Hari Kebudayaan
Cara SD Inpres Mallengkeri Bertingkat Peringati Hari Kebudayaan Makassar
UPT SPF SD Inpres Mallengkeri Bertingkat Makassar meniadakan proses belajar mengajar di kelas, Jumat (1/4/2022).
Penulis: Wahyudin Tamrin | Editor: Sudirman
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - UPT SPF SD Inpres Mallengkeri Bertingkat Makassar meniadakan proses belajar mengajar di kelas, Jumat (1/4/2022).
Hal tersebut dilakukan demi merayakan Hari Kebudayaan Kota Makassar yang dimulai sejak empat tahun lalu.
"Hari ini siswa tidak ada yang belajar di kelas," kata Kepala Sekolah UPT SPF SD Inpres Bertingkat, Rosmiati.
Baca juga: Hari Kebudayaan Makassar Jadi Panggung Ekspresi Baru Bagi Pelaku Seni dan Budaya
Baca juga: Warna-warni Budaya Nusantara Dipertontonkan di Hari Kebudayaan Makassar
"Khusus hari ini, semua siswa belajar budaya," lanjutnya.
Sekolah tersebut berlokasi di Kompleks Tabaria, Jl Mannuruki Blok F2 No 1, Mannuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
UPT SPF SD Inpres Bertingkat ini merayakan hari Kebudayaan Kota Makassar dengan cara semua siswa dan guru ke sekolah menggunakan pakaian adat.
Para siswa dan guru juga menggelar upacara memperingati hari budaya.
Rosmiati juga membacakan pidato Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto terkait hari Kebudayaan Kota Makassar.
Setelah upacara, siswa melakukan karnaval berkeliling di kompleks BTN Tabaria. Lalu para siswa mengikuti panggung aksi.
Ada tiga jenis lomba yang diadakan. Fashion show, menyanyi lagu daerah, dan lomba hias kue tradisional.
Kue tradisional ini dibawa oleh siswa dan orangtuanya, yang sebelumnya telah dibagi perkelas.
"Saya cuma sampaikan ke siswa bawa sebisanya saja," kata Rosmiati.
"Ternyata banyak orangtua siswa yang membawa kue tradisional. Ini di luar dugaan sebelumnya," tambahnya.
Rosmiati menjelaskan bahwa kegiatan perayaan ini juga telah dilakukan di tahun sebelumnya.
Namun tidak semeriah ini.
"Ini juga arahan dari pak Walikota," ucapnya.
Ia berharap melalui kegiatan ini siswa bisa lebih mudah memahami budaya yang ada di sekitarnya.
Sehingga, budaya daerah tetap lestari dan dipahami oleh para pembelajar.
Bukan hanya siswa, kata Rosmiati, tetapi para orangtua siswa yang hadir juga bisa belajar memahami budaya yang ada.
Budaya yang dimaksud seperti lagu daerah, pakaian adat, serta kue tradisional yang dibawa hari ini.
"Harapannya anak-anak dan orangtuanya memahami budayanya, sehingga budaya kita ini tetap lestari," harapnya. (*)
Laporan wartawan Tribun Timur, Wahyudin Tamrin.