Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

HUT ke 701 Gowa

Kini Berusia 701, Berikut Sejarah Singkat Kabupaten Gowa

Peringatan Hari Jadi Gowa (HJG) ke-701 diselenggarakan dengan rapat paripurna di Halaman Kantor Bupati Jl Mesjid Raya, Sungguminasa

Tayang:
Penulis: Sayyid Zulfadli Saleh Wahab | Editor: Suryana Anas
TRIBUN-TIMUR.COM/SAYYID ZULFADLI SALEH WAHAB
Peringatan Hari Jadi Gowa (HJG) ke-701 di Halaman Kantor Bupati Gowa Jl Mesjid Raya, Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Rabu (17112021) 

TRIBUN-TIMUR.COM, GOWA - Peringatan Hari Jadi Gowa (HJG) ke-701 diselenggarakan dengan rapat paripurna di Halaman Kantor Bupati Jl Mesjid Raya, Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan,  Rabu (17/11/2021)

Sebelum rapat paripurna dibuka,  H. Syahrir Rajab Dg Ruru membacakan sejarah Kabupaten Gowa.

Berikut kutipan sejarah Kabupaten Gowa

Sekilas Sejarah Gowa Di belahan bumi Timur tersebutlah Gowa sebagai salah satu daerah dari 23 Kabupaten di Sulawesi Selatan dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia .  

Sebelum terbentuk menjadi Kabupaten, Gowa di masa last adalah kerajaan yang diperintah oleh seorang Raja bergelar "Sombaya Ri Gowa".  

Sejarah perkembangan Gowa telah melampaui dua masa yang berbeda dalam bentuk pemerintahannya, yakni masa kerajaan dan masa kemerdekaan yang keduanya menjadi momentum sejarah yang mengandung makna dan sumber jati diri dalam pemerintahan Gowa.  

701 Di hari ulang tahun Gowa yang ke 699, pemerintah dan masyarakat Kabupaten Gowa mengenang kembali perjuangan dan budaya bangsanya yang tertuang dalam catatan sekilas sejarah Gowa.

Masa Kerajaan Pada Tahun 1320 Kerajaan Gowa terwujud atas persetujuan 9 kelompok kaum yang disebut kasuwiang-Kasuwiang atau merupakan Kerajaan Kecil terdiri dari :

1. Kasuwiang Tombolok
2. Kasuwiang Lakiung 
3. Kasuwiang Saumata 
4. Kasuwiang Parang-Parang 
5. Kasuwiang Data' 
6.  Kasuwiang Agangjekne 
7. Kasuwiang Bisei 
8. Kasuwiang Kalling 
9. Kasuwiang Sero'

Dari kesembilan kasuwiang di bawah pengawasan seorang Paccalaya (Ketua Hakim Pemisah) memesan untuk mengangkat Raja Pertama Gowa yang bernama Tumanurung.  

Pada masa Gowa sebagai kerajaan, banyak peristiwa penting yang dapat dibanggakan antara lain, masa pemerintahan Tumapakrisi' Kallonna berhasil diperluas wilayah kerajaan Gowa lewat perang mengalahkan Garassi, Kalling, Parigi, Siang (Pangkajene), Sindenreng Lempangang, Bulukumba, Selayar,

Panaikang, Mandalle, dan lain-lain kerajaan kecil sehingga Juas ta Kerajaan Gowa hampir menutupi daratan Sulawesi Selatan, Pada November 1510 tau 1512 M Raja Tumakparisi Kallonna Membuat satu Isl Benteng pda Ibukota Kerajaan Gowa Yang disebut Benteng Somba de ke Opu. 

Di masa Kepemimpinan Raja Tumakparisi' Kallonna' tersebutlah pe nama Daeng Pamatte' selaku Tumailalang (Menteri Urusan Istana / P Dalam Negeri) yang merangkap sebagai Syahbandar telah berhasil menciptakan aksara Makassar yang terdiri dari 18 huruf yang disebut P K "Lontara".  

Pada tanggal 9 Jumadil Awal 1051 H atau pada tanggal 20 September 1605 M Raja I Mangngerangi Daeng Manrabbia menyatakan dan menerima Agama Islam sebagai agama kerajaan k Gowa dari Datok Ri Bandang, sehingga beliau diberi gelar Sultan Aluddin, kemudian pada malam hari Jumat Raja Tallo I Mallingkaang  Daeng Nyonri Adinda Raja Gowa memeluk agama islam dengan gelar E Sultan Awalul Islam.  

Selanjutnya, beliau mempermaklumkan shalat Jumat yang pertama kali kali pada tanggal 9 November 1607 M dan berdasarkan Lontara' Gowa/Tallo secara resmi dinyatakan masuk Islam.  

Enam tahun kemudian semua kerajaan di sulawesi selatan berhasil di-Islam-kan oleh Datuk Ri Bandang, Datok Patimang dan Datok Ri Tiro, sehingga pada masa itu seluruh tatanan sosial kemasyarakatan berlandaskan syariat Islam Sultan Hasanuddin Raja I Mallombasi Daeng Mattawang dengan Gelar Ayam Jantan Dari Benua Timur, memproklamasikan kerajaan Gowa sebagai Kerajaan Maritim yang memiliki armada perang yang tangguh dan kerajaan dikawal dengan rangkaian Benteng Pertahanan antara lain: Tallo, Ujung Tana, Ujung  Pandang, Mariso, Panakkukang, Garassi, Galesong, Barombong, Ana' Gowa, dan Kalegowa. 

Sebagai kerajaan maritim, Gowa melintasi perairan sebagai lintas perdagangan yang menembus Samudera hingga Madagaskar dengan tetap menjunjung tinggi dan menghormati kebebasan dan kebebasan, termasuk kebebasan berusaha di laut.  

Pada Tanggal 2 Maret 1607, VOC tiba dan berlabuh di Pelabuhan Makassar, dan pada tanggal 26 Juni 1637 Raja Gowa yang cinta akan damai melakukan perjanjian pertama kali dengan kompeni Belanda di-bawah-pimpinan-Cornelius Matelief dengan isi perjanjian : perdamaian, perdagangan bebas dengan syarat  personil VOC tidak menetap di Somba Opu.  

Ternyata kehadiran VOC lambat laun banyak mengusik solusi masayarakat Gowa, dengan jala tanpa kehendak untuk menguasai perdagangan, timbullah perlawanan Raja untuk dominasi di persada Nusantara, peristiwa ini ditandai dengan titah Sultan Sebagai Berikut : Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan bumi dan lautan.  

Bumi telah dibagi bagikan di antara manusia tetapi lautan diberikan untuk umum.  

Belum pernah kami dengar bahwa pelayaran di lautan terlarang bagi seseorang.  

Jika Belanda melakukan larangan, maka itu berarti bahwa Belanda seolah-olah mengambil nasi dari mulut orang lain". 

Peperangan pun tidak terelakkan dan tidak berjalan seimbang, dimana kekuatan lawan ditunjang armada yang cukup. Namun dengan kesatria, pasukan Kerajaan Gowa telah membinasakan semua orang Belanda  yang menginjakkan kaki di Bandar Sombaopu Pada tahun 1652 Kembali Sultan Hasanuddin kemampuan sebagai kesatria pelaut membantu perlawanan rakyat Maluku dengan mengirimkan kekuatan 32 perahu untuk melawan Belanda, dan pertempuran ini sangat memojokkan Belanda yang meminta berdamai tetapi Raja Gowa menolak.

Pada tahun 1653 sampai  dengan 1670, kebebasan berdagang di laut lepas tetap menjadi garis di bawah Sultan Hasanuddin

Namun kebebasan mencari nafkah yang tetap menjadi prinsip Kerajaan Gowa menjadi dari VOC, dengan mengirimkan armada besar terdiri dari : 31 kapal perang membawa 2600 orang awak kapal bersama perlengkapan perang yang cukup.  

Pasukan Gowa menyerang posisi Belanda di Buton yang berakibat pasukan Belanda dimusnahkan bersama kapal perangnya.  

Akibat peperangan terus menerus antara Kerajaan Gowa dengan VOC, mengakibatkan jatuhnya kerugian besar dari kedua belah pihak.  

Semua laskar bahu membahu dengan pemuda hingga anak-anak. Oleh Sultan Hasanuddin dengan pertimbangan kebijaksanaan dan kemanusiaan guna menghindari kerugian dan pengorbanan rakyat maka dengan hati-hati menerima permintaan dari VOC sehingga pada tanggal 18 November 1667 perjanjian yang dikenal Perjanjian Bungaya (Cappaya ri Bungaya) yang terdiri dari 29 29.  

Perjanjian ini tidak berjalan langgeng, karena pada tanggal 19 Maret 1668 pihak Kerajaan Gowa merasa dirugikan, sehingga Raja Gowa mengirimkan utusan kepedalaman Sulawesi untuk mengajak rakyat kembali melawan VOC, dan pada tanggal 12 April 1668 perang kembali pecah, pertempuran dahsyat kembali terjadi di Benteng Somba Opu.

Pada tanggal 8 menjelang malam tanggal.  9 Agustus 1668 pasukan kerajaan Gowa meledakkan kapal Belanda dan kebanggaan kapten dan seluruh anak buah kapal. 

Awal Juni 1669 pasukan VOC dan sekuitu berhasil mendekati Benteng Somba Opu dan mengadakan serangan besar dengan meledakkan ranjau.

Pada tanggal 24 Juni 1669 Benteng Somba Opu jatuh ke tangan kompeni Belanda dan dibumi-hanguskan dengan ton dari Benteng Somba Opu jatuh ke tangan kompeni bahan peledak dengan baik dan tercatat dalam kenangan setiap patriot Indonesia yang berjuang dengan gigih membela Tanah Air-nya.

 I Mallombasi Daeng Mattawang, Sultan Hasanuddin Raja GOWA ke XVI, bersumpah tidak sudi bekerja sama dengan Belanda.  

Pada tanggal 29 Juni meletakkan jabatan sebagai Raja GOWA ke XVI, setalah selama 16 tahun melawan melawan rintangan.  Pada hari Kamis tanggal 12 Juli 1670, Sultan Hasanuddin wafat dalam usia 39 tahun.  

Berkat perjuangan dan jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara, maka dengan Surat Keputusan RI No.087/TK/1973 tanggal 16 November 1973 Sultan Hasanuddin dianugrahi gelar Pahlawan Nasional, Masa Kemerdekaan.  

Pada masa awal kemerdekaan sebelum proklamasi 17-8-1945, Rakyat Gowa tetap memberikan sumbangsih yang baik bagi bangsanya dengan tetap berjuang mempertahankan kemerdekaan yang terancam akibat Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Daerah GOWA adalah basis perlawanan bagi pejuang-pejuang bangsa seperti Robert Wolter Monginsidi yang gugur di medan laga dan korban keganasan Westerling dalam peristiwa korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan, serta berbagai peristiwa lainnya dalam mempertahankan kemerdekaan yang berlangsung sampai tahun 1950. 

Pada masa kemerdekaan yang  ditandai dengan proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, yang dilandasi dengan Undang-Undang Dasar 1945 memberikan landasan konstruksi yang kokoh yang menjamin pemerintahan seperti digambarkan dalam sistem dan mekanisme dalam pasal-pasal UUD 1945, maka pada tahun 1950 berdasarkan Undang-undang  (NIT) No. 44 Tahun 1950, GOWA termasuk sebagai daerah swapraja dari 30 daerah swapraja lainnya dalam pembentukan 13 daerah Indoesia Bagian Timur.  

Selanjutnya dengan berlakunya UUD No. 1 Tahun 1957 tentang Pokok Pemerintahan Daerah untuk seluruh wilayah Republik Indonesia, tanggal 18 Januari 1957 segera dilaksanakan pembentukan daerah tingkat II dan berdasarkan UU No. 29 Tahun 1959 sebagai penjabaran UU No 1 Tahun 1957 telah menghapus UU Darurat  No. 2 Tahun 1957 dan menegaskan GOWA sebagai Daerah Tingkat II yang berhak mengurus rumah tangganya, dan mengangkat pimpinan pemerintahan untuk menjadi Kepala Daerah.  

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. UP.7/2/24 tanggal.  6 Februari 1957 mengangkat ANDI IJO KARAENG LALOLANG sebagai KEPALA DAERAH PERTAMA. 

Tentang Hari Jadi Gowa, baik Lontara Makassar, maupun literatur tentang sejarah Gowa, tidak diketemukan tentang tanggal, bulan dan tahun berdirinya GOWA, sedangkan penetapan HARI JADI daerah merupakan titik tolak dalam rangka lebih menjamin pengembangan dan kesinambungan Pembangunan Daerah.  

Atas prakarsa Bupati Kepala Daerah Tingkat II Gowa A Azis Umar dan H Syahrul Yasin Limpo sebagai Sekretraris Daerah Kabupaten Gowa, dilaksanakanlah seminar yang berlangsung pada tanggal 10 hingga 11 September 1990 di Sungguminasa, dengan peserta seminar terdiri dari tokoh masyarakat, cendekiawan, organisasi pemuda  dan kemasyarakatan serta berbagai pemerhati sejarah yang ada di Kabupaten Gowa.  

Penetapan hari jadi Gowa pada tanggal 17 November 1320 merupakan perpaduan peristiwa-peristiwa besar dan tonggak sejarah yang terjadi baik pada saat Gowa sebagai kerajaan, maupun Gowa sebagai salah satu Daerah Tingkat Il dalam peristiwa kemerdekaan Bangsa Indonesia.  

Hari Jadi Gowa telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I Gowa No.4 Tahun 1990, dan disahkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dengan Surat Keputusan No 132/11/1991 tanggal.  8 Februari 1991 diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten DATI |I Gowa, No.3 tahun 1991 seri D Nomor.2 pada Maret 1991. 

Laporan Wartawan Kontributor TribunGowa.com, Sayyid Zulfadli

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved