Breaking News:

Tribun Mamuju

Warga Terserang Penyakit di Pengungsian Makin Bertambah, Sekprov: Terlalu Banyak Makan Indomie

Jumlah warga yang terserang penyakit di tenda pengungsian gempa Sulawesi Barat (Sulbar) semakin bertambah.

sumber posko transisi darurat bencana
Grafik perkembangan penyakit di pengungsian gempa Sulawesi Barat 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU -- Jumlah warga yang terserang penyakit di tenda pengungsian gempa Sulawesi Barat (Sulbar) semakin bertambah.

Terbanyak menderita ispa atau penyakit yang menyerang saluran pernafasan mencapai 1.345 penderita, terdiri dari Mamuju 866 dan Majene 569 penderita.

"Ispa memang penyakit yang paling banyak, di Mamuju Ispa tertinggi begitu juga di Majene,"kata Sekprov Sulbar Muhammad Idris, Rabu (4/3/2021).

Penyakit lain yang paling banyak menyerang pengungsi di Mamuju seperti hipertensi 432 penderita, penyakit kulit 359 penderita, diare akut 243, fever unknown atau demam 243 penderita.

Ili atau penyakit yang serupa influensa 209 penderita, gastiris atau maag 255 penderita, miyalgia atau nyeri otot 216 dan cepalghia atau sakit kepala 163 orang.

Kemudian di Majene penderita cepalghia 194 penderita, febris atau serupa deman 154 penderita, hipertensi 167 penderita, gastiris 152, dermatitis atau penyakit gatal 171 penderita.

Miyalgia 123 penderita, batuk 87 penderita, dispepsia atau ketidak nyamanan perut 142 dan commond cold atau pilek 96 orang.

"Penyakit-penyakit seperti ini mungkin karena warga kita sudah terlalu banyak makan indomie di pengungsian,"ujar Idris.

Kabid Kesehatan masyarakat Dinkes Sulbar, dr. Ihwan mengatakan, ISPA memang selalu menjadi penyakit dengan jumlah tertinggi, meskipun dalam keadaan biasa atau normal.

"Jumlahnya meningkat di pengungsian itu karena faktor kecapeaan,  apalagi dalam musim panca roba seperti sekarang. Hujan lalu panas kemudian hujan lagi,”kata Ikhwan saat dihubungi tribun, Kamis (4/2/2021).

Banyaknya warga terserang penyakit di pengungsian, sangat berpotensi meningkatkan penyebaran Covid 19.

Apalagi, semenjak setelah gempa, disiplin warga terhadap protokol kesehatan di pengungsian semakin berkurang .

"Interaksi juga semakin dekat dan bahkan makin sering berkerumun. Hal itu ditambah dengan banyaknya orang atau relawan ke Sulbar yang sangat terbuka untuk menjadi kanal dalam penyeberan covid,"tuturnya.(tribun-timur.com).

Penulis: Nurhadi
Editor: Sudirman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved