Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Virus Coroa

Beda dengan Indonesia, Warga Malaysia Justru Sengaja Mau Tertular Omicron Bikin Menkesnya Bertindak

Entah dari mana sumber medisnya, sejumlag warga negara Malaysia ingin tertular Covid-19 varian Omicron agar segera terbentuk kekebalan kelompok.

Editor: Sakinah Sudin
Kolase Tribun Timur/ Sakinah Sudin
Kolase: Foto Ilustrasi/Warga Malaysia berkerumun (Tribunnews.com), serta Omicron (KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo) 

TRIBUN-TIMUR.COM - Sejumlah warga di negara Malaysia nyatanya tidak takut tertular virus Corona atau Covid-19 varian Omicron.

Bahkan, sejumlah warga itu sengaja ingin tertular Omicron.

Entah dari mana sumber medisnya, sejumlag warga negara Malaysia ingin tertular Covid-19 varian Omicron dengan tujuan agar segera terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Kabar aneh itu pun sampai juga ke Menteri Kesehatan atau Menkes Malaysia, Khairy Jamaluddin.

Secara tegas dia melarang rakyat Malaysia sengaja tertular virus Covid-19 varian Omicron untuk mencapai kekebalan kelompok.

Aksi sejumlah warga negara di Malaysia itu berbeda dengan di Indonesia.

Di Indonesia, masyarakat diminta untuk terus waspada dengan Omicron.

Sejumlah hal dilakukan pemerintah Indonesia untuk menekan laju penyebaran Omicron.

Lantas apa yang dilakukan Menkes Malaysia dengan warganya tersebut?

Apa pula yang dilakukan Indonesia dalam menekan laju penyebaran Omicron?

Berikut selengkapnya!

Sejumlah Warga Malaysia Sengaja Ingin Tertular Omicron

Dilansir Tribun-timur.com dari Tribunnews.com, di Malaysia sejumlah warga negara itu sengaja  tertular Covid-19 varian Omicron.

Tujuannya agar segera terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Kabar itu sampai ke Menteri Kesehatan (Menkes) Malaysia Khairy Jamaluddin.

Secara tegas dia melarang rakyat Malaysia sengaja tertular virus Covid-19 varian Omicron atau menolak vaksinasi Covid-19 untuk mencapai kekebalan kelompok.

Hanya karena varian Omicron dipandang lebih ringan dan kurang mematikan.

Seperti dilansir Straits Times, Minggu (16/1/2022) via Tribunnews.com, Khairy mengatakan respons setiap individu terhadap virus dapat sangat bervariasi.

"Kita tidak tahu bagaimana efek virus pada pasien, apakah dia divaksinasi atau tidak, atau bagaimana sindrom 'covid panjang' akan terjadi," kata Khairy.

"Masih belum ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa terinfeksi varian Omicron akan memberi kita kekebalan kelompok."

“Alhamdulillah kita tahu Omicron lebih ringan, tapi bukan berarti kita harus keluar dan tertular,” ujarnya usai membuka program GO-NGO Model KK 2.0 tingkat nasional untuk mengakhiri infeksi HIV di Puskesmas Pandamaran, Minggu. 

Program ini merupakan kerja sama antara pemerintah Malaysia dan lembaga swadaya masyarakat yang memanfaatkan klinik kesehatan pemerintah secara nasional untuk menjangkau dan merehabilitasi pasien yang terinfeksi HIV atau human immunodeficiency virus.

Khairy menanggapi pertanyaan tentang pernyataan ahli virologi bahwa penularan Omicron yang tinggi dan gejala yang lebih ringan dan tingkat kematian yang lebih rendah, dapat membantu membangun kekebalan kelompok di masyarakat.

Profesor Gert Van Zyl di Departemen Virologi Medis Universitas Stellenbosch di Afrika Selatan mengatakan kepada Anadolu Agency, karena penularannya yang tinggi, Omicron dapat membantu membangun kekebalan kawanan seperti yang telah diamati pada orang yang sebelumnya pulih dari virus corona, serta mereka yang telah divaksinasi.

Ketika ditanya, Khairy menegaskan telah terbukti secara ilmiah setiap infeksi Covid-19 akan meningkatkan kekebalan seseorang.

"Itu infeksi alami. Tapi jangan gunakan argumen itu untuk sengaja tertular Covid-19. Itu sangat konyol," tambahnya.

“Pesan Kementerian Dalam Negeri sederhana, jangan mau tertular Covid-19 apapun variannya. Jangan sampai tertular virus dengan sengaja,” imbuhnya.

Malaysia melaporkan 3.074 infeksi Covid-19 baru pada Sabtu (15/1/2022) tengah malam, sehingga total nasional menjadi 2.805.337 kasus, menurut Kementerian Kesehatan.

Di antara kasus baru, 319 adalah kasus impor, dan 2.755 ditransmisikan secara lokal, menurut data yang dirilis di situs web kementerian.

Malaysia juga mencatat 19 kematian akibat Covid-19 pada periode tersebut, sehingga jumlah kematian menjadi 31.781 orang.

Pemerintah Indonesia Imbau Kembali WFH hingga Tunda Perjalanan Luar Negeri

Dilansir dari Kompas.com, kasus Omicron di Indonesia terus bertambah.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 15 Januari 2022 menyebutkan, total ada 748 kasus varian asal Afrika itu. Sebelumnya, pada 12 Januari 2022, terdapat 572 kasus Omicron di Tanah Air.

Dari 748 kasus, 569 di antaranya merupakan pelaku perjalanan luar negeri yang baru tiba di Indonesia. Sementara, 155 sisanya adalah transmisi lokal.

Di samping itu, saat ini terdapat 1.800 kasus probable Omicron yang masih terus diteliti.

Pemerintah pun memprediksi situasi ini akan terus meningkat. Puncak kasus Omicron diproyeksikan baru terjadi pada akhir Februari atau pertengahan Maret mendatang.

“Beberapa yang kami amati, berangkat seperti kasus Covid di Afsel (Afrika Selatan), puncak gelombang Omicron ini berada di pertengahan Februari hingga awal Maret ini,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers yang ditayangkan YouTube Sekretariat Negara, Minggu (16/1/2021).

Merespons situasi ini, pemerintah mengambil sejumlah kebijakan.

Upaya ini ditempuh demi menekan laju penyebaran Omicron.

  • Kembali WFH

Salah satu yang diimbau pemerintah merespons meluasnya Omicron yakni pemberlakuan kembali work from home (WFH) atau bekerja dari rumah.

Jika memungkinkan, perusahaan diminta tak melaksanakan work from office (WFO) 100 persen.

"Kami mengimbau kalau di kantor tak perlu 100 persen ya tak usah 100 persen hadir. Jadi diatur saja dilihat situasinya apakah dibikin 75 persen untuk dua pekan ke depan," kata Luhut, Minggu.

Luhut mengatakan, setiap perusahaan bisa melakukan asesmen sesuai keadaannya masing-masing untuk menentukan kebijakan WFH. Bila tidak mengganggu produktivitas, opsi WFH harus diambil.

"Kita serahkan pada pimpinan perusahaan untuk melakukan asesmen sendiri. Saya mengimbau opsi tersebut bisa diambil. Hal ini semata-mata dilakukan untuk menjaga kasus tetap terkendali," kata dia.

Vaksin 2 kali
Tak hanya itu, pemerintah juga akan kembali memperketat aktivitas masyarakat di tempat-tempat publik.

Luhut mengatakan, hanya orang yang sudah divaksin 2 kali yang bisa beraktivitas di ruang publik.

"Persyaratan masuk ke tempat publik akan diperketat, hanya yang sudah vaksinasi dua kali dapat beraktivitas di tempat publik," kata dia.

Menurut Luhut, tidak ada salahnya pemerintah mulai membatasi dan menahan mobilitas masyarakat di luar rumah serta aktivitas berkumpul yang tidak perlu.

"Kalau tidak perlu kumpul-kumpul, tidak usah kita kumpul," ujarnya.

Adapun hingga saat ini cakupan vaksinasi dosis kedua belum mencapai 100 persen.

Mengutip data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per Minggu (16/1/2022) pukul 18.00 WIB, jumlah masyarakat yang sudah divaksinasi dosis kedua mencapai 119.774.308 orang atau 57,51 persen dari total target sasaran vaksinasi.

Sementara, jumlah yang sudah disuntik vaksin dosis pertama sebanyak 176.365.995 orang atau 84,68 persen.

Pemerintah menetapkan sasaran vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity) yaitu 208.265.720 orang.

  • Tak keluar negeri

Salah satu yang ditekankan pemerintah sejak awal kemunculan varian Omicron yakni imbauan untuk menunda perjalanan ke luar negeri, kecuali urusan penting.

Imbauan ini berlaku bagi seluruh pihak, termasuk pegawai pemerintahan.

Baca juga: Menkes: Jakarta, Medan Perang Pertama Hadapi Omicron

"Presiden meminta agar seluruh masyarakat dapat membatasi diri untuk berpergian ke luar negeri. Hanya kalau betul-betul perlu saja baru pergi ke luar negeri," kata Luhut.

"Malah, pejabat-pejabat pemerintah sudah dilarang untuk tidak melakukan perjalanan ke luar negeri untuk tiga minggu kedepan ini," lanjutnya.

Luhut mengatakan, pihaknya juga tengah memaksimalkan metode daring (online) dalam menyelenggarakan kegiatan rapat-rapat di pemerintahan.

Ia pun mengimbau seluruh kementerian dan lembaga agar meminimalkan metode yang sama dalam kegiatan-kegiatan rapat.

"Tetapi tidak melarang juga untuk ketemu. Saya serahkan juga kepada teman-teman untuk melakukan asesmen sendiri," kata Koordinator PPKM Jawa-Bali itu.

  • Evaluasi PPKM hingga vaksinasi

Di samping itu, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akan terus diterapkan sebagai instrumen pengendalian pandemi di Tanah Air.

Rencananya, evaluasi perpanjangan PPKM Jawa-Bali kembali dilakukan seminggu sekali untuk mengantisipasi perkembangan Omicron yang begitu cepat.

“Pemerintah juga akan kembali melakukan asesmen PPKM yang dievaluasi setiap minggunya dan menghapus asesmen dua minggu, semata-mata untuk mengikuti perkembangan kasus Omicron yang diprediksi meningkat sangat cepat ini,” kata Luhut.

Luhut melanjutkan, pihaknya terus memantau perkembangan kasus varian Omicron di sejumlah negara untuk memprediksi segala kemungkinan ke depan.

Dia mengklaim pemerintah bakal melakukan berbagai langkah mitigasi agar tren peningkatan kasus Omicron di Indonesia lebih landai dibandingkan negara lain.

Selain langkah-langkah di atas, upaya lain yang ditempuh yakni penegakan protokol kesehatan hingga akselerasi vaksinasi.

Pemerintah, kata Luhut, akan melakukan akselerasi vaksin booster bagi seluruh masyarakat, utamanya yang tinggal di wilayah Jabodetabek.

Bersamaan dengan itu, vaksinasi dosis kedua untuk umum dan lansia juga terus didorong, terutama di provinsi dan kabupaten/kota yang belum mencapai 70 persen dari target sasaran.

Luhut pun mengingatkan semua pihak untuk mengambil peran dan bersatu guna mencegah terjadinya lonjakan kasus yang lebih signifikan.

“Ini adalah alarm untuk kita. Jangan persoalkan yang tidak perlu dipersoalkan,” tegasnya. (Sumber: Straits Times/Kompas.TV/Tribunnews.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved