ITB Nobel Makassar
Dies Natalis ke-23 Tahun ITB Nobel, Mutiawan M Handaling: Ini Capaian Luar Biasa
Perayaan pun berlangsung dengan suasana khidmat dan sederhana dengan jumlah yang terbatas.
Penulis: Muh. Abdiwan | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM MAKASSAR - Tepat hari ini, Rabu (23/2/2022), Institut Teknologi dan Bisnis atau ITB Nobel Indonesia kini berusia 23 tahun.
Perayaan pun berlangsung dengan suasana khidmat dan sederhana dengan jumlah yang terbatas.
Dalam kegiatan Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Nobel Makassar Mutiawan M Handaling dalam sambutannya mengaku bersyukur, karena Nobel Indonesia kini berusia 23 tahun dan terus eksis hingga kini, berkat kerja keras dari seluruh karyawan dan sivitas akademika.
"Usia 23 itu pencapaian luar biasa, saya harap teman-teman jangan takabur, kita sering merasa Nobel itu besar di Indonesia Timur, e-learning sudah bagus, yang ada hal itu bisa membuat kita jemawa," kata dia, di Nobel Convention Center, Jalan Sultan Alauddin, Rabu (23/3/2022).
Ia menegaskan bahwa di usia ke 23 tahun adalah momentum untuk terus memperbaiki diri sehingga tidak menyesal dikemudian hari.
Sementara itu, Rektor Nobel Indonesia, Dr Badaruddin ST MM menambahkan, melalui Gala Dies Natalis ke-23 ini, menjadi momentum untuk merefleksi apa yang telah dilewati dan momentum untuk menghadapi apa yang terjadi kedepannya.
Menurut Mantan Ketua Yayasan Pendidikan Nobel Indonesia itu, ada dua orang berperan besar sehingga Nobel Indonesia terus eksis, dia adalah Dr H Natsir Muhammad SE MM dan Dr H Mashur Razak SE MM.
"Beliau (Natsir Muhammad) yang menjadi negosiator, dari Nobel yang lama menjadi Nobel yang baru, baru melaksanakan Pak Mashur Razak," katanya.
Berkat peran mereka, kata dia, STIE Nobel Indonesia Makassar menjadi sekolah terbaik versi LLDikti. Setelah itu, tahun 2021 berubah nama menjadi Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia
Selain itu, ia mengemukakan ada tiga hal yang akan ditekankan setelah status Nobel beralih dari insititut ke sekolah tinggi.
Penekanan tersebut mulai dari kualitas, relevansi, dan pembelajaran yang atraktif.
“Nobel ini sudah punya kualitas, karena dulu waktu menjadi STIE, dia sekolah tinggi terbaik versi LLDikti. Nah ini modal bagus secara peringkat ini pengakuan dari Nobel,” ujar dia.
Kendati begitu, capaian tersebut tidak membuat Nobel puas. Mereka ingin melangkah lebih jauh dengan mempersiapkan diri menuju akreditasi internasional.
“Kalau itu terjadi mungkin Nobel akan menjadi PTS pertama di sini yang terakreditasi internasional. Sejak berubah menjadi institut, kita sudah mencanangkan visi baru sebagai PT internasional jadi kita memang membangun kualitas dan kelas itu bukan kualitas lokal,” paparnya.
Perjalanan menuju akreditasi internasional ini sudah mulai mereka jalankan.
Mereka menarget sudah bisa rampung pada 2022 ini dan sudah bisa meraih akreditasi internasional pada 2023 nanti.
Selain akreditasi internasional, penekanan Nobel juga terkait relevansi. Dalam hal ini, yakni bagaimana menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan dunia industri dengan metode pembelajaran di kampus.
“Itulah kenapa dosen itu kita 70 persen di antaranya praktisi. Mereka punya akademik yang bagus dibarengi praktisi, di bidang pemerintahan, perbankan, industri, semua ada di Nobel,” sebutnya.
Badaruddin menjelaskan, penekanan lainnya yakni membangun pembelajaran yang atraktif. Menurutnya, kelas memang perlu dibuat menjadi nyaman dengan metode belajar yang menarik.
“Kita mulai dari melatih dosen kita membangun yang aktraktif. Kalau tidak mampu membangun kelas aktraktif yang berhadapan dengan generasi Z, mereka akan datang melongo dan tidak dapat apa-apa,” tukasnya.
Di momentum kali ini, ia berharap dalam Gala Dies Natalis semoga seluruh pihak terus kompak, serta bersinergi dalam menghadapi berbagi tantangan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/nobel-indonesia-8876.jpg)