Breaking News:

Khazanah Islam

Cara Mengganti Salat yang Lama Ditinggalkan

Seseorang mulai berkewajiban salat sejak ia baligh. Maka dia wajib mengganti (qadha’) salat yang ia tinggalkan setelah baligh.

Editor: Muh. Irham
Grid
ilustasi salat 

TRIBUN-TIMUR.COM - Salat dalam sebuah hadis diibaratkan sebagai tiang agama, artinya orang yang mendirikan salat berarti ia telah mendirikan agama, begitu pula orang yang meninggalkannya berarti ia merobohkan tiang itu.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ , فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ , وَإِنْ فَسَدَتْ , فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Sungguh hal yang pertama dimintai pertanggungjawaban dari seorang hamba kelak di hari kiamat adalah shalat, jika salatnya bagus beruntunglah ia, jika tidak, merugilah ia”

Maka sebagai seorang Muslim kita harus memperhatikan betul perihal shalat.

Seseorang mulai berkewajiban salat sejak ia baligh. Maka dia wajib mengganti (qadha’) salat yang ia tinggalkan setelah baligh.

Namun banyak sekali orang yang kurang memperhatikan salatnya ketika awal masa baligh, dan baru menyadari kesalahannya tersebut setelah beranjak dewasa.

Bahkan ada juga yang baru tahu bahwa salat yang ditinggalkan wajib diganti. Disengaja atau tidak, salat yang ditinggalkan tetap diwajibkan untuk menggantinya. Lalu, bagaimana cara men-qadha’-nya?

Dalam hal ini ada tiga pokok pembahasan. Pertama, terkait jumlah shalat yang wajib dia qadha’. Dia wajib men-qadha’ semua shalat yang pernah ia tinggalkan, bagaimana jika lupa jumlahnya?

Ia wajib men-qadha’ atau melakukan salat lagi sebagai pengganti salat yang ditinggal, hingga ia yakin sudah tidak ada lagi salat yang belum ia qadha’. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib Al-Arba’ah:

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved