Khazanah Islam
AG KH Muh Yunus Martan: Kiai Pesantren Pertama Pencetus Radio Swasta Indonesia
AG KH Muh Yunus Martan: Kiai Pesantren Pertama Pencetus Radio Swasta Indonesia, Radio Suara Asadiyah
Muh. Rusydi Arif
Alumni As'adiyah
Direktur Damai Bangsa Institute
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pada tulisan pertama saya tentang AG. KH. Yunus Martan: Jejak yang Tersisa dari Haul ke-35 AG. KH. Muh. Yunus Martan, Tribun Timur (4/8/2021), saya sedikit mengulas beberapa mumayyizat (keistimewaan) beliau selama mengabdikan diri mengelola Perguruan As'adiyah yang jarang terekspos di ranah publik.
Tulisan saya kali ini, akan mengulas lanjutan
mumayyizat (keistimewaan) AG. KH. Muh. Yunus Martan dari sisi loncatan berfikirnya melintasi zaman dan waktu.
Boleh saja Ponpes Sidogiri, Pasuruan (1718), Ponpes Langitan, Tuban (1852), Ponpes Tebuireng, Jombang (1899), Ponpes Darul Ulum Banyuanyar, Madura (1787), Ponpes Buntet, Cirebon (1785), Ponpes Al-Falah Ploso Mojo, Kediri (1925), Ponpes Tremas, Pacitan (1830), Ponpes Jamsaren, Solo (1750) dan sejumlah Ponpes tua lainnya di pulau Jawa yang usianya jauh lebih tua dari Ponpes As'adiyah.
Bahkan Ponpes Gontor, Ponorogo (1926) dengan diksi 'modern' di belakang namanya, "Institut Darussalam Modern Gontor", yang secara usia juga lebih tua dari Ponpes As'adiyah (1928).
Meskipun Ponpes tersebut di atas usianya jauh lebih tua daripada Ponpes As'adiyah tapi tidak kemudian mampu menjadi pelopor kemajuan dalam hal penyesuaian dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, khususnya di bidang teknologi media.
Ponpes As'adiyah yang hadir belakangan yang secara usia relatif jauh lebih muda usianya tapi justru lebih dulu melakukan improvisasi dan inovasi dengan gerakan degitalisasi "media udara" sebagai medium dalam pendidikan, syiar dan dakwah ke masyarakat.
Dari sisi usia, memang Ponpes tersebut lebih tua tapi secara gagasan dan aplikasi ide, Ponpes As'adiyah di bawah kepemimpinan AG. KH. Yunus Martan jauh lebih visioner daripada pesantren yang ada di pulau Jawa itu.
AG. KH.Muh Yunus Martan adalah seorang ulama kharismatik Sulsel, lahir dan tumbuh dari rahim pesantren salaf.
Selama menempuh pendidikannya di Alfalah, Mekkah dan berguru langsung dengan AG. KH. M. As'ad di Sengkang, sabang hari, siang malam, ia berjibaku menelaah kitab kuning klasik dengan sangat paripurna.
Dan pada fase perjalanan hidupnya, pada usia 47 tahun, tongkat estafet kepemimpinan Perguruan As'adiyah diserahkan kepadanya. Ia memegang tampuk kepemimpinan Ponpes As'adiyah kurang lebih 25 tahun (1961 - 1986).
Beradaptasi dengan modernitas
Di awal kepemimpinannya, konon kabarnya ia kumpulkan orang-orang yang memiiliki potensi dan kompetensi di bidangnya masing-masing, termasuk orang-orang yang tidak pernah bersinggungan langsung secara pendidikan formal dengan As'adiyah, khususnya dengan orang-orang yang berlatar belakang wiraswasta/pengusaha.
Ia sadar betul bahwa menggerakkan As'adiyah tidak bisa hanya mengandalkan dan bergantung dari bantuan pemerintah atau pihak lain.
Perguruan As'adiyah harus mandiri dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Menjaga kemandirian Pesantren dalam berbagai hal di mata Anre Gurutta sesuatu yang ushuli (mutlak adanya).
Setelah seluruh reseources SDM dikumpulkan dan disatukan, ia kemudian petakan satu persatu dengan kompetensi dan keahlian masing-masing yang ada pada diri mereka, lalu kemudian ia mendiagnosa sisi kekurangan lainnya.
Dari sinilah Anre Gurutta menentukan arah perjalanan ke depan (blue print) Ponpes As'adiyah dengan skala prioritas, mana yang mendesak untuk segera dilakukan dan seperti apa sejatinya dan idealnya yang harus dilakukan untuk pengembangan Perguruan As'adiyah dalam waktu yang sangat pendek itu.
Pada periode kedua kepemimpinannya (1966) AGH. KH. Yunus Martan, Anre Gurutta menyadari betul santri yang berdatangan dari berbagai daerah dan luar daerah (provinsi) dari tahun ke tahun akan senantiasa bertambah, dan pada waktunya --seusai tamat dari Pesantren-- akan kembali ke daerah masing-masing dengan bekal ilmu yang dititipkan kepadanya selama mondok di Pesantren.
Dan selanjutnya dengan bekal ilmu itulah kemudian mereka mentransformasikannya kepada masyarakat dengan mengacu pada nilai-nilai dan prinsip serta ideologi As'adiyah.
Pada titik ini, Anre Gurutta mulai berfikir pasca mereka meninggalkan As'adiyah, mereka akan bersinggungan langsung dengan lingkungan sosial di sekitarnya.
Untuk memudahkan terjalin hubungan dua arah --antara Anre Gurutta dengan santri-masyarakat-- Anre Gurutta menyadari pentingnya hadirnya sebuah sarana atau media yang bisa memudahkan terjalinnya hubungan emosional dan psikologis antara Anre Gurutta dengan mereka.
Di sinilah ide dasar Anre Gurutta mendirikan Radio Suara As'adiyah.
Gagasan Anre Gurutta mendirikan RSA selain karena persoalan untuk menjembatani kebutuhan komunikasi antara santri-masyarakat dengan Anre Gurutta, sisi lainnya adalah menjadi bagian tak terpisahkan dari misi As'adiyah dalam menjemput modernitas.
Siklus modernitas dengan varian-varian barunya sebuah keniscayaan.
Sebab itu, konsepsi dunia Pesantren tentang modernitas mau tak mau harus mempersiapkan diri untuk berhadapan dengannya.
Menghindar dari modernitas dengan varian-varian positifnya bukan berarti tidak menjaga "orisinilitas identitas" Pesantren.
Pada tataran globalisasi, pendidikan menjadi lintas batas yang menerobos dinding geografis, kebudayaan, kebangsaan bahkan peradaban bangsa-bangsa.
Dengan demikian, Institusi pendidikan dengan unit-unit yang ada di dalamnya pada akhirnya akan berhadapan dengan muatan globalisasi.
Oleh karena itu, kejeniusan dan dedikasi AG. KH.Muh. Yunus Martan mengantisipasi kebutuhan riil hadirsungguh tanpa batas.
Ia injeksi mental dan kualitas santrinya. Ia tanamkan ilmu-ilmu keislaman pada santrinya melalui bacaan kitab kuning klasik yang diampuhnya sembari mempersiapkan piranti teknologi sebagai sebuah kebutuhan zaman, sehingga setiap saat oleh guru dan santri-santrinya serta masyakat secara up to date mampu mengakses ilmu pengetahuan dan inrormasi lain yang dibutuhkannya.
Gagasan monumental
Tak bamyak referensi yang bisa meng - addres sebuah pesantren dengan tokoh sentralnya "seorang kiai" yang mampu menjadi insiator dan pencetus degitalisasi media melalui pendirian stasiun radio swasta.
Tanpa mengurangi apresiasi penulis terhadap peneliti sebelumnya yang konsen meneliti sosok AG. KH Muh. Yunus Martan, khususnya sejarah perjalanan hidup, pengabdian dan prestasi yang ditorehkannya selama memimpin Ponpes As'adiyah.
Tapi sepanjang penelusuran penulis dari berbagai naskah; tesis, disertasi dan skripsi serta jurnal kampus, tidak ditemukan sebuah penelitian yang mengupas tuntas tentang sebuah Pondok Pesantren yang memilki stasiun radio swasta, dan bahkan pada level Perguruan Tinggi Islam sekalipun.
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan atau universitas Islam tertua di Indonesia, misalnya, baru mendirikan stasiun radio swasta, PT Radio Prisma UNISI, Yogykarta pada tahun 1975.
Sementara di sisi lain, sejak tahun 1967 Perguruan As'adiyah sudah memiliki radio swasta dengan nama Radio Suara As'adiyah (RSA) yang frekuensi jangkauannya lumayan jauh meliputi Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan.
Dan bahkan pada level perkumpulan Radio Amatir Indonesia yang bernama ORARI (Organisasi Amatir Radio Indonesia) baru terbentuk setahun kemudian setelah berdirinya Radio Suara As'adiyah.
Bisa dibayangkan begitu visionernya AG. KH. Muh. Yunus Martan dalam merancang sebuah ide besar, sehingga sebuah prestise tersendiri bagi Ponpes As'adiyah dimana Anre Gurutta adalah orang pertama pencetus radio swasta di lingkup Pondok Pesantren di Indonesia. Karena itu, sesungguhnya sesuatu yang sangat langka.
Seorang ulama jebolan pesantren klasik yang lokasi perguruannya di salah satu kabupaten kecil dan terletak nun jauh dari pusat peradaban Indonesia, Jakarta mampu tapi tampil dengan ide yang sangat cemerlang.
Tak banyak ulama dan mungkin satu-satunya ulama di Indonesia saat itu yang memiliki kualifikasi keilmuan teknis di luar dari basic keilmuan kepesantrenan. Kemampuan berfikir Anre Gurutta mampu menembus batas-batas ilmu kepesantrenan yang identik dengan kitab kuning klasik sebagai basis keilmuan kepesantrenan.
Kualifikasi keilmuan keislamannya Anre Gurutta dengan penguasaan kitab kuning klasik adalah sebuah keniscayaan, tapi seorang ulama jebolan pesantren salaf yang memiliki wawasan dan pemahaman mendalam di luar dari basic keilmuan pesantren adalah sesuatu yang sangat langka (khariqu minal 'ada)
Yang patut dicatat di sini adalah mindset Anre Gurutta yang sadar akan kebutuhan dengan kemajuan zaman yang senantiasa melaju. Andre Gurutta menyadari bahwa peradaban tidak akan dicapai tanpa gagasan dan ide-ide besar.
Kemajuan zaman dengan modernitasnya sesuatu yang tidak serta merta dapat kita genggam tanpa ikhtiar dari kita sendiri.
****