Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Teropong

Terasa

Perjalanan waktu menyusuri kehidupan ini terkadang orang mengatakan “tidak terasa” sudah melewati waktu sekian lamanya.

Editor: Sudirman
DOK PRIBADI
Dosen Ilmu Komunikasi Unhas, Abdul Gafar 

Abdul Gafar

Perjalanan waktu menyusuri kehidupan ini terkadang orang mengatakan “tidak terasa” sudah melewati waktu sekian lamanya.

Padahal sesungguhnya yang terjadi adalah terasa sekian waktu telah dilalui secara bersama.

Kehidupan yang menggoda memang dapat melalaikan kita dalam menghitung waktu.

Kita sedang melupakan waktu ketika dalam kondisi yang mengasyikkan saja.

Namun ketika keadaan berbalik, barulah kita mulai sadar bahwa ada waktu yang telah kita lewati ternyata membawa masalah.

Roda kehidupan akan berjalan terus mengikuti arusnya sendiri.

Kapan ia akan berhenti, berbelok atau terus dan terus berjalan semua telah terjadwalkan.

Tidak ada yang akan keluar dari jalur yang telah ditetapkan.

Itulah ketentuan yang mesti disadari bahwa ada rasa yang melekat di situ.

Perjalanan karier penulis dalam melakoni kehidupan ini terasa betul.

Sebagai Aparatur Sipil Negara dengan profesi pendidik akhirnya harus berhenti berdasarkan undang-undang kepegawaian.

Terasa benar, empat puluh tahun mengabdi untuk bangsa, negara, dan agama.

Suka dan duka menyatu dalam untaian waktu yang berjalan seiring.

Kemarin, dalam dies natalis Fisip Unhas yang ke-61, Pimpinan Fakultas telah menyerahkan piagam penghargaan atas pengabdian sebagai ASN.

Dunia akademik penuh dengan dinamika yang selalu bertumbuh dan berkembang mengikuti situasi dan waktu yang ada.

Dalam dunia politik dan pemerintahan, masa pengabdian akan terasa begitu variatif.

Ada yang dapat bertahan hingga masa jabatan yang dipersyaratkan selesai, tuntas dengan baik dan mulus.

Namun tidak sedikit juga yang ‘terpaksa’ dihentikan di tengah masa pengabdiannya karena terlibat kasus pidana yang berat.

Jabatan terkadang membutakan mata kita akan kebenaran.

Selama ada peluang untuk berbuat sesuatu yang sifatnya menguntungkan, ‘sikat’ saja hingga bersih.

Istilah orang kebanyakan ‘aji mumpung’. Mumpung lagi punya kuasa, kuasai segera.

Kalau ada waktu sekarang, mengapa mesti ditunda besok. Kalau kamu bisa, aku pun bisa. Kalau kamu tidak bisa, aku bisa. Nah, apa ingin dikata ?

Jabatan yang terasa meninggalkan kesan enak, pasti akan dipertahankan dan diulang lagi.

Banyak contoh yang menunjukkan betapa yang terasa enak akan menjadi incaran banyak orang. Masa-masa indah dan menyenangkan selalu akan diulang, diulang, dan diulang.

Sebaliknya jika terasa tidak menyenangkan orang akan berusaha menghindarinya dengan segala cara dan upaya.

Misalnya saja di kampus, seorang tenaga pendidik berusaha menduduki posisi sebagai ketua departemen, dekan, ataupun rektor.

Begitu terlewati satu periode, ingin diulang lagi untuk masa jabatan berikutnya.

Begitu pula kondisi di luar sana. Posisi walikota, bupati, gubernur hingga presiden barulah terasa jika diulang untuk masa jabatan berikutnya.

Ada semacam candu yang selalu menggoda untuk menikmatinya terus.

Persoalan terasa, penulis sudah alami dalam beberapa pekan terakhir. Adanya syaraf kejepit yang menyebabkan rasa sakit yang sangat mengganggu aktivitas.

Semua saudara penulis telah mengusahakan berbagai cara dan upaya agar penulis terhindar dari rasa nyeri di kaki.

Teman-teman jamaah di masjid pun turut prihatin atas kenyerian yang penulis rasakan.

Misalnya saja Jamaluddin Fachruddin, Ust Jamaluddin Jamil, Ir Hamid Hoddy, Dr. Hamzah Sanusi, Prof. Basit Wello, dan Prof. Latief Toleng.

Bahkan terakhir Prof. Haedar turut memfasilitasi untuk mengatasi rasa nyeri ini.

Peran ibu dari kedua putra penulis sebagai ‘pemijat’ yang setia setiap saat bertugas sangat terasakan.

Rasa sakit dan nyeri ini diharapkan hanya sekali saja. Jangan sampai berulang terasakan. Aduh, sakittt !

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved