Hj Ramlah Kalla Aksa.
Dialah yang mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid yang bernama Muhammad Cheng Hoo itu.
"Jadi yang membangun itu Ibu Hj Ramlah. Beliau wakafkan untuk kepentingan kaum muslimin," katanya.
"Namun, untuk pengelolaannya dari awal sudah diamanahkan kepada PITI," lanjutnya.
Sehingga PITI menentukan arsitektuernya bernuansa Chinese. Termasuk juga nama Muhammad Cheng Hoo.
Di Indonesia, Masjid Muhammad Cheng Hoo pertama kali dibangun di Surabaya. Di sanalah awal mula PITI mendirikan masjid bernuansa Chinese.
Kemudian di kota lain juga dibangun, termasuk di Sulawesi Selatan.
"Sekarang sudah ada 19 Masjid Cheng Hoo di Indonesia," katanya.
Meski didirikan tahun 2012, masjid ini sudah mulai digunakan untuk salat tahun 2013.
Kapasitas masjid ini bisa menampung sampai 800 orang.
Kemudian untuk program di bulan ramadan, kata Agus Ramdani, juga sama dengan masjid pada umumnya yakni digunakan salat berjamaah lima waktu.
Dimalam hari juga salat tarawih berjamaah setelah salat Isya. Juga ceramah sebelum tarawih.
Kemudian setiap hari, santri madrasah hafidz Qur'an yang berada di dekat Masjid itu juga tadarrusan di masjid Muhammad Cheng Hoo.
"Kebetulan masjid ini juga ada pondok pesantren tajwidnya," katanya.
"Jadi mereka yang akan tadarrus setiap hari 1 juz," lanjutnya.
Selain itu, pengurus masjid juga menyediakan takjil 200 pack dan nasi dos 100 pack setiap harinya selama bulan ramadan. (*)
Laporan wartawan Tribun Timur, Wahyudin Tamrin
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/masjid-cheng-hoo2_20160701_231952.jpg)