Citizen Reporter
Meleburnya Harmoni dan Toleransi di Benua Amerika: Catatan Ramadan oleh Pelajar Indonesia
Ramadan di Athens di tengah indahnya musim semi dengan suhu yang cukup sejuk, yaitu 6-22 derajat celcius.
Penulis: CitizenReporter | Editor: Suryana Anas
Masjid ini merangkul dan membantu warga muslim dengan penuh kehangatan.
Saya beruntung karena masjid ini bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari apartemen. Jamaah bisa shalat tarawih disini walaupun dengan jumlah yang dibatasi.
Masjid ini menyediakan makanan buka puasa setiap hari. Merupakan pengalaman baru bagi saya untuk mencicipi kelezatan beragam hidangan khas Timur Tengah, seperti nasi briyani, nasi kebuli, kari kambing, kofta, dan lain-lain. Porsi yang dibagikan juga lumayan besar sehingga setengahnya bisa saya hangatkan untuk sahur.
Awalnya saya ragu apakah AS merupakan negara yang ramah bagi muslim. Tetapi dugaan itu tertepis tatkala menyaksikan nilai-nilai toleransi dimana-mana.
Saya sedang mengambil jurusan pendidikan matematika dimana sebagian besar teman sekelas saya berkuliah sambil mengajar di beberapa sekolah di Georgia.
Oleh karena itu, di pekan pertama Ramadan, dosen kami menjelaskan beberapa hal tentang Ramadan yang perlu diketahui oleh seorang guru. Misalnya, siswa muslim mungkin lebih cepat lelah karena harus berpuasa di siang hari dan lebih banyak beribadah di malam hari.
Nilai toleransi juga terasa di apartemen saya sendiri. Teman sekamar saya yang berkewarganegaraan Amerika dan non-muslim antusias mendengarkan cerita saya tentang Ramadan.
Dia mengungkapkan kekagumannya kepada muslim yang bisa berpuasa dan tetap semangat beraktivitas selama sebulan penuh.
Dia bertanya jika ada yang bisa dia lakukan untuk membuat saya lebih nyaman berpuasa di tempat yang baru.
Saya tidak bisa berhenti berterima kasih dengan berbagai bantuannya, seperti menemani saya untuk berbelanja keperluan Ramadan, kadang menyediakan makanan kecil untuk saya berbuka, bahkan tidak keberatan jika saya akan agak ribut di dapur pada saat menyiapkan makanan sahur di tengah malam.
Bagaimana dengan makanan halal? Ini pertanyaan yang paling sering saya dapatkan. Saya belum pernah menemukan warung atau toko makanan dengan label halal.
Namun, saya bisa berjalan kaki ke sebuah toko Asia bernama Fooks Foods, lalu memilih bahan makanan yang halal disana.
Ternyata mengenakan jilbab memudahkan. Contohnya, saya pernah memasuki beberapa tempat makan yang pelayanannya langsung menunjukkan bagian menu yang halal.
Jika saya rindu dengan hidangan khas nusantara, saya bisa memesan bahan-bahan atau makanan siap saji dari toko makanan Indonesia yang ada di Atlanta, ibukota Georgia.
Semarak Ramadan di Athens tergambar melalui harmonisasi sesama muslim dan toleransi sesama manusia. Keindahan Ramadan di Athens merupakan salah satu alasan saya untuk terus bersyukur. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ulfa-aulyah-idrus-mahasiswa-master-di-university-of-georgia-athens.jpg)