Tribun Kampus
Politeknik ATI Makassar Sosialisasi Peluang Kerja ke Luar Negeri kepada Mahasiswa dan Alumni
Bahasa bisa menjadi kendala yang dihadapi para tenaga kerja saat bekerja di luar negeri, seperti di Korea Selatan.
Penulis: Rudi Salam | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Unit Career Development Center (CDC) Politeknik ATI Makassar menggelar Sosialisasi Peluang Kerja ke Luar Negeri kepada mahasiswa dan alumni secara daring, Selasa (10/8/2021).
Kegiatan ini menghadirkan tiga pembicara, yakni Kepala LTSA-PMI Sulawesi Selatan Syamsi Alang, Direktur LPPR Indonesia Yadi Suryadi, Direktur Era Hakwon Nurchaerah M, serta Konsultan Perdagangan Indonesia/Jepang Budiawan Tahyan.
Era Hakwon adalah lembaga pelatihan kerja yang menyiapkan tenaga kerja ke Korea Selatan.
Sedangkan LPPR Indonesia merupakan lembaga yang menyiapkan calon tenaga kerja yang akan bekerja di Jepang melalui program Specified Skilled Worker (SSW).
Syamsi Alang menyebut untuk mengikuti program SSW hanya mempersyaratkan memiliki sertifikat kompetensi keahlian dan kemampuan Bahasa Jepang.
Dimana, program SSW adalah program penempatan tenaga kerja berketerampilan khusus.
"Saya pikir adik-adik dari alumni Politeknik ATI Makassar sudah memiliki keterampilan khusus. Tinggal menambah skill bahasa Jepang," katanya via rilis ke tribun-timur.com.
Nurchaerah juga menambahkan, kemampuan bahasa menjadi faktor yang sangat penting.
Pasalnya, bahasa bisa menjadi kendala yang dihadapi para tenaga kerja saat bekerja di luar negeri, seperti di Korea Selatan.
Untuk itu, baik Era Hakwon maupun LPPR Indonesia akan membekali para calon tenaga kerja yang akan dikirim dengan kemampuan bahasa.
Sementara itu, Yadi Suryadi kebutuhan tenaga kerja, khususnya di Jepang cukup tinggi mencapai sekira 345.140 orang.
Hal tersebut dikarenakan Jepang mengalami krisis kependudukan.
Dimana, angka kelahiran yang semakin rendah dan berdampak pada kurangnya angkatan kerja di Jepang.
Kondisi ini berbeda dengan di Indonesia yang memiliki bonus demografi.
"Bekerja di luar negeri tidak hanya juga untuk kesejahteraan, tapi untuk belajar budaya dan etos kerja di sana yang berbeda dengan di Indonesia," katanya
Sementara itu Direktur Politeknik ATI Makassar, Muhammad Basri menuturkan dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa Politeknik ATI Makassar mendapat informasi terkait peluang bekerja di luar negeri.
"Dari pemaparan para pemateri, saya lihat kebutuhan tenaga kerja di Korea Selatan dan Jepang lebih mengarah pada industri manufaktur yang sesuai dengan spesialisasi di Politeknik ATI Makassar," tuturnya.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa atau alumni yang berminat untuk bekerja di luar negeri untuk membekali diri dengan kemampuan bahasa asing.
Politeknik ATI Makassar pun akan mengoptimalkan layanan UPT Bahasa dan bekerja sama dengan LPPR Indonesia maupun Era Hakwon.
Tangani Proyek Mangkrak di Luar Negeri
Alumni Politeknik ATI Makassar tidak hanya berkiprah di dalam negeri.
Namun sebagian alumni menunjukkan eksistensinya di luar negeri.
Hal tersebut dibuktikan dengan pengalaman salah satu alumnus Politeknik ATI Makassar, Muhammad Yogie Santoso.
Yogie merupakan alumnus tahun 2015 dari program studi Teknik Elektro Industri yang kini bertransformasi menjadi program studi Otomasi Sistem Permesinan.
Yogie yang juga mantan atlet Balap Sepeda dipilih menjadi Electrical Tim Leader di C two Engineering, Selangor, Malaysia.
Ia menangani proyek instalasi listrik yang sudah bertahun-tahun mangkrak di Malaysia pada 2016 lalu.
Cerita ini Yogie bagikan dalam sesi ZI Talk Seri #02 bertajuk 'Inspiring Silver Ekspert' melalui Instagram Live, Sabtu (17/7/2021) malam.
Acara ini digelar dalam rangka pembangunan Zona Integritas di Politeknik ATI Makassar.
Sebelum mendapatkan proyek tersebut, Yogie bersama tiga rekannya yang juga alumni Politeknik ATI Makassar harus bersaing dengan tim dari negara lain, seperti Nepal, Myanmar, dan Malaysia sendiri.
"Jadi waktu itu informasinya dari kampus juga, dari dosen kami Ibu Nurhayati Jabir. Ibu Nur ngasih info kalau ada project di Malaysia yang terkatung-katung," katanya via rilis Humas Politeknik ATI Makassar ke tribun-timur.com, Minggu (18/7/2021).
Dengan modal nekat sebagai fresh graduate, Yogie bersama timnya pun berangkat ke Malaysia ikut bersaing dalam proyek tersebut.
Namun, juara Balap Sepeda Riau Championship tersebut mengungkapkan banyaknya tantangan yang mereka hadapi.
Terutama dengan model instalasi listrik yang dipakai dalam proyek tersebut berbeda dengan instalasi listrik yang sering digunakan di Indonesia.
"Awalnya kami mengira proyek instalasi listrik seperti pada umumnya, tapi ternyata setelah sampai disana amat sulit karena ternyata lebih mudah membangun sesuatu yang baru dibanding menyelesaikan pekerjaan orang lain yang terbengkalai," kata pria kelahiran Makassar, 12 Mei 1994 ini.
Namun, Yogie cs tidak patah semangat.
Mereka terus berupaya meyakinkan pemilik proyek kalau mereka mampu menyelesaikan proyek tersebut hingga pada akhirnya tender proyek tersebut mereka menangkan.
"Sebuah kebanggaan untuk kami, lulusan Politeknik ATI Makassar. Dari sekian banyak negara Asia, kami dari Indonesia yang berhasil menyelesaikan permasalahan di sana," kata Yogie.
Kemudian pada 2017, Yogie bergabung sebagai Electrical Fiber Line di PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).
Saat bekerja di PT RAPP, ia berkesempatan mengikuti pelatihan teknisi di Sateri, Jiang Xi, China pada 2018 selama enam bulan.
Pada 2019, Yogie pun memilih bekerja sebagai engineering PT Suryamas Megah Stell di Surabaya hingga 2020.
Kini, Yogie memutuskan ingin membuka bisnisnya sendiri.
Ia pun berharap pengalamannya tersebut bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa di Politeknik ATI Makassar.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/cdc-politeknik-ati-makassar-menggelar-sosialisasi-peluang-kerja.jpg)