Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

TNI

Isi Perbincangan Soeharto, AH Nasution, Sarwo Edhi Wibowo Tergambarkan Dalam Patung Diorama

Mayjen TNI Soeharto dan Kepala Staf ABRI AH Nasution memerintahkan kepada Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo melakukan serangan kilat ke Halim.

Editor: Muh Hasim Arfah
handover
Adegan pembicaraan Menteri Pertahanan dan Keamanan dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal TNI AH Nasution, Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto, dan Komandan RPKAD, Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo dalam film Penumpasan Pengkhianatan PKI tahun 1965. 

TRIBUN-TIMUR.COM- Saat ini matra Angakatan Darat Tentara Nasional Indonesia (TNI) sedang ribut soal hilang diorama tiga petinggi TNI AD saat pengkhinatan PKI di masa lalu.

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menyampaikan indikasi adanya penyusupan kembali pendukung PKI ke tubuh TNI.

Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah acara diskusi webinar bertajuk “TNI Vs PKI”, Minggu (26/9/2021),

Dalam diskusi itu, mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menduga adanya penyusupan kembali pendukung PKI ke tubuh TNI.

Indikasi itu dibuktikan dengan diputarkannya video pendek yang menggambarkan hilangnya sejumlah bukti-bukti penumpasan G30S/PKI di Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad.

Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal Dudung Abdurachman angkat bicara soal tudingan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo terkait penyusupan paham komunis di militer Angkatan Darat (AD).

Baca juga: Mengenal Ade Irma Korban Peristiwa G30S PKI, Ucapan Pilunya ke Kakak Sebelum Meregang Nyawa

Untuk diketahui, pernyataan Gatot ini dilandasi dengan hilangnya patung sejumlah tokoh nasional di Museum Dharma Bhakti Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat.

Menanggapi hal tersebut, Dudung menilai bahwa pernyataan Gatot sebagai tuduhan yang keji.

"Jadi, tidak benar tudingan bahwa karena patung diorama itu sudah tidak ada, diindikasikan bahwa AD telah disusupi oleh PKI. Itu tudingan yang keji terhadap kami," kata Dudung dalam keterangan persnya yang dikutip, Selasa (28/9/2021).

Dudung menyesalkan ucapan Gatot tersebut, seharusnya selaku prajurit dapat terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan bisa menanyakan langsung kepadanya, selaku Panglima Kostrad.

"Dalam Islam disebut tabayun agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang membuat fitnah, dan menimbulkan kegaduhan terhadap umat dan bangsa," ujarnya menegaskan.

Pada kesempatan itu, Dudung juga menjelaskan, terkait patung tiga tokoh di Museum Darma Bhakti Kostrad, yakni Jenderal TNI AH Nasution (Menko KSAB), Mayjen TNI Soeharto (Panglima Kostrad), dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD) yang memang sebelumnya ada di dalam museum tersebut.

Baca juga: Gatot Nurmantyo Memanas dengan Mantan Jenderal Kopassus Gegara Patung, Sebut TNI AD Disusupi PKI

Dudung berujar hilangnya patung-patung tersebut, karena diminta kembali oleh penggagasnya, Letjen TNI (Purn) AY Nasution.

"Saya hargai alasan pribadi Letjen TNI (Purn) AY Nasution, yang merasa berdosa membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya. Jadi, saya tidak bisa menolak permintaan yang bersangkutan," ungkapnya.

Lalua apa isi pembicaraan Menteri Pertahanan dan Keamanan dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal TNI AH Nasution, Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto, dan Komandan RPKAD, Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo dalam diorama itu pada penumpasan PKI tahun 1965 itu?

Dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI', atau biasa disebut sebagai 'film G30S/PKI'.

Film berdurasi hampir 5 jam ini disutradarai Arifin C Noer.

Film ini dirilis pada 1984 dan diorama itu dibikin saat AY Nasution menjadi Panglima Kostrad pada 2011-2012.

Di film G30S/PKI, adegan Soeharto, AH Nasution, dan Sarwo Edhie ada pada bagian seperempat terakhir film. Ruangan yang menjadi lokasi peristiwa ini adalah ruangan Panglima Kostrad (Pangkostrad), dijabat Soeharto.

Baca juga: Siapa Sebenarnya Letkol Untung Sosok Diduga Dalang Peristiwa G30S/PKI, Dikenal Cerdas dan Pendiam

Di dalam ruangan, sudah ada Soeharto dan AH Nasution.

AH Nasution duduk di sofa panjang warna merah. Tangannya memegang tongkat.

Kaki kirinya naik ke meja rendah, diperban.

Inilah sebabnya kaki AH Nasution digambarkan naik ke meja, yakni karena kakinya sakit.

Saat itu, pasukan PKI sudah menguasai kawasan Bandara Halim Perdanakusuma. Maka militer di bawah Soeharto harus menguasai Halim kembali.

Pakar telematika Roy Suryo membagikan percakapan ketiga petinggi TNI di tahun 1965 itu.

Baca juga: Mengenal Azmyn Yusri Nasution, Jenderal yang Minta Kostrad untuk Bongkar Patung Sejarah G30S/PKI

“Sarwo Edhie, jij mau bikin tweede Mapanget ya?” (= "kamu mau bikin Mapanget kedua ya?"

Artinya Pak Nas mengingatkan Pak Harto bhw Th 1957, Pak Sarwo pernah membebaskan Lanud Mapanget di Manado, dgn serangan kilat, yg ketika itu dikuasai Permesta.

Makanya Pak Harto langsung sigap.”

Demikian tweet Roy Suryo dikutip Tribun Timur, Rabu (29/9/2021).

Baca juga: Korban G30S PKI Ini Pernah Bersama Jenderal Sudirman Lawan Jepang, Begini Jasa-jasa Letjen Suprapto

Baca juga: JEJAK Digital Gatot Nurmantyo saat Jadi Panglima TNI Viral Lagi,Minta Warga Tak Terprovokasi Isu PKI

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved