Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Polri

Kala Jenderal Asal Makassar Fadil Imran Berkuda Mirip Raja Gowa di Depan Aksi Demonstrasi

Fadil Imran membuat heboh Jakarta dengan memperlihatkan gaya berkuda di depan aksi unjuk rasa, gayanya sangat mirip dengan Raja Gowa terdahulu.

Editor: Muh Hasim Arfah
tribun network
Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran berkuda mirip dengan Raja Gowa terdahulu Daeng Matanre Karaeng Mangngutungi Tumapa’risi Kallonna dan Sultan Hasanuddin (foto kanan). 

TRIBUN-TIMUR.COM- Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran membuat heboh Jakarta.

Sebab, untuk pertama kalinya, Jenderal Asal Makassar ini menunggangi kuda saat menemui aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Patung Kuda, di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (25/11/2021).

Usai menyapa ratusan massa buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan aliansi buruh lainnya, Kapolda menaiki kuda jenis "Warmblood" bernama Ferdinand yang digunakan aparat kepolisian sebagai pengamanan aksi.

"Saya mencoba menunggangi kuda. Kapan-kapan saya naik kuda lagi," kata Fadil seraya tertawa kepada awak media, di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis dikutip Tribun Timur, Sabtu (27/11/2021).

Gaya Fadil Imran mirip dengan gaya raja-raja Gowa terdahulu.

Apalagi, Fadil Imran adalah salah satu keturunan dari Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Mangngutungi Tumapa’risi Kallonna.

Baca juga: Kenapa Habib Rizieq Instruksikan Para Ulama & Simpatisan Boikot Irjen Fadil Imran dan Letjen Dudung?

Artinya, Fadil juga mempunyai hubungan kekerabatan dengan Raja Gowa, Sultan Hasanuddin.

I Mannuntungi Daeng Matanre Karaeng Tumapakrisik Kallonna adalah putra Raja Gowa VII Batara Gowa dari Permaisuri keduanya bernama I Rerasi, salah seorang bangsawan Tallo.

Daeng Matanre adalah saudara tiri dari I Pakkere’ Tau (Raja Gowa VIII) Karaeng Garassik dan Karaeng ri Bone.

Karaeng Tumapakrisik Kallonna adalah Raja termasyur dan tersukses.

Selama memimpin Kerajaan Gowa, beliau punya pemikiran strategi untuk memajukan Gowa.

Menurutnya, kalau Ibukota Kerajaan Gowa tetap berada di Bukit Tamalate, sampai kapanpun Gowa tak akan bisa maju.

Untuk mencapai kemajuan, maka Ibukota kerajaan harus dipindahkan ke daerah pesisir.

Baca juga: Kisah Heroik Jenderal Fadil Imran Bopong Adik Pasca Tenggelam di Pantai Talise Sulawesi Tengah

Sebab di darah pesisir inilah, Gowa akan terbuka bagi dunia luar.

Dari konsep pemikiran itulah, Ibukota Kerajaan Gowa dipindahkan dari Bukit Tamalate ke Sombaopu.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved