Tribun Video
VIDEO: Suasana Salat Idulfitri 1442 Hijriah di Lapangan Merdeka Bone
Mereka bertugas untuk memastikan para jemaah yang masuk ke tempat Salat Idulfitri telah memakai masker.
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUNBONE.COM, TANETE RIATTANG - Waktu Menunjukkan pukul 06.10, jamaah Salat Idulfitri di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai berdatangan di Lapangan Merdeka di Jl Petta Poenggawa, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kamis (13/5/2021).
Mereka datang dari sembilan pintu masuk ke Lapangan Merdeka. Pintu masuk ini dijaga petugas dari TNI, Polri, Satpol-PP Bone, BPBD Bone dan organisasi pramuka.
Mereka bertugas untuk memastikan para jemaah yang masuk ke tempat Salat Idulfitri telah memakai masker. Mereka membagikan masker jika ada jemaah yang tidak memakai masker.
Di Lapangan Merdeka sebagai tempat salat dijaga oleh Satpol-PP Bone. Mereka bertugas untuk mengatur jarak antar jemaah dan menegur jika ada yang melepas masker.
Sejumlah jemaah mendapat teguran karena melepas masker. Ada ratusan jemaah memadati Lapangan Merdeka.
Bupati Bone, Andi Fahsar Mahdin Padjalangi bersama keluarga dan Forkopimda Bone memasuki area salat dari Rujab Bupati Bone pukul 07.00 Wita
Salat Idulfitri dilaksanakan pukul 07.34 usai Bupati Bone selesai menyamapaikan sambutan.
Imam Salat Idulfitri adalah imam Masjid Al Mujahidin (masjid tua), Taufik Mustamin.
Setelah itu dilanjutkan dengan khutbah yang dibawakan oleh Kepala Kantor Kemeneterian Agama (Kemenag) Bone, Wahyuddin Hakim.
Para jemaah bubar dan meninggalkan lokasi Salat Idulfitri sekira pukul 08.04 Wita.
Sejumlah jemaah terlihat, bersalaman dan berpelukan dengan keluarganya. Bahkan sejumlah jemaah meneteskan air mata.
Dalam sambutannya Bupati Bone, Andi Fahsar Mahdin Padjalangi mengatakan pelaksanaan Idulfitri tahun ini patut disyukuri karena pemerintah mengizinkan salat secara bersama-sama di lapangan dam masjid dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan (Prokes).
Sebab, tahun lalu Salat Idulfitri dilaksanakan di rumah masing-masing karena umat manusia dan dunia terkena dampak dari pandemi Covid-19.
Meski demikian, nikmat batiniah dan lahiriah pada bulan ramadan dan idulfitri ini membentuk karakter yang jujur dan peduli serta memperat silaturahmi yang selama ini sempat terabaikan.
Proses ibadah puasa, kata dia, sebagai bentuk integritas spiritual dan sosial.