Breaking News:

Gempa Sulbar

Penyintas Gempa Sulbar Minta Kejelasan Dana Tunggu Hunian

pemerintah menjanjikan para penyintas gempa bumi di Sulbar akan menerima DTH sebesar Rp 500 ribu per bulan selama enam bulan.

Penulis: Nurhadi | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN TIMUR/NURHADI
Salah satu penyintas gempa bumi magnitudo 6,2 saat ditemui jurnalis Tribun Timur di Jl Kelapa, Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, Sulbar, Senin (22/3/2021). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU - Para penyintas gempa bumi magnitudo 6,2 di Kabupaten Mamuju, Sulbar, meminta kejelasan Dana Tunggu Hunian (DTH) yang dijanjikan pemerintah.

Sebelumnya, pemerintah menjanjikan para penyintas gempa bumi di Sulbar akan menerima DTH sebesar Rp 500 ribu per bulan selama enam bulan.

DTH disebut sebagai alternatif pemerintah menyusul ditiadakannya Hunian Sementara (Huntara) bagi warga yang rumahnya rusak total akibat gempa bumi pada 15 Januaril lalu.

Hingga dua bulan lebih bertahan di tenda darurat, DTH yang dijanjikan pemerintah belum ada yang sampai di tengan penyintas, padahal dana tersebut disebut sudah cair dari BNPB ke pemerintah daerah.

Salah seorang penyintas di Jl Kelapa,Kelurahan Binanga, Mamuju, Nur Magfirah, mengaku, hingga saat ini belum pernah menerima DTH sebagaimana yang dijanjikan pemerintah.

"Sampai sekarang, sudah dua bulan tinggal di tenda, mulai dari pengungsian sampai pindah ke reruntuhan rumah membangun tenda belum pernah kami menerima bantuan dalam bentuk tunia dari pemerintah, termasuk DTH yang dijanjikan belum ada sampai sekarang,"kata Magfira saat diwawancarai dalam sesi live report dengan jurnalis Tribun Timur, Senin (22/3/2021).

Magfira berharap bantuan itu tidak hanya wacana atau janji saja dari pemerintah tapi segera dicairkan kepada masyarakat yang benar-benar menjadi koeban gempa bumi magnitudo 6,2.

"Termasuk bantuan perbaikan rumah juga belum ada kejelasan, kalau didata, ia memang sudah, tapi soal kapan cairnya, sampai sekarang belum ada kejelasan,"ujarnya kepada jurnalis tribun timur.

Saat ini, Magfira bersama lima anggota keluarganya tinggal dengan kondisi yang memprihatinkan di bawa tenda darurat berdindin tripleks bekas reruntuhan yang dibangun di atas reruntuhan rumahnya.

"Kita liat sendirimi pak, bagaimana kondisi kami, kalau datang hujan kami basah dan kedinginan, ditambah lagi kalau matahari panas, bahkan sudah gatal-gatal kami pak,"ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved