Vaksinasi
Menkes: Orang yang Sudah Divaksin Tidak Kebal 100 Persen dari Paparan Covid-19
Namun, vaksin akan membuat tubuh menjadi lebih tahan dan cepat mengidentifikasi apabila terpapar virus.
TRIBUN-TIMUR.COM - Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, vaksin yang disuntikan ke masyarakat, tidak 100 persen membuat masyarakat kebal terhadap paparan virus corona.
Namun, vaksin akan membuat tubuh menjadi lebih tahan dan cepat mengidentifikasi apabila terpapar virus.
"Dapat membuat kita bisa lebih cepat merespons melawan virus tersebut," katanya.
Dengan demikian menurut Budi orang yang telah mengikuti vaksinasi masih bisa terpapar Covid-19.
Hanya saja gejala yang ditimbulkan lebih ringan dibandingkan dengan yang belum disuntik vaksin.
"Jadi saya tekankan sekali lagi pesan yang kedua, bahwa vaksin ini tidak membuat kita kebal 100 persen kayak Superman, vaksin ini membuat daya tahan tubuh kita lebih baik sehingga kalau kita terpapar yang harusnya sakit berat menjadi sakit ringan, yang harusnya sakit ringan menjadi sakit tanpa gejala," pungkasnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa pada Agustus nanti sudah tersedia 85 juta dosis vaksin jadi.
Jumlah tersebut berasal 105 juta bahan baku vaksin yang tiba secara bertahap di Indonesia.
Budi mengatakan vaksin tersebut nantinya akan digunakan untuk akselerasi vaksinasi di Indonesia, agar 181,5 juta rakyat telah disuntik vaksin pada akhir tahun 2021.
"Kita akan mempercepat program vaksinasi di Indonesia agar Insya Allah di akhir tahun 181,5 juta rakyat Indonesia sudah bisa divaksin at least 1 kali," katanya dalam Konferensi pers virtual yang disiarkan Youtube Sekretariat Presiden, Rabu, (30/6/2021).
"Kita masih bisa tertular, yang paling bahaya kita masih bisa menularkan," tuturnya.
Menurut Budi, vaksin Covid-19 akan membuat tubuh seseorang lebih cepat mengidentifikasi masuknya virus.
Tubuh yang sudah divaksin juga menjadi lebih responsif melawan virus. Dengan demikian, penyakit yang diderita oleh orang yang sudah divaksin akan menjadi lebih ringan, tanpa gejala (OTG), atau asimtomatik.
"Vaksin ini membuat daya tahan tubuh kita lebih baik, sehingga kalau kita terpapar yang harusnya sakit berat menjadi sakit ringan, yang harusnya sakit ringan menjadi sakit tanpa gejala," ujar Budi.
Oleh karenanya, Budi meminta masyarakat tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan meski sudah divaksinasi, terutama memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Budi mengingatkan bahwa kasus Covid-19 di Tanah Air sedang melonjak tinggi.
Meski pemerintah telah menyiapkan rumah sakit, obat, tenaga kesehatan, hingga oksigen, tapi, kata Budi, dibutuhkan peran semua pihak untuk menekan laju penularan virus corona.
"Tolong bantu kami dengan cara kalau tidak ada kegiatan yang perlu tinggallah di rumah, supaya kita bisa mengurangi laju penularan ini, melindungi diri kita sendiri, tapi juga melindungi keluarga kita, teangga kita, dan seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.
Pemerintah, kata Budi, akan terus mempercepat program vaksinasi nasional. Pada Rabu (30/6/2021) hari ini Indonesia kembali menerima 14 juta dosis bahan baku (bulk) vaksin asal China, Sinovac.
Dengan demikian, total vaksin Sinovac yang telah diterima RI mencapai 105 juta dosis. Budi mengatakan, bahan baku vaksin tersebut selanjutnya akan diolah oleh PT Bio Farma untuk menjadi vaksin siap pakai.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/edaran-terbaru-kemenkes-soal-vaksinasi-tanpa-ktp.jpg)