Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Presiden Iran

Ternyata Ini Sebab Israel Peringatkan Dunia Bahwa Presiden Baru Iran Ebrahim Raisi Sangat Berbahaya

Kenapa Sosok Ebrahim Raisi Presiden Iran dianggap berbahaya bagi Israel. Bahkan Israel mengirim peringatan bahwa Ebrahim Raisi sosok berbahaya

Tayang:
Editor: Mansur AM
AP PHOTO/EBRAHIM NOROOZI
Presiden Baru Iran - Kenapa Sosok Ebrahim Raisi Presiden Iran sangat diwaspadai Israel, profil dan kariernya 

TRIBUN-TIMUR.COM - Rakyat Iran bersukacita menyambut antusias terpilihnya Ebrahim Raisi sebagai Presiden baru Iran.

Tapi sebaliknya bagi Israel.

Bagi Israel, Sosok Ebrahim Raisi Presiden Iran adalah orang yang patut diwaspadai dan berbahaya.

Bahka Israel mengirim peringatan kepada dunia bahwa sosok Ebrahim Raisi sangat berbahaya.

Apa sebabnya?

Israel memperingatkan masyarakat internasional pada Sabtu (19/6/2021) untuk harus hati-hati dengan presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi, karena dianggap berkomitmen kuat pada program nuklir.

Terpilihnya Raisi "menjelaskan niat jahat Iran yang sebenarnya, dan seharusnya masyarakat internasional meningkatkan keprihatinan serius", tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Lior Haiat dalam Twitter, seperti yang dilansir dari AFP pada Sabtu (19/6/2021).

Iran telah "memilih presiden yang paling ekstrem hingga saat ini", kata Haiat setelah pemilihan usai di Iran pada Jumat (18/6/2021).

Sosok Ebrahim Raisi disebutkan "berkomitmen pada program nuklir militer Iran yang berkembang pesat".

Israel dengan keras menentang perjanjian nuklir 2015 antara Iran dan kekuatan dunia, yang menawarkan keringanan sanksi kepada musuh bebuyitannya itu dengan imbalan pembatasan program nuklir.

Melansir Kompas.com, Israel berpendapat kesepakatan nuklir internasional itu justru memungkinkan Iran mengembangkan senjata nuklirnya.

Sementara, Iran selalu membantah mengembangkan senjata nuklir.

Raisi, seorang ulama ultrakonservatif, akan mengambil alih pemerintahan ketika Iran berusaha untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir internasional yang compang-camping dan membebaskan diri dari hukuman sanksi AS.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett yang baru dilantik menyebut upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu sebagai "kesalahan yang akan memberikan legitimasi kepada salah satu rezim paling gelap".(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved