Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Kampus

Tiga Dosen UNM Ajarkan Desain Model Integrasi Kompetensi Religius di Gowa

Ketiga dosen tersebut mengadakan pelatihan kepada seluruh guru-guru Sekolah Dasar se-Kabupaten Gowa. 

Penulis: Siti Aminah | Editor: Saldy Irawan
tribun-timur
Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) UNM menginisiasi pembelajaran integrasi berbasis kompetensi religius. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tiga dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Universitas Negeri Makassar (UNM) menginisiasi pembelajaran integrasi berbasis kompetensi religius. 

Ialah Hj. Sulastriningsih, Dr. Muhammad Saleh, dan Dr Mayong Maman.

Ketiga dosen tersebut mengadakan pelatihan kepada seluruh guru-guru Sekolah Dasar se-Kabupaten Gowa. 

Dr Muhammad Saleh mengatakan, kegiatan ini sebagai upaya peningkatan kompetensi guru dalam menghadapi derasnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju.

Saleh menilai, perangkat pembelajaran yang telah disusun saat ini belum menampakkan model pembelajaran yang mengintegrasikan kompetensi religius sesuai dengan harapan. 

"Fenomena sekarang, siswa cenderung memilih watak tidak baik, seperti sifat malas, bertindak curang, menyontek, geng, perkelahian, tawuran dan sikap negatif lainnya," jelas Muhammad Saleh lewat rilis yang diterima tribun-timur.com, Minggu (22/8/2021).

Karena itu, pendidikan mempunyai peranan penting dalam menanamkan karakter positif siswa, serta  mengubah watak siswa yang tidak baik menjadi lebih baik.

Dr Sulastriningsih menyampaikan, secara umum guru kurang mampu  menyusun model RPP yang didesain dengan integrasi kompetensi religius.

Juga kurang tepat menerapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.  

Sesuai program pendidikan nasional, terdapat 18 pendidikan karakter termasuk nilai religius.

Sementara iru, Dr Mayong menjelaskan salah satu contoh dalam model integrasi kompetensi religius ini, seperti dilarang mengatakan 'oke', tetapi diganti dengan ucapan 'Insyaallah'. 

Tak hanya itu, guru juga diimbau tidak mengatakan 'hebat' tetapi diganti dengan 'masyaallah' atau 'tabarakallah'.

"Kami mengharapkan guru-guru mengganti sapaan mereka yang bernilai religius. Seperti, kata hello diganti dengan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," terang Ketua Jurusan BSI ini. 

Kegiatan pengabdian ini dilaksankan sejak Maret 2021 yang akan berakhir sampai September mendatang dan berlangsung secara daring. 

Adapun beberapa langkah yang dilaksanakan seperti, memberikan penyuluhan mengetahui integrasi kompetensi religius.

Selanjutnya memberikan pelatihan mendesain model integrasi kompetensi religius pada RPP, memberikan pelatihan cara memilih model integrasi kompetensi religius pada pembelajaran yang sesuai dengan Kompetensi Dasar.

Serta memberikan pelatihan menerapkan model integrasi kompetensi religius pada pembelajaran Bahasa Indonesia. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved